Kekasihku termenung di pojok kamar, dengan kepala bersandar pada dinding dan mata seakan tak memandang apapun. Raut wajahnya tampak begitu sedih, bagaikan menopang sejuta kepedihan. Padahal pagi masih belum terang, ayam-ayam juga masih asyik memejamkan mata.

Aku tak tahu apa yang dipikirkannya. Ingin kucoba menegurnya, tapi aku takut. Aku takut ia mengamuk dan meledak. Aku benci keributan, aku benci pertikaian. Ingin kucoba merangkul dan memeluknya, tapi aku takut ia akan marah dan malah menyerangku. Aku tak ingin menyakiti siapa pun, termasuk diriku sendiri.

Biasanya setelah bangun tidur, kekasihku akan membangunkanku dengan penuh kelembutan dan mengajakku bermain terlebih dahulu. Kami akan tertawa bersama, berguling-guling di atas kasur. Ia tak peduli bagaimana bau napasku, begitu pula aku.

“Tidak usah berpura-pura tidur. Aku tahu kau sudah bangun.”

Aku dikejutkan oleh suaranya. Tak ada pilihan lain saat ini kecuali bangkit untuk duduk di dekatnya. Aku tahu, pasti ada sesuatu yang salah dari diriku.

“Ada apa? Tak biasanya kau murung begini, Sayang.”

“Tak perlu kaupanggil aku sayang jika di hatimu hanya ada internet,” ujarnya sembari memelototkan matanya ke arahku.

“Apa maksudmu?”

“Apa maksudku? Apa maksudmu berlangganan paket internet unlimited yang tarifnya dua puluh persen dari penghasilanmu per bulan!?”

Aku terpelongo, tentu saja.

“Dan kau juga tidak memberitahuku! Tiba-tiba saja, kemarin siang, ada pesan masuk ke dalam diriku dan saat kubuka, ya ampun! Unlimited!”

Mendadak aku tak mengerti dengan pola pikirnya. Apa yang salah dengan paket internet unlimited? Bukankah kalau dikalkulasikan, paket unlimited lebih murah ketimbang bolak-balik mengisi kuota dalam satu bulan?

“Kau mungkin mengira bahwa tak ada yang salah dengan itu semua. Tapi kau tahu apa soal pikiran segenggam ponsel sepertiku, hah!?”

Aku menggeleng. Kubiarkan ia terus mengeluarkan segala yang menyesakkan di pikirannya.

“Dengan membeli paket internet unlimited, itu artinya kau tak bisa lepas dari internet! Kau ingin menghabiskan banyak waktumu dengan internet! Dengan kata lain, kau sangat berketergantungan terhadapnya!”

“Sayang, dengar dulu,” aku menggenggam tangannya dengan maksud meredakan amarahnya. “Bukankah itu artinya aku juga tak bisa lepas darimu?” tanyaku dengan senyuman yang agak dipaksa.

Ia mencampakkan tanganku. Ia pergi ke luar kamar, meninggalkanku sendiri. Pintu dibanting. Di lantai, tetesan air menjadi jejaknya. Itu air mata dari kekasihku. Itu air mata dari sebuah ponsel pintar yang kubeli lewat online shop setahun silam.

Namanya Mi. Memang benar, ia sederhana seperti namanya. Pertemuan Mi dan aku pertama kali terjadi saat sebuah paket tiba di rumahku. Waktu itu aku sangat bersemangat dan bahagia. Tak kusangka, pada akhirnya aku bisa memiliki ponsel sendiri, tak perlu lagi meminjam tetangga untuk menelepon Ibu di kampung, atau tak perlu lagi pergi ke warnet yang kini tak lagi bisa membuka situs dewasa.

Kedatangan Mi di hidupku mengubah segala aktivitasku. Biasanya, ketika bangun tidur, aku langsung bergegas mandi dan menonton TV. Tapi semenjak adanya Mi di sisiku setiap waktu, bangun tidur aku langsung menyentuhnya. Pergi ke tempat kerja, tak lagi ada wajah tak bergairah. Dengan Mi di genggamanku—sungguh, aku menggenggamnya dengan erat—aku menjalani hidup dengan percaya diri dan pikiran positif.

Mi bukanlah sekadar ponsel. Ia hidup. Tentu semua ponsel hidup, maksudku adalah, ia benar-benar bernyawa, memiliki jiwa. Ia bisa berbicara kepadaku dan melakukan segala aktivitas manusia. Bahkan lebih dari itu. Ia jago memasak, melukis, melucu, berhitung, dan banyak lagi. Tapi itulah masalahnya. Ia lupa bahwa yang membuatnya sedemikian hebat adalah internet.

Niat awalku membeli Mi memang bukan semata tertarik padanya, aku akui itu. Aku hanya ingin dapat menggunakan internet sesuka hati. Plus, meringankan segala pekerjaanku. Mi tidak tahu, bahwa di luar sana, ada banyak ponsel seperti dia dan bahkan lebih dari dia! Ia harusnya bersyukur, sebab aku memilih dirinya. Ya, selain ia paling murah di antara saudaranya, kebutuhanku juga tidak muluk-muluk. Aku hanya ingin internet. Aku tak butuh kamera yang dapat mempercantik wajahku, aku tak butuh prosesor canggih yang dapat memuaskanku dalam bermain game. Aku hanya butuh ponsel seperti Mi.

Aku tahu, pasti sekarang Mi sedang merajuk. Ini bukan pertama kalinya ia merajuk. Ia pernah merajuk perkara aku terus mengajaknya bermain di saat ia sedang mengisi dayanya. Pernah juga ia merajuk lantaran aku melampiaskan amarah dari tempat kerja ke dirinya dengan cara membantingnya ke lantai. Dan kali ini, perihal internet.

Barangkali pada waktu sebelumnya, ia berusaha tetap sabar. Ia berusaha menahan diri saat terus melihat diriku asyik berselancar di internet. Barangkali juga selama ini senyum dan tawa yang ia tunjukkan padaku adalah palsu. Ia hanya ingin membuatku senang, dan pada akhirnya, tetap saja, keegoisanku semakin manja dan aku hanya ingin dimengerti, tapi enggan mengerti orang lain. Enggan mengerti kekasih sendiri.

Di luar, tak ada tanda-tanda keberadaan Mi. Aku sudah mengecek dapur, ruang TV, kamar mandi, halaman depan, halaman belakang, atap rumah. Aneh. Ke mana perginya ponsel pintar buatan Negeri Panda itu?

Maka, di pagi gelap yang masih dingin, aku turun ke jalan. Berlari, memanggil-manggil namanya. Sepi, tak terlihat siapa pun. Lampu-lampu jalan masih setia mengiringi langkahku. Sial! Kenapa jadi begini? Mi harusnya sadar, bahwa butuh kerja keras untuk dapat membelinya!

“Mi, apakah itu kau?”

Di saat aku terduduk lesu, terlihat bayangan Mi di hadapanku.

“Apakah kau mencariku?” tanyanya datar.

“Tentu saja, Sayang! Aku sangat membutuhkanmu! Aku tak mau kehilanganmu!”

“Apakah kau bersungguh-sungguh dengan ucapanmu barusan?”

Aku mengangguk cepat berulang-ulang.

“Kalau begitu, kemarilah. Peluk aku dan bawa aku pulang.”

Kami berpelukan, di bawah sinar lampu jalan, dan diikuti pula dengan kokok ayam jantan. Syukurlah tidak sesulit yang aku bayangkan. Terkadang, hanya butuh kata-kata manis untuk dapat memperbaiki keadaan.

Setiba di rumah, masih dalam suasana gembira, bergegas aku bermain di tubuh Mi. Kuperhatikan terlebih dahulu sekujur tubuhnya. Ternyata, tak ada luka atau goresan baru. Semua goresan lama. Kemudian, kunyalakan layar di tubuhnya. Ia masih terlihat bahagia dan senyumannya sunggub berbeda dari sebelumnya. Itu senyum penuh ketulusan.

 “Sayang, kenapa di sini tertulis ‘tidak ada jaringan’?”

Entah bagaimana, senyumannya berubah menjadi senyuman nakal.

“Apa yang kau lakukan?”

“Coba tebak.”

“Apakah kau membuang kartunya?” Ia mengangguk.

Seketika, kepalaku terasa mendidih.

Bayangkan, kartu itu baru kubeli kemarin beserta paket internetnya yang belum sedikit pun kugunakan. Kemudian, ponselmu sendiri membuang kartu itu tanpa perasaan bersalah! Tak butuh waktu lama bagiku untuk mengangkat Mi dan mencampakkannya ke luar. Jauh, jauh, sangat jauh, sehingga ia tak dapat lagi menemuiku dan aku pun tak mau lagi melihatnya. Ia berteriak histeris, dan aku tak peduli. Tak ada siapa pun yang dapat menolongnya. Ponsel seperti Mi, memang harus diberi pelajaran. Kelak ia sadar, bahwa ponsel sepintar apa pun tanpa internet adalah sampah.

Profil Penulis

Nanda Insadani
Nanda Insadani
yang bukan siapa-siapa ini lahir di Medan. Gemar membaca dan berpikir. Kumpulan cerpennya, Ketakutan Seorang Penulis Miskin, akan segera terbit.
Tulisan yang Lain
Hosting Unlimited Indonesia