-setelah membaca cerpen Raymond Carver

Setelah selesai membaca cerpen, lelaki itu mengalami perasaan yang aneh. Seperti rasa haus. Namun di saat yang sama, ia tidak yakin bahwa ia benar-benar merasa haus.

“Apa maksudnya?” Kata si lelaki. Bisa dibilang baru kali ini ia membaca satu cerpen dengan utuh, satu cerpen dengan judul yang diangkat menjadi judul buku.

Bukan tanpa alasan ketika si lelaki langsung memilih untuk membaca cerpen itu. Baginya, judul cerpen itu cukup aneh. Meskipun dulu ia tidak kuliah di jurusan sastra dan tidak tertarik dengan karya fiksi, ia merasa kalimat yang digunakan judul cerpen itu sangat boros, hal itulah yang akhirnya menarik perhatian si lelaki.

Perempuan itu menghentikan usapan jempol pada layar telepon pintar, lalu menatap si lelaki dengan malas. “Ya, entahlah. Menurutmu apa?”

“Hmm,” si lelaki terdiam sambil membolak-balik buku itu. Ia rasa sampul depan buku itu begitu manis, gambar sebuah rumah berwarna merah muda dengan latar berwarna biru gelap. Tertulis di samping rumah itu, International Bestseller. Ia baca tulisan di sampul belakang sekenanya, Cerpenis Amerika yang Digandrungi. “Kan kamu sering nulis cerpen juga, pasti bisa dong jelasin cerpen ini. Lagian buku ini kan punya kamu.”

Perempuan itu tidak menggubris pertanyaan si lelaki. Ia kembali mengusap telepon pintarnya.

Si lelaki membaca ulang cerpen yang sama, hingga pada satu bagian, ia sengaja melantangkan suaranya. “Dan parahnya, sekali lagi parahnya, tapi ada baiknya juga, katakanlah berkahnya, bahwa kalau sesuatu menimpa salah satu dari kami⸻maaf kalau aku bilang begini⸻tapi kalau sesuatu menimpa salah satu dari kami besok, kukira orang yang satunya, pasangannya, akan berduka cita sebentar, tahu, tapi kemudian pihak yang masih hidup akan bangkit dan mencintai lagi, menemukan seseorang lain dalam waktu cukup singkat.”

Si lelaki melirik ke arah perempuan itu sambil tersenyum getir. Segera ia urungkan senyumnya saat ia melihat si perempuan tidak meresponsnya. “Ya, ada benarnya juga sih. Cinta emang enggak pernah berakhir selamanya,” jelas si lelaki. Ia melanjutkan membaca cerpen itu dalam hati hingga akhir.

“Aku rasa cerpen ini indah, tapi kok gini ya?” Kata si lelaki, seolah sedang berbicara sendiri. Ia menyerah dengan kebingungannya, lalu ia bertanya lagi kepada si perempuan. “Ayolah jelasin, maksud cerpen ini apa? Lagian dulu kamu ambil kuliah sastra, aku yakin ada ilmu buat jelasin cerpen ini.”

Si perempuan menaruh telepon pintarnya dengan agak kasar di atas sofa. Ia menarik napas panjang, lalu menatap lelaki itu.

Mereka hanya berdua di kamar apartemen si perempuan. Mereka menjalin hubungan yang tidak jelas, meskipun mereka tidak keberatan jika dianggap sebagai sepasang kekasih oleh orang lain. Mereka sebenarnya saling memiliki kepentingan masing-masing, namun mereka tidak bisa menjelaskan kepentingan seperti apa.

Bisa saja dari jauh-jauh hari, si lelaki mengajak perempuan itu untuk bercinta di kamar apartemen ini, lalu mungkin perempuan itu menerima ajakan si lelaki. Kemudian mereka bercinta berulang kali seperti sepasang hamster yang dilanda birahi.

Kamu tahu apa yang lebih mengerikan dari pernikahan? Rasa ketergantungan saat kita terlalu jauh jatuh ke dalam cinta, kata si perempuan pada saat awal pertemuan mereka. Hal ini yang membuat si lelaki menahan keinginannya untuk mengajak perempuan itu bercinta.

“Kamu mau aku jelasin cerpen itu?” Tanya si perempuan.

Tanpa menjawab, lelaki itu menatap mata si perempuan sambil sedikit mengerutkan dahinya. Persis seperti bocah yang sedang menonton film kartun kesukaannya, saat tokoh utama kartun hampir kalah saat digempur oleh musuh-musuhnya. Ia siap dengan kenyataan akan memeroleh jawaban memuaskan dan menghilangkan perasaan seperti rasa haus itu, kenyataan bahwa si tokoh utama kartun akan memutar-balikkan keadaan, menang dan bahagia hingga episode selanjutnya.

“Tapi kalau aku jelasin tetek-bengeknya,” perempuan itu mengambil bantal kecil dan menaruhnya di pangkuan. “Kamu mungkin gak akan bisa nikmatin cerita itu lagi, tapi ya, aku gak yakin juga. Perlu kamu tahu, sastra bukan matematika. Bukan satu tambah satu pasti dua. Justru kadang hasil penjabaran kayak gini yang mungkin membunuh karya, membunuh pemaknaan lain. Paham?”

“Hmm,” rasa haus itu semakin terasa nyata. “Tapi apa kamu setuju ini karya yang indah?”

“Bukan berarti sombong, tapi sebagai penulis cerpen dan juga udah banyak baca karya lain, aku kadang enggak bisa nikmatin karya sepertimu,” jawab perempuan. “Kadang aku iri sama orang yang jarang baca sastra, dan ketika mereka membaca satu karya yang tepat, karya itu akan terngiang sampai ia mampus.” Perempuan itu mengambil lagi telepon pintarnya, membuka kunci layar dengan sidik jarinya.

Setelah kecewa seperti menghadapi kenyataan bahwa tokoh utama kartun kalah di bagian akhir dan bersambung ke episode selanjutnya. Si lelaki menatap lagi buku itu, lalu membawanya pergi ke balkon.

Tidak ada kursi di balkon. Ia duduk di lantai dan bersandar pada tembok kamar bagian luar, mengambil bungkus rokok dari saku celananya, menghitung sisa batang rokok sebelum memilih batang yang bernasib sial.

Di balkon, si lelaki dapat menangkap suasana malam khas kota besar. Ia dapat memandang langit hitam yang jauh, gedung-gedung angkuh, dan perumahan kumuh. Ia mendengar satu-dua klakson mobil yang jinak dan tidak meresahkan. Dan yang pasti, tidak ada kunang-kunang di sini, tidak pernah ada kunang-kunang yang nekat merantau ke kota besar. Ia pikir balkon ini benar-benar tempat yang tepat untuk merenung.

Apa yang kita bicarakan saat kita bicara soal cinta.

Si lelaki berpikir, barangkali cerpen ini bercerita tentang hakikat cinta, barangkali bukan, ia sama sekali tidak yakin. Kenapa dalam cerpen ini semuanya hadir dengan tiba-tiba dan diakhiri dengan tiba-tiba juga.

Kenapa tokoh-tokohnya terasa begitu hidup dan sangat mengenali diri mereka sendiri. Adakah dunia di mana para tokohnya benar-benar hidup dan bergerak, lalu mencapai restoran, lalu pulang ke rumah masing-masing, lalu bercinta, lalu beberapa bulan kemudian mereka berkembang biak, lalu mereka akhirnya mati satu persatu, lalu anak-anaknya menjadi yatim piatu, lalu anak-anak itu menemukan pasangannya masing-masing, lalu anak-anak itu bercinta dengan kekasihnya masing-masing, dan selanjutnya, dan selanjutnya, hingga juru selamat versi dunia dalam cerpen itu datang untuk menyelamatkan orang-orang yang ada dalam cerpen.

Sampai saat ini, si lelaki sama sekali tidak yakin akan semua hal yang ia pikirkan. Mengapa tokoh-tokoh dalam cerpen bisa begitu santai membicarakan perselingkuhan, perpisahan, dan sebagainya. Tiba-tiba ia memikirkan perempuan itu, siapa yang akan mati lebih dulu, ia atau perempuan itu. Apakah perempuan itu akan menderita saat ia mati. Apakah perempuan itu mencintainya. Apa itu cinta. Si lelaki kembali merasa seperti haus ketika berpikir tentang semua ini. 

Pada embusan ke sekian, si lelaki mencoba berpikir, bagaimana jika ia sedang berada di dalam sebuah cerpen. Bagaimana awal dan akhirnya. Ada di bagian mana saat ia merenung di balkon sambil mengembuskan asap nikotin dari rokok kreteknya saat ini. Tiba-tiba si lelaki refleks menggosok celana jins saat ia sadar abu rokok terjatuh di pangkuannya. Ia tersenyum kecil, senyum yang hampir tidak terlihat. Ia menyadari sesuatu, ia pikir tidak mungkin ia sedang berada di dalam cerpen. Abu rokok itu terjatuh dengan tiba-tiba, secara kebetulan, tidak mungkin jatuhnya abu ini punya maksud tertentu.

Tapi, siapa yang tahu kalau sepotong kehidupanku hanyalah sebuah cerita pendek?

Setelah sebentar lamunannya, kini si lelaki meyakinkan diri bahwa ia memang sedang merasa haus dan membutuhkan beberapa teguk air. Ia melempar batang rokok yang masih tersisa setengahnya ke satu sudut balkon.

Lelaki itu masuk ke kamar apartemen dan secara bersamaan bertanya, “ada air?” Sebenarnya hanya pertanyaan retoris, sebab ia tahu letak air minum berada. Ia tidak butuh jawaban, melainkan atensi dari perempuan. Namun saat itu, ia mendapati si perempuan telah terlelap di sofa sambil menggenggam telepon pintarnya.

Saat melihat si perempuan, tanpa maksud yang jelas, lelaki itu mematikan sakelar lampu kamar. Ia mencoba mendengar detak jantungnya sendiri, detak jantung si perempuan yang kini terlelap. Dalam beberapa waktu, ia coba untuk tidak bergerak dalam kamar yang telah gelap. Namun sekali lagi, ia tidak yakin akan perasaannya.

2018

Profil Penulis

Adhimas Prasetyo
Adhimas Prasetyo
Adhimas Prasetyo. Penyair dan Esais. Karya-karyanya telah dimuat dalam beberapa media semisal Indopos, Pikiran Rakyat, Media Indonesia, Basabasi.co, dan Tempo. Beberapa karya juga dihimpun dalam antologi bersama. Saat ini bergiat di Arena Studi Apresiasi Sastra (ASAS), Vespoets, dan Buruan.co. 
Hosting Unlimited Indonesia