

Atas nama kerinduan-aku mengadu
Atas nama kerinduan-aku menangis
Atas nama kerinduan-aku mengemis
Kehadiranmu dalam bayangan,
Sapamu dari angin-angin malam,
Tatapanmu untuk menatap langit yang kurindukan-
Menatap bulan yang sama kala ku merindumu
Atas nama kerinduan-aku menghamba
Aku menemukan persimpangan
Aku menemukan bunga
Aku melewati rumah-rumah
Aku tidak tahu arah
Aku tidak tersesat
Aku mengumpulkan batu-batu kecil di persimpangan tadi
Aku memetik bunga yang aku temui
Aku mengikuti bintang dilangit saat melewati rumah-rumah
Aku ingin menemuimu
Aku takut kehilangan tujuan
Pagi ini kuterbangun
Setelah tertidur ditemani hujan semalaman
Duduk termangu pada sebuah beranda
Dengan segelas es kopi susu
Kubakar sebatang rokok kretek yang baru saja kubeli
Tuk menemaniku membaca buku pagi ini
Dengan perasaan khawatir tentang sisa hari
Ku terus termangu dengan masih mengira-ngira
Terus saja bermunculan “Bagaimana jika…” di dalam kepalaku
Ku masih termangu sembari melawan
“Ah… tidak aka nada apa-apa, sudahlah.”
Ku tetap termangu,
Buku itu belum jadi kubaca
Aku takut, kalau aku mati seperti dihembus angin
Aku takut pula, kalau aku mati seperti kayu yang dimakan api
Pun aku takut, kalau aku mati seperti dedaunan jatuh yang terperangkap di loteng
Aku juga takut, kalau aku mati seperti rumput diantara semak-semak belukar
Aku takut,
Aku risau,
Aku kepikiran,
Apa aku jangan mati saja?
Tapi mau apa kalau tidak mati?