Kita tentu telah membaca cerpen fenomenal Eko Triono, “Agama Apa yang Pantas Bagi Pohon-Pohon?”. Di cerpen ini, si tokoh utama pada satu titik, dalam percakapan imajinernya dengan tokoh lain, mengatakan bahwa apa yang berusaha dikatakan pohon-pohon kepada mereka adalah ini: “… kalian bisa pergi-pergi, sementara kami, sejak lahir sampai mati berada di sini.” Ada semacam kekaguman sekaligus rasa iri yang terkandung di dalam pernyataan tersebut, bahwa pohon-pohon memosisikan manusia sebagai organisme yang superior atas mereka. Pertanyaannya: apakah memang benar seperti itu?

Jawabannya tentu saja adalah tidak. Memang pohon-pohon tidak bisa berpindah tempat, tetapi itu sejatinya bukanlah kelemahan yang menjadikan mereka inferior terhadap manusia. Ada kompensasi-kompensasi dari tidak bisa berpindah-tempatnya mereka ini, sesuatu yang justru krusial untuk kelangsungan hidup mereka. Misalnya, dengan tidak bisa berpindah tempat, pohon-pohon bisa memfokuskan pertumbuhannya pada meninggi atau melebar.

Dua aktivitas ini mungkin terdengar sepele tetapi sesungguhnya sangatlah penting: membantu pohon-pohon itu dalam berkompetisi dan bertahan. Dengan terus meninggi dan meninggi, sebuah pohon meningkatkan peluangnya dalam memperoleh asupan sinar matahari, yang senantiasa ia butuhkan untuk tumbuh. Dengan terus melebar dan melebar, sebuah pohon membuat dirinya lebih kokoh dan lebih kuat, sehingga ia bisa bertahan dari hantaman angin kencang atau arus air yang deras, atau yang semacamnya.

Itu baru soal meninggi dan melebar, dan penjelasannya pun masih sangat sederhana. Apabila kita mencermati seperti apa pohon-pohon hidup, seperti apa mereka berperilaku, kita akan mendapati bahwa ada begitu banyak hal mengagumkan yang mereka lakukan sebagai kompensasi dari tidak bisanya mereka berpindah tempat, yang berarti anggapan kita bahwa mereka merasa inferior terhadap manusia itu keliru.

Itu ditunjukkan, misalnya, dalam film dokumentar What Plants Talk About (2013) garapan Erna Buffie. Pohon-pohon atau tumbuhan-tumbuhan mungkin terlihat statis tetapi sesungguhnya mereka bergerak, secara mandiri (baca: bukan digerakkan oleh angin atau organisme lain), hanya saja gerakan mereka sangat lambat jika dibandingkan dengan gerakan hewan atau manusia. Ketika waktu dipercepat gerakan mereka ini terlihat, dan itu bukan gerakan yang sifatnya acak atau arbitrer, melainkan gerakan yang bertolak pada perhitungan-perhitungan untung-rugi seperti yang kita temukan pada hewan juga manusia. Misalnya, sebuah tanaman parasit akan memilih tanaman yang dinilainya lebih mampu menjadi sumber energinya sebagai inangnya. Contoh lainnya: ranting yang tumbuh pada batang pohon akan mencari cara supaya daun-daun yang kelak bermunculan darinya bisa memperoleh asupan sinar matahari yang cukup.

Dan bukan hanya aktivitas-aktivitas yang berlangsung di atas permukaan tanah saja, film dokumenter ini juga menunjukkan aktivitas-aktivitas yang berlangsung di bawah permukaan tanah. Pohon-pohon di sebuah hutan, misalnya, ternyata banyak yang saling terhubung satu sama lain; akar-akar mereka terhubung dan ada satu pohon yang bertindak sebagai ibu pohon (mother tree) yang bertanggung jawab atas kelangsungan hidup pohon-pohon muda. Si ibu pohon ini bukan saja membagikan nutrisi atau cadangan makanan yang dimilikinya kepada pohon-pohon muda itu, namun juga memberikan informasi terkait kehidupan itu sendiri, terkait bagaimana sebuah organisme sepertinya bertahan hidup sampai sejauh itu. Perilaku ini, persis seperti apa yang kita temukan di kawanan gajah liar di Afrika.

Lebih jauh lagi, pohon-pohon itu juga berkomunikasi dengan pohon-pohon lain yang berbeda jenis, juga bahkan dengan tumbuhan-tumbuhan yang bukan pohon seperti jamur. Mereka bisa berdagang atau saling bertukar informasi dan nutrisi; bisa juga mereka berkompetisi atau bahkan berperang dalam mendominasi sumber daya-sumber daya yang ada. Dan itu berarti satu hal: sebuah pohon bisa mengenali jenisnya sendiri, sebagaimana halnya seekor gajah bisa membedakan mana gajah yang adalah bagian dari kawanannya dan mana yang bukan. Kemampuan mengenali jenis sendiri ini umumnya diikuti oleh perilaku-perilaku yang sifatnya altruistik seperti saling berbagi informasi dan nutrisi tadi—secara lebih massif. Namun ada juga kasus-kasus di mana, pada pohon-pohon tertentu, kemampuan ini justru mendorong mereka untuk saling menyerang dan menghancurkan, sebuah perilaku yang kita temukan pada hiu dan beberapa jenis burung.

Dengan terkuaknya kompleksitas perilaku ini, memosisikan pohon-pohon sebagai sosok yang inferior atas manusia, seperti yang tergambarkan di cerpen fenomenal Eko Triono tadi, jadi terlihat konyol. Tidak seperti manusia dan hewan yang memiliki otak dan sistem saraf, pohon-pohon tidak memiliki itu, sehingga perilaku mereka yang kompleks dan menyerupai perilaku hewan dan manusia tadi jadi sangat menakjubkan; ini sekaligus sebuah tamparan bagi kita yang kerap meyakini bahwa organisme yang paling unggul adalah yang dibekali dengan komposisi otak yang “canggih”. Para ilmuwan di film dokumenter tadi bahkan curiga jangan-jangan pohon-pohon itu, atau tumbuhan pada umumnya, sesungguhnya jauhlah lebih cerdas dari kita. Jadi, bukan mereka yang inferior terhadap kita, tetapi kitalah justru yang inferior terhadap mereka.

Maka jelas sekali bahwa bagaimana si tokoh utama di cerpennya Eko Triono tadi melihat pohon-pohon itu terlalu terfokus pada dirinya, di mana ia menggunakan perspektifnya sebagai seorang manusia. Memang ia mencoba membayangkan berada di posisi pohon-pohon itu (baca: hanya bisa berada di satu tempat), tetapi kiranya masih sebagai dirinya, masih dengan kesadaran sesosok manusia sepertinya. Ini menandakan adanya perasaan superior itu. Semacam orientalisme, katakanlah. Padahal jika saja si tokoh utama—atau tepatnya si pengarang—mau mencoba melihat pohon-pohon itu sebagai pohon, benar-benar sebagai pohon, ia akan sampai pada pemahaman yang lain, yang benar-benar lain. Mereka, pohon-pohon itu, justru diuntungkan dengan hanya bisa berada di satu tempat di sepanjang hidupnya, sebab dengan itu mereka terus hidup bersama-sama sebagai sebuah keluarga, di mana mereka bisa saling mendukung satu sama lain. Ini akan sulit mereka lakukan apabila mereka juga bisa berpindah tempat seperti halnya hewan dan manusia.

___

Jika di cerpen “Agama Apa yang Pantas Bagi Pohon-Pohon?” karya Eko Triono kita dihadapkan pada kegagalan si pengarang dalam benar-benar berpikir sebagai pohon, di novel Angin Musim (2018) karya Mahbub Djunaidi kita dihadapkan pada kegagalan si pengarang dalam berpikir sebagai kucing. Di novel ini, tokoh utamanya adalah seekor kucing yang berada di antara manusia, yang hidup dalam sebuah realitas yang didominasi oleh manusia. Dan entah kenapa ia kerap digambarkan berpikir sebagai manusia, bukan sebagai kucing; bahkan informasi-informasi yang ditawarkan si kucing ini kepada pembaca adalah informasi-informasi yang umumnya diperoleh pembaca dari seorang manusia. Itu, misalnya, tergambarkan dengan jelas di paragraf ini:

“Betapa pun istrinya menganggap sang suami seekor babi, namun pemborong itu sanggup menggunakan otaknya sebagaimana mestinya. Seraya menjauhi Wedana yang sudah keropos itu, dia secara pasti dan berencana ganti mendekati camat. Ditilik dari jurusan pangkat, tiap peminat pemerintahan tahu persis camat berkedudukan lebih rendah daripada wedana semisal apel impor dengan apel lokal. Tetapi, ukuran pangkat memerlukan pengamatan tersendiri karena itu bukanlah satu-satunya pegangan yang perlu dipercaya. Yang pasti, kekuasaan camat jauh lebih nyata daripada kekuasaan wedana….” (hal. 28)

Bisa kita lihat bahwa yang hadir di situ adalah sesosok manusia, bukan kucing. Bagaimana mungkin seekor kucing bisa tahu seperti apa relasi kuasa antara seorang wedana dan seorang camat, misalnya? Bagaimana pula ia bisa memahami posisi wedana dan camat, bahkan terkesan akrab dengan istilah apel impor dan apel lokal? Tak pelak lagi, di sana si pengarang memunculkan dirinya, lebih tepatnya kesadarannya, dan si tokoh utama yang berupa kucing itu hanyalah tubuh kosong, hanyalah sosok tanpa karakter. Selain itu si pengarang juga tampaknya tak memahami betul bagaimana kucing berpikir. Berbeda dengan anjing yang bisa dibiasakan meluangkan waktu dan energi untuk memikirkan urusan-urusan manusia, untuk peduli pada urusan-urusan manusia, kucing umumnya tak seperti itu. Kucing tak pernah benar-benar terdomestikasi—secara genetik kucing peliharaan tidak jauh berbeda dari kucing liar yang adalah nenek moyangnya. Ia mungkin hidup sebagai hewan peliharaan tetapi tak pernah benar-benar jinak dan mau dilibatkan dalam urusan-urusan manusia.

Itu misalnya dijelaskan dalam film dokumenter Kittenhood (2015) garapan Emma Bauss. Seekor kucing, mau ia hidup di rumah atau di luar, sejatinya hanya peduli pada urusannya sendiri; ia menjalani hari-harinya sebagai kucing dan ketika ada manusia yang memberinya makanan atau perhatian ia melihat si manusia sebagai kucing besar, sebagai semacam ibu kucing. Seekor kucing akan menghampiri manusia ketika ia lapar atau ingin bermain; jika tidak ia hanya akan asyik di dunianya sendiri—ia mungkin tidur, atau menjilati rambut-tubuhnya (grooming), atau berburu, atau bermain dengan kucing-kucing lain. Tidak akan seekor kucing merepotkan diri untuk memikirkan urusan manusia, apalagi mempelajari sesuatu yang rumit bagi mereka seperti relasi kuasa camat-wedana seperti yang dibahas di paragraf tadi.

___

Tentu saja di balik kegagalan berpikir sebagai pohon dan kucing ini ada sesuatu yang berusaha dikejar pengarang, sesuatu yang penting, seperti ironi. Dengan mencoba berdiri di posisi pohon dan mencermati kehidupan manusia, si pengarang berusaha menunjukkan kepada kita bahwa manusia yang berpikir dirinya superior atas organisme-organisme lain itu kadang-kadang justru malah merasa inferior; ia menginginkan sesuatu yang ada pada kehidupan pohon-pohon tetapi tidak ada pada kehidupan yang dijalaninya, yakni bahwa pohon-pohon itu bisa hidup berdampingan (dan terlihat damai) sebab mereka tak mengenal agama, sebab di kehidupan pohon-pohon tak ada konsep agama—sedangkan di kehidupan manusia konsep agama itu ada dan seringkali menimbulkan masalah. Sementara itu, dengan mencoba berpikir sebagai kucing dan mengamati kehidupan manusia, si pengarang berusaha menunjukkan betapa konyol dan menggelikannya kehidupan manusia itu, betapa dalam beberapa hal manusia-manusia itu tidak lebih baik dari kucing—bahkan justru lebih buruk. Sesuatu yang baik, tentu saja. Namun yang berusaha saya kemukakan di tulisan ini adalah bahwa upaya tersebut sesungguhnya masihlah setengah hati, sebab si pengarang pada dasarnya masih berpikir sebagai dirinya, sebagai manusia. Si pengarang masih menjadikan manusia sebagai pusat dan karena itu perspektif yang dominan dimunculkannya adalah perspektif manusia.

Mengapa bisa seperti itu? Agaknya karena si pengarang tidak melihat biologi sebagai sesuatu yang penting dalam menjelaskan realitas. Akibatnya ia mengabaikan prinsip-prinsip biologi; ia tidak berpikir sebagai seorang biologiwan saat mencoba menjelaskan realitas. Padahal ini penting, dan mestinya tak terhindarkan. Dengan berpikir sebagai seorang biologiwan si pengarang akan bisa menghadirkan realitas secara jujur, sebagai dirinya apa adanya. Ilusi superioritas tadi akan dilampauinya, dan pembaca pun dihadapkan pada sebuah sajian yang lebih masuk akal sekaligus adil.

Dan itu bukan sesuatu yang tak bisa dilakukan oleh seorang pengarang. Jack London, misalnya, dalam novel White Fang (2014), menghadirkan seekor serigala yang hidup dan berpikir sebagai serigala, bukan sebagai manusia dalam wujud serigala. Apa yang dilakukan Jack London ini membantu kita memperoleh gambaran tentang seperti apa seekor serigala melihat realitas, seperti apa seekor serigala menjalani realitas di alam liar.

Contoh-contoh yang sama bagusnya bisa kita temukan di film-film dokumenter tentang hewan, di mana si narator bercerita tentang kehidupan hewan-hewan itu di alam liar, kadang dengan memberi mereka nama, kadang bahkan dengan berpura-pura menjadi mereka—dikisahkan hewan-hewan itulah yang bertutur. Dan bagusnya adalah, perspektif yang dimunculkan di sepanjang film (cerita) adalah perspektif hewan-hewan itu, meski dalam bahasa manusia. Contohnya: Queen Elephant (2014) keluaran National Geographic Channel. Contoh lainnya: The Last Lions (2011) garapan Dereck Joubert.

Dan perlu dipahami bahwa meski film-film atau cerita-cerita semacam itu sepenuhnya bercerita tentang kehidupan hewan-hewan, tentang bagaimana hewan-hewan melihat dan menjalani realitas, secara tak langsung mereka sesungguhnya juga bercerita tentang bagaimana kita, manusia, melihat dan menjalani realitas. Dihadapkan pada cerita-cerita tersebut kita seperti dipaksa bercermin, dan kita melihat sebagian dari diri kita di diri hewan-hewan itu; sedikit-banyak mungkin membuat kita merasa terhubung dengan mereka.

Dengan mencermati bagaimana hewan-hewan itu melihat dan menjalani realitas, kita pun jadi lebih memahami bagaimana kita, di kehidupan kita yang jauh berbeda dengan kehidupan hewan-hewan itu, melihat dan menjalani realitas. Cerita-cerita tersebut memang tidak berpusat pada manusia tetapi itu tidak berarti ia menawarkan sesuatu yang berada di luar realitas kita. Sebagai pengarang, kita harus mampu keluar dari jebakan bahwa cerita-cerita yang kita tulis harus menghadirkan manusia dan berpusat pada manusia. Kita harus bisa menaklukkan keangkuhan kita yang termanifestasikan dalam anggapan bahwa manusia, dalam cerita-cerita yang kita tulis itu, haruslah diposisikan sebagai pusat.

Bahkan selanjutnya kita pun harus terdorong juga untuk bertanya-tanya apakah benar manusia itu layak dijadikan pusat, diposisikan sebagai organisme yang superior, mengingat organisme-organisme lain seperti pohon-pohon yang relatif statis tadi pun ternyata begitu kompleks dan menakjubkan—mereka memiliki banyak hal yang tidak kita miliki seperti halnya kita memiliki banyak hal yang tidak mereka miliki. Jangan-jangan, anggapan bahwa kita organisme yang superior itu, bahwa kita adalah pusat dari alam semesta atau setidaknya kehidupan yang ada di Bumi, sesungguhnya hanya sesuatu yang kita ada-adakan saja; semacam fiksi dalam pemahaman Yuval Noah Harari, yakni sesuatu konseptual yang diyakini kebenarannya sebab ia mampu membuat umat manusia bersatu.(*)

—Bogor, Januari 2019

Referensi

Bauss, Emma. (2015). Kittenhood. USA: Nord/Ouest Documentaires. Durasi: 51 menit.

Buffie, Erna. (2013). What Plants Talk About. USA: Rubin Tarrant Production. Durasi: 54 menit.

Djunaidi, Mahbub. (2018). Angin Musim. Yogyakarta: DIVA Press.

Hewett, Benjamin G. (2014). Queen Elephant. USA: National Geographic Channels. Durasi: 44 menit.

Joubert, Dereck. (2011). The Last Lions. USA: National Geographic Films. Durasi: 1 jam 28 menit.

London, Jack. (2014). White Fang. Diterjemahkan oleh Harisa Permatasari. Jakarta: GagasMedia.

Triono, Eko. (2016). Agama Apa yang Pantas Bagi Pohon-Pohon? Yogyakarta: DIVA Press.