Aku baru beli mobil itu kemarin dan hari ini benda yang punya fungsi sampingan sebagai penggaet hati mertua itu sudah tidak lagi berada di tanganku.

            Tidak penting kau tahu apa merek, warna, klasifikasi, atau berapa harga mobil tersebut. Sebab, jika aku menceritakan semua itu padamu, takkan lantas menjadikan mobil itu kembali padaku. Kau hanya pembaca cerpen. Kontribusi maksimal yang dapat kau berikan untukku paling-paling hanya bersimpati atau mendoakan dari kejauhan (tapi, apakah doa dari seorang pembaca cerpen kepada seorang tokoh cerpen ada gunanya?). Dan aku tak mengharapkan seluruh kesia-siaan itu. Kalau boleh, aku hanya ingin kau membaca ceritaku sampai habis. Paling tidak, kau mau menyimak kisahku dan mengapresiasi tuturanku sekalipun aku sebatas tokoh fiksi.

            Harus kuberitahu padamu, aku bekerja keras bertahun-tahun mengumpulkan uang untuk membeli mobil itu. Selain itu, demi mencapai cita-cita pembelian benda yang oleh banyak orang dijadikan lambang ketajiran, aku terpaksa melakoni hidup hemat yang ekstrem. Aku tidak tahu apakah yang kulakukan ini luar biasa atau biasa-biasa saja bagimu: aku berpuasa daud selama bertahun-tahun tanpa henti dan aku tidak pernah membeli sesuatu pun kecuali yang berharga sangat murah atau sedang dirabat. Semua itu kulakukan hanya demi mobil, benda beroda empat yang tak besar-besar amat dan tidak akan bisa berjalan tanpa peran penggali sumur-sumur minyak.

            Sebenarnya cita-cita membeli mobil itu bukan murni kemauanku. Aku tidak berasal dari keluarga kaya raya sehingga aku pun sadar diri untuk tak bermimpi kelewat muluk. Membeli mobil, kupikir, salah satu mimpi yang kelewat muluk untuk orang-orang sejenisku. Jangankan mobil, sekadar beli mobil-mobilan pun sulitnya bukan main. Aku ingat, dulu ketika diajak ibu ke pasar dan aku merengek minta dibelikan mobil-mobilan ketika melewati penjual mainan, bukannya lekas meminang mainan itu untukku, ibu malah memarahiku. “Kamu jangan minta yang bukan-bukan. Harga belanjaan ibu saja lebih murah dari harga mainan itu!” seru ibu sambil memperlihatkan dua bungkus plastik berisi sayur-mayur dan sembako di kedua tangannya.

            Aku bertekad membeli mobil karena seseorang. Tepatnya seorang perempuan cantik bernama Velisa yang kujatuhcintai semenjak awal melihat wajahnya. Kau tahu Raisa Andriana? Kau tahu Emma Watson? Ketahuilah paras Velisa adalah kombinasi nan paripurna antara Raisa dan Emma. Jelas saja aku kepincut sejak pada pandangan pertama. Aku berjumpa dengannya di satu restoran kota S ketika aku mendapat tugas kerja ke luar kota dari kantorku (penting kau tahu, kendati aku terlahir dari keluarga yang kurang beruntung—aku benci sebutan miskin, karena toh nasib bukan soal kaya atau miskin, tapi lebih kepada beruntung dan tidak beruntung saja—aku memperoleh kismat baik karena aku berhasil sekolah hingga sarjana dan menjadi karyawan tetap di suatu perusahaan ekspedisi). Ia perwakilan dari kantornya yang bertempat di kota J. Kami berkenalan, bersalaman, dan berbagi senyum. Senyumannya bagai sekolam air dingin berwarna pelangi—menyegarkan dan memesona.

            Aku bukan jenis orang yang suka memendam perasaan, karena itu, hanya satu hari selepas perjumpaan itu, aku mengajak Velisa bertemu berdua di restoran yang sama. Aku mengutarakan isi hatiku. Ia tidak mengiyakan atau menolakku. Ia tersenyum ramah persis seperti pramugari yang mencoba menghiburmu ketika pesawat terlambat lepas landas. Dan senyumannya, selain sebagai sekolam air dingin berwarna pelangi, rupanya juga menjadi api bagi lilin yang bercokol di dalam dadaku—membakar dan membuatku meleleh.

            Setelah senyuman itu sempurna membakar dan melelehkanku, ia berkata pendek, lembut, dan masih akan terus kuingat mungkin sampai mati, “Aku mau menerimamu sebagai kekasihku dengan satu syarat: belikanku sebuah mobil.” Anehnya, aku menurut dan mengangguk saja. Padahal yang ia minta adalah hal yang besar, hal yang bahkan tak pernah masuk dalam daftar mimpiku. Permintaannya bukan sekuntum bunga, sebuah boneka, atau sebungkus permen warna-warni, yang dapat kubeli dengan mudah. Tapi pada satu sisi aku rada bersyukur juga sebab Velisa tidak meminta dibuatkan seribu candi seperti Roro Jonggrang atau dibuatkan perahu besar dan danau dalam waktu satu malam seperti Dayang Sumbi. Namun, bagaimanapun sebuah mobil tetaplah sebuah mobil, barang yang kelihatannya mustahil terbeli oleh seorang karyawan biasa dan bukan anak saudagar sepertiku.

            Ternyata ada benarnya juga ungkapan para pujangga itu bahwa demi cinta aku sanggup mendaki gunung dan menyeberangi lautan. Dalam kasusku, demi cinta aku sanggup membeli sebuah mobil. Kadang aku tidak percaya mobil itu akhirnya bisa kubeli. Kadang aku tidak percaya aku sanggup menjalani hidup bak rahib nan zuhud bertahun-tahun. Kadang aku tidak percaya Velisa akhirnya akan menjadi kekasihku.

            Sebelum berhasil membeli mobil, aku dan Velisa berhubungan jarak jauh sebagai teman biasa. Ia tinggal di kota J, aku tinggal di kota K. Jika kota-kota di negara kami disusun berdasarkan abjad, jarak kami dekat saja, tapi kenyataannya tidak demikian. Kota J dan K berjarak ratusan kilometer, dipisahkan oleh kota A, F, M, dan seterusnya. Selama menjalani hubungan sebagai teman jarak jauh itu, aku dan Velisa rutin bertemu beberapa kali tiap tahunnya. Dari waktu ke waktu, derajat kecantikannya tidak pernah bergeser sedikit pun. Dari waktu ke waktu, rasa cintaku semakin melimpah-limpah kepadanya.

            Hingga tiba hari itu, hari ketika aku berhasil menebus sebuah mobil baru dari showroom dekat kantorku. Teman-temanku berdecak ketika mengetahui aku membeli mobil. Apalagi teman-teman perempuanku, yang tingkahnya mendadak centil kepadaku. Aku heran dengan sikap mereka, sebab yang kubeli sebuah kendaraan bukan ajian pemikat wanita.

            Aku tidak mau berlama-lama, satu hari setelah mobil itu resmi milikku dan terparkir manis di pelataran rumah sewaku, aku menyampaikan kabar bahagia itu kepada Velisa. Di seberang telepon, kudengar Velisa berteriak histeris dan bukan tidak mungkin melompat-lompat kegirangan. Aku bahagia mengetahui dirinya bahagia. Bukankah semestinya memang begitu jika kita mencintai seseorang?

            Selain mengumpulkan uang untuk biaya beli mobil, bertahun-tahun itu aku juga berlatih menyetir mobil secara berkala. Jadi, aku tidak perlu menyewa siapa pun atau menggunakan jasa pengiriman barang untuk menyerahkan mobil permintaan Velisa kepada Velisa yang tinggal di kota yang jauh. Saat itu hari libur dan aku menyetir selama berjam-jam menuju kota J, menuju kota tempat calon kekasihku bermukim. Aku berangkat dengan dada membuncah dan percaya atau tidak aku tersenyum hampir sepanjang perjalanan sembari membayang-bayangkan sosok Velisa. Bahkan ketika para pengendara lain marah-marah dan beradu klakson di tengah kemacetan, aku tetap bergeming dalam kebahagiaan personalku.

            “Kita bertemu di mal biasa saja,” kata Velisa dan tentu saja aku manut. Kalau diingat-ingat, aku belum sekalipun mengunjungi rumah Velisa. Aku dan ia bertemu selalu di restoran, tempat wisata, mal, dan tempat-tempat apa pun selain rumahnya. Aku juga tidak pernah memaksa untuk menemuinya langsung di rumahnya. Sebab yang ingin kujumpai adalah Velisa, bukan rumahnya.

            Setibanya di mal yang telah kami sepakati, Velisa telah tiba di tempat parkir lebih dulu daripada diriku. Ia menyambutku dan melemparkan senyuman manisnya padaku. Menanyakan kabarku, menujukan perhatiannya padaku lain dari biasanya. Sikapnya tampak berlebihan dan dibuat-buat, tapi aku tetap tak mampu membendung lonjakan kegembiraanku mendapati perilaku seperti itu dari Velisa.

            Baru saja aku keluar dari mobil, ia langsung meminta kunci mobil padaku. Tentu saja aku memberikannya. Tanpa ba-bi-bu, ia membuka pintu mobil, menyalakan mesin, dan menjalankan mobil ke luar parkiran.

            “Terima kasih, ya. Sekarang kamu kekasihku,” ucapnya melenggang pergi.

            Itu peristiwa kemarin. Setelah momen itu, hingga sepanjang hari ini (dan mungkin hari-hari setelahnya) ia tak bisa lagi kuhubungi. Aku memaki-maki dalam hati dan mendoakan sesuatu yang buruk baginya. Tapi, apakah doa seorang tokoh fiksi itu makbul? (*)

Bandung, Oktober 2018

Profil Penulis

Erwin Setia
Erwin Setia
Lahir tahun 1998. Penikmat puisi dan prosa. Kini menempuh pendidikan di Prodi Sejarah dan Peradaban Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di berbagai media seperti Koran Tempo, Media Indonesia, Pikiran Rakyat, Minggu Pagi, Solopos, Haluan, Koran Merapi, Litera.co.id, dan Cendana News.
Hosting Unlimited Indonesia