Tiga jam lima puluh delapan menit lagi aku akan pergi dari tempat ini jika bus tiba tepat waktu. Bagi orang-orang yang memiliki kemampuan verbal cemerlang, waktu sebanyak itu dapat digunakan untuk berbincang dengan seseorang. Dan terkadang aku perlu mencobanya.

Hal pertama yang akan aku lakukan adalah mencari lawan bicara dan selanjutnya membuka perbincangan—misalnya dengan bertanya “mau kemana, Pak?” atau “Pak, mau ke Karawang juga?” itu adalah cara pembuka paling klise di muka bumi. Sebenarnya aku punya cara lain untuk memulai percakapan: yaitu dengan meminjam korek api untuk menyulut satu batang rokok walau sebenarnya di saku depan celana jeans-ku tersimpan korek api. Kemudian aku akanbertanya “mau kemana pak?” Kemudian supaya obrolan lebih menarik aku akan membahas tentang golongan hewan-hewan pendukung raja-raja atau aku akan bertanya “siapa yang paling tajam antara Van Nisteroy dan Dell Piero?” dan seterusnya. Jika lawan bicaraku malah membuat telinga gatal, maka aku akan mencoba untuk tidur karena tengah malam memang sewajarnya digunakan untuk beristirahat. Namun aku sedang bermasalah dengan perut. Perutku terus mengeluarkan suara pales sejak berada di terminal. Maka aku tidak melakukan apapun selain duduk termangu menunggu bus datang.

“Matamu akan cepat lelah ketika lama menatap lampu, Rus,” aku ingat apa yang diucapkan Lul. “Saat itu, silau akan membuatmu tidur lebih lelap.” Lul terdengar seperti manusia penakut.

Aku tidak tertarik untuk melakukan itu.

Mataku melirik ke arah lain ke tempat berhentinya bus bertuliskan Surabaya-Jakarta di atas tengah kaca depan tepat di sebelah kiri atas kepala si supir yang sedang memegang rem tangan di dalam bus. Aku berpaling sedikit ke sebelah kiri bemper bus itu, nampak orang tua berpakaian cumpang-camping—seperti seragam Nazi sehabis perang—terhenti di depan warung. Ia mengucapkan kalimat samar seperti komat-kamit dengan wajah berseri. Aku menduga; “kemungkinan ia gila.” Pada jam rawan seperti ini adalah wajar jika orang tua itu merasa lapar karena kantuk belum sampai menyentuh mata atau bisa saja sebaliknya.

Sekitar dua jam dua puluh tiga menit yang lalu aku memperdebatkan orang gila dengan manusia tengil bernama Lul. “Kamu tidak boleh mengganggu orang gila.” Kataku berbisik kepada Lul ketika kami berdua sedang berhadapan dengan orang gila. Sialnya, Lul malah sengaja mendekati orang gila dan menatap wajahnya. Orang gila itu lantas marah lalu menyembur Lul dengan caci-maki. Aku melihat butiran air liur orang gila itu berhamburan dari mulutnya. Kami segera menghindar karena ketakutan.

Pada saat itu yang ada di benakku hanya ada dua pilihan: Pertama, kami akan lari berpisah hingga salah satu dari kami tertangkap lalu dihajar oleh orang gila. Aku tau orang gila mempunyai tenaga cukup besar untuk menghajar salah satu dari kami atau lebih tepatnya karena ia kehilangan akal maka ia tidak akan cepat merasakan lelah sehingga salah satu dari kami selesai. Salah satu dari kami selamat tetapi tidak di tempat ketika salah satu dari kami dihajar. Kedua, kami akan lari tidak berpisah namun jika sampai salah satu dari kami tertangkap, maka kami harus melawan sampai kami lolos, lalu kami sadar sedang menjadi tontonan orang-orang. Aku tidak yakin ada yang sudi menyentuh orang gila (karena aku menduga kebanyakan orang gila tidak pernah mengelap bekas tahi yang dikeluarkan oleh bokongnya) untuk sekedar memisahkan pertarungan kecuali salah satu dari kami yang melakukannya.

“Kamu sebaiknya tak usah penasaran pada pandangan orang gila. Orang gila akan terganggu oleh pandanganmu. Orang gila akan lebih berbahaya dari orang waras.” Aku sembur wajah Lul. Kami menghentikan langkah karena orang gila itu ternyata tidak mengejar kami.

“Rus, jangan naif begitu,” Lul mencampurkan tawa ketika menimpaliku seolah-olah yang terjadi hanya sebuah lemparan buntalan kertas sebesar upil yang mendarat di kepalanya. “Pada prinsipnya orang gila yang berpura-pura gila adalah musuh Negara nomor satu, itu yang berbahaya! Orang gila yang aku tatap tadi, tidak!”

Aku tahu, Lul mengambil kalimat itu dari orang tua pengrajin naskah drama.

”Heh, berengsek, kamu mau kita dihajar oleh orang gila dan jadi tontonan orang sini? Lalu seseorang akan lapor polisi dan kemudian kamu diintrogasi?”

“Rus, orang gila, kan, punya hati. Dia pasti akan bernegosiasi dengan dirinya sendiri. Lagi pula apa untungnya orang gila itu ngejar-ngejar orang seperti kita?” kata Lul.

Aku tidak menyanggah atau menjawab Lul karena memang tidak ada yang perlu dibantah. Setidaknya, tidak ada perang mulut walaupun Lul mengetahui kalau aku takut kepadanya.

Tanpa aku sadari bus tujuan Ciamis-Bekasi sudah berhenti di arah selatan menurunkan beberapa penumpang berwajah kusut—seperti kain lap bekas membersihkan remeh nasi beserta tumpahan air kobokan di warung pecel tempat Lul dan aku makan sekitar satu jam tiga puluh empat menit yang lalu. Aku menyaksikan seorang ibu separuh baya menuruni tangga bus menenteng koper Pollo hitam menggunakan tangan kanan sedangkan tangan kiri digunanakan untuk mendekap payung berwarna merah muda. Aku ingin bertanya kepada ibu separuh baya itu, barangkali ia berasal dari tempat yang sama dengan Lul? Sebab di tempat tinggal Lul orang-orang perlu membawa payung.

Di tempat kami makan setelah dimarahi oleh orang gila, aku memberanikan diri bertanya kepada Lul.

“Lul, kenapa kamu jadi copet?” aku berbisik kepada Lul.

“Sini Rus dekatkan ceuli-mu itu, biar aku beritahu jawaban paling klise kenapa aku jadi copet.”

“Apa?” aku mendekatkan daun telingaku pada bibirnya.

Yang Lul katakan pada saat itu adalah; “supaya orang-orang ceroboh sepertimu selalu waspada. Beberapa pencopet di dunia ini bak Robin Hood, kedatangannya ditunggu-tunggu oleh keluarga. Kamu tidak usah alergi kepada orang melarat sepertiku.”

Sebenarnya aku hanya perlu memesan segelas teh atau kopi yang telah diseduh. Selain untuk menghangatkan badan juga sebagai ‘obat kesepian’. Nahasnya uangku hanya cukup untuk membayar bus tujuan Karawang kerena si bajingan Lul mencopet isi dompetku sehabis ku telaktir makan.

Terminal di malam hari sepi pengunjung. Hanya ada beberapa orang duduk termangu menunggu jemputan datang. Terminal adalah tempat berkumpulnya luka, baik sementara atau selamanya. Kau akan sering menemukan pemandangan seseorang yang wajahnya muram di terminal. Aku hendak menyulut satu batang rokok terakhir tetapi arloji di tanganku menunjukan pukul tiga lewat tiga menit. Artinya dua jam dua puluh tujuh menit lagi bus akan tiba jika tidak terlambat. Ku urungkan kesempatan membakar rokok karena waktu masih panjang.

Profil Penulis

Fahad Fajri
Fahad Fajri
Lahir 28 Januari 1996 di Karawang. Sedang menempuh pendidikan strata satu Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di Universitas Singaperbangsa Karawang. Menyenangi bacaan bergenre prosa fiksi dan puisi. Dapat dihubungi melalui fahadfajri26@gmail.com .
Hosting Unlimited Indonesia