Dari kejauhan aku sedang memusatkan perhatianku pada seorang wanita yang sedang duduk, tertunduk dengan ponselnya di sebuah bangku—di sudut jalan persimpangan. Lewat balik gurat kaca ruangan remang ini aku memantau gerak-geriknya. Aku bisa melihatnya leluasa dari tempat ini.

Kafe itu berada di sebelah timur, sekitar 5500 sentimeter dari tempat duduknya wanita itu. Sudah tiga hari aku menerapkan pola yang sama untuk melakukan tugasku; menguntit. Entah kenapa dia selalu berada di tempat itu selama tiga sore terakhir.

Dan, selama itu aku juga belum berani memastikan sedang apa ia di sana sebenarnya. Aku masih mencari tahunya. Dalam tugas ini, aku tidak boleh terburu-buru mengambil langkah tanpa hitung-hitungan yang matang.

“Ini orangnya, dokumen-dokumen petunjuk juga sudah disiapkan untukmu,” kata atasanku, “Kamu harus mulai besok lusa.”

Seorang perempuan dengan rambut sebahu dengan mata yang terang dalam selembar foto hitam-putih adalah targetku. Setumpuk dokumen yang kuterima adalah informasi pendukung, berupa identitas hingga sosok-sosok lain yang diduga berkaitan dengannya. Dan, saat ini aku sedang memperhatikan perempuan itu,—menurut berkas yang kuterima—sebut saja ia: Maria, 23 tahun.

Tapi, apanya yang dokumen pendukung? Aku tidak pernah sempat membayangkan atau mengasumsikan jika secarik kertas berukuran A4 dalam map-amplop yang megah itu hanya bertuliskan nama seseorang dengan dengan dua digit angka yang dihiasi gambar foto persegi berukuran 6×6 cm. Yang ada; justru aku yang diperintah untuk mendukung kelengkapannya.

“Apa-apaan ini?” pikirku. Aku kecewa. Ini jelas merepotkan.

Aku keluar dari ruang yang tidak tahu malu itu. Dengan cara yang paling persetan, aku melangkah dengan kaku. Menduduk, meratapi apa yang membuatku panik. Setidaknya untuk saat ini. Melintas dengan cara yang paling liar di kepalaku. Berdesis ganas seolah ingin mengkhianati: Bagaimana jika orang itu sebenarnya tidak pernah ada di dunia ini?

Maria masih memandang ke arah yang sama. Matanya masih terang memancarkan kepulan sinar akibat pantulan piijar dari meja favoritku. Wajahnya pun masih sama. Sial. Sial! Foto ini terlihat menyeramkan. Orang yang berada dalam persegi itu sendirian. Di sana, entah kenapa separuh lengannya terpotong. Tapi, kenapa ia tersenyum? Maria, kenapa kau tersenyum? Apa kau gembira dengan itu?

“Hei, kamu bisa selesaikan itu, bukan?” Lagi, suara yang memerintahku itu terdengar lagi. Dari balik pintu.

Aku bingung kenapa atasanku ini cuma bisa memerintah. Memerintahku, lebih tepatnya. Bos macam apa yang hanya bisa memerintah? Terlebih, hanya aku yang diperintahnya. Padahal masih banyak orang-orang di luar pintu ini. Aku sendiri masih heran kenapa tidak ada orang lain yang direkrutnya selain aku. Kenapa bukan orang lain?

Tapi, seperti yang kalian tahu. Saat ini, belum saatnya untuk kembali mencemaskan itu. Mencemaskan keheranan yang selama ini menjajah. Memberangus kebebasanku. Paling tidak, bukan saatnya untuk memikirkan hal itu. Ada satu tugas yang harus aku selesaikan; dengan segera. Karena itu pula, aku perlu memendam jati kebebasanku yang sebenarnya perlu kuuntit.

“Kau belum menjawab, Tuan,” ujarnya lagi. “Kau mengabaikanku?”

“Oh, tidak,” reaksiku, sekenanya. “Aku tidak bermaksud begitu.”

“Lalu, apa ada masalah?”

“Tidak, tidak sama sekali… Hanya saja…”

“Apa? Oh, kau masih ragu dengan perintahku?”

“…” Aku terdiam seperti bangsat yang dikutuk sebagai patung. Lagi-lagi dihadapannya.

“Hanya diam, heh?” Wajahnya mengernyit. Aku tahu ia mengejekku. Wajahnya seolah menampakan tumpukan dahi yang renta. Berlipat-lipat dengan kerut yang menyebalkan. Bagaimana bisa Tuhan menakdirkan jiwaku bersekutu dengan orang yang tidak mempercayai dongeng-dongeng moral macam dia?

Ia berbicara lagi, “Kau pasti bisa menemukan orang itu.” Masih dari balik pintu yang sama, “Lagipula, mana ada orang yang tidak bisa kautemukan di zaman yang murahan ini.”

“Baik, saya mengerti,” kuakhiri dengan gestur anggukan. “Saya tidak akan mengecewekan Anda.”

“Baguslah, kamu masih punya waktu untuk benar-benar menlenyapkan keraguan,” ujarnya. “Segera bergegas, aku membutuhkan hasil secepatnya—kamu tahu itu kan, Nak?”

Sekadar mengangguk, aku memutar fokus pendengaran ke arah yang searah dengan titik pandangan. Beberapa langkah lurus untuk segera keluar dari tempat ini. Dari cermin berbingkai itu aku keluar, kembali ke dalam ruangan petak bercahaya remang. Meskipun kekalutanku masih belum benar-benar habis, aku memilih menutup cermin itu. Begitu juga mataku.

*  *  *

Keesokan paginya, aku terbangun dengan kondisi yang belum bugar benar. Benakku masih dibebani sebuah perkara yang belum kumulai. Pikiranku masih berkelana, bahkan sejak aku dihempas oleh gelombang REM tadi malam. Tanda tanya tentang wanita itu—si Maria itu—berkecamuk di kepalaku. Padahal, jadwal pencariannya tiba esok hari.

Mataku masih sayu mempertahankan sikapnya. Aku menolak menurutinya, cermin terang itu kembali kubuka. Bintang-bintang malam tengah berusaha melepaskan diri dari dahinya sisa semalam. Aku mengelapnya namun ia enggan, menolak penolakanku sendiri. Keringat mengalir, kilap di ruang remangku yang pengap. Sial. Ia hanya menyuruhku bertahan. “bersabarlah, Tuan”, raungnya tipis.

Begitu banyak waktu yang habis. Dengan keyakinan buyar tanpa tumpu. Memikirkan konsep dalam mengurusi perkara. Penetrasi ini membuatku kian kalut, tapi persiapanku masih belum ada apa-apanya. Cermin itu sama sekali tidak membantu. Ditambah lagi dengan tidak adanya instruksi lanjutan akan hal ini.

Waktu yang sama, aku terduduk di depan meja rias, tempat orang-orang mencitrakan dirinya itu. Haus akan puja-puji, elu-elu simpatisan, dan menjaring banyak pengikut. Ke mana atasanku itu di saat-saat krusial begini? Terbengkalai di tengah-tengah keremangan ini? Aku masuk dalam cermin, mencari berkas-berkas pencarian lamaku di ruang arsip. Semoga daftar nama-nama lama mampu memberiku keyakinan: Maria, orang itu akan ada. Terbentuk atau entah, mungkin membentuk dirinya ketika pencarian mulai dilakukan.

Ah, iya! Dengan mencium bau berkas-berkas lama itu: tanda tanya besar jadi tanda seru. Kulihat atasanku tersenyum masam tiba-tiba. Di depan wajahku. Samar namun begitu dekat. Mana mungkin ada orang yang tidak bisa kutemukan di zaman yang murahan ini? Yang penuh dengan ilusi-delusi, kepalsuan, pura-pura, dan ucapan-ucapan yang lebih terlihat seperti sampah-sampah visual—selebaran yang diumbar layaknya polusi. Jejeran omong kosong yang hanya berbicara tentang diri mereka sendiri. Jika memang tidak ada, akan kubuat sendiri bila perlu.

Tapi, ya sudah. Aku tidak perlu melihat variabel ini sebagai masalah. Sebagai penguntit, kita hanya perlu mengikuti pola yang begitu fluktuatif. Aku hanya perlu berempati dengan adiksi-adiksinya. Para penguntit diwajibkan untuk mampu bersikap simpati dengan semua halusinasi kegembiraan yang mengkhawatirkan saat ini.

Operasi akan kumulai dini hari nanti, lebih awal dari jadwal yang sudah ditentukan. Aku terlalu bersemangat. Pencarian akan kupercepat. Aku rasa atasanku akan antusias dengan inisiatif ini. Baik, akan kulakukan dengan penyamaran serta identitas palsu, tentunya. Cermin kututup, meja rias kuberi dandanan yang rapi setelahnya.

*  *  *

Di sore selanjutnya, wanita itu bersama dua temannya kuperhatikan sedang tertawa di sebuah taman. Mereka duduk di sebuah bangku panjang. Tepat dibelakangnya terdapat lampu berbentuk bola yang disangga tiang vertikal setinggi bahu orang dewasa.

“Dua sahabatku,” katanya. Aku langsung mengetahui nama keduanya, walaupun sebenarnya; aku tidak pernah bertemu sebelumnya apalagi sampai mengenalnya. Demi kerahasiaan, aku tidak akan menyebutkannya di sini.

Selang 23 menit setelahnya, aku sudah bisa melihatnya dengan tampilan yang jauh berbeda dari sebelumnya. Kini Maria sendirian, setidaknya itu yang aku lihat. Ia mengenakan kaos putih polos dengan balutan cardigan berwarna pastel kecoklatan. Lebih mempesona, kupikir. Walaupun rambut hitamnya menutup sebagian mata kirinya.

“Tempat favoritku,” Maria duduk sedikit menunduk dengan buku yang warna sampulnya senada dengan kaos yang dikenakannya. Mungkin ia memakai celana berbahan jeans. Aku hanya menebak, karena bagian bawah tubuhnya tertutup oleh pucuk meja datar yang cukup luas untuk dikuasainya sendiri.

Tapi, ada satu hal yang aneh. Bagaimana bisa tempat itu disebutnya tempat favorit? Padahal tempat ia menikmati buku dengan senyuman yang dibuat-buat itu bukanlah kafe yang ia diami selama 72 jam non-stop tiga hari lalu. Tempat itu jelas berbeda dengan yang kemarin, bahkan dari semua sisi.

Ada langit gelap dengan potongan bulan sabit di luar jendela besar, persis di belakang tubuhnya. Untuk memastikan, aku mencoba berkeliling di tempat itu. Tidak ada jejak yang menunjukkan jika Maria pernah ke sini sebelumnya.

Karena penasaran, nama kafe itu kumasukan dalam daftar pencarian. Bukannya jawaban soal Maria yang kudapat, hasil melihat-lihatku sejak tadi hanya mengumpulkan setumpuk pengumuman lowongan kerja yang sedang dibuka oleh tempat itu. Tak da tanda soal Maria pernah ke sini sebelumnya. Sudahlah, menurutku, ia sedah jatuh cinta pada pandangan pertama.

Kamarku masih remang, sudah empat jam aku mengawasi wanita itu. Posisinya tidak berubah. Masih sama sejak pertama kali aku dapati dia di sini. Selama itu pula, senyum, cangkir kopi beserta buku yang dipegangnya; sama sekali tak bergerak. Gila, padahal sudah sekian kalinya aku bergerak merubah posisi. Gila!

Jam menunjukkan pukul 17.03. Itu berarti, empat jam dua puluh satu menit sudah dia mematung di sana. Aku menyerah. Aku beranjak meninggalkan gelas air dingin di meja riasku, menutup cermin, menyibak tirai jendela, dan mematikan remang kamar kemudian. Siang itu cerah, langit sudah mengambil ancang-ancang merubah warnanya menjadi jingga. Satu jam lagi matahari mulai kehabisan tenaga.

*  *  *

Matahari telah beristirahat. Atasanku belum menagih perkembangan. Aku kembali duduk. Dengan sedikit hentakan telunjuk, cermin kembali kubuka. Pengejaran Maria mulai dilanjutkan. Nama target kumasukan dalam pencarian.

Tidak butuh waktu lama, aku mendapatinya. Lagi. Tapi, entah kenapa yang kusaksikan hanyalah kegelapan. Tidak ada penampakan Maria di sana. Hanya hitam yang gelap. Rupanya, baru dua menit dia berada dalam kepekatan itu.

“Hi, stalkers!” Tanpa sosok, wanita yang kuikuti itu mengatakannya.

Aku kaget melihat itu, tentu. Bagaimana bisa? Apa mungkin Maria sudah mengetahui bahwa dirinya diawasi? Bagaimana mungkin? Tanda tanya besar lagi-lagi berkeliaran ganas di kepalaku.

“Apa kau mengetahuiku?” tanyaku. Cemas.

“Tidak,” jawab Maria. “Siapa, ya?”

Aku diam. Begitu juga atasanku.

Profil Penulis

Harry Azhari
Harry Azhari
Seorang Mahasiswa bergolongan darah AB yang garis tangannya berpola ABSTRAK
minimalis kontemporer.
Hosting Unlimited Indonesia