

Apalagi jika bukan bubur ayam,
Yang membuat kerongkongan runyam,
Sebab hangat datang menyiram lagi,
Di ini pagi.
Apalagi jika melihat jam,
Jarum berputar ke kanan,
Terus,
Tak berhenti.
Hei, waktunya berangkat!
Sebentar! Sarapanku belum habis!
Hei, siang!
Tunggu sebentar!
Kamu terlalu sayang,
Kepada jemuran.
Apa ia telah merayumu?
Jika benar, biarkan aku juga!
Agar kamu tak lupa padaku,
Yang ikut menghisapmu,
Menyebutmu sebagai siang,
Lalu pergi mengoleskan krim siang.
Kamu belum pernah absen,
dari kehadiran.
Kamu belum pernah lupa,
pukul berapa akan tiba.
Selalu saja sama.
Sama saja selalu.
Menjadi teman di meja makan,
Yang berjejer piring-piring,
Dengan lauk-pauk luka dan duka.
Minumnya? Ah! Nanti saja.
Aku terbiasa menelan nasi,
Yang dilumat dengan caci,
Dipasangkan bersama ikan goreng,
Dengan duri yang mencuri.
Sisa-sisa senang yang dikunyah kemarin,
Masih kusimpan rapi,
Itu tabungan di lambungku,
Jangan kau ambil!
Lahir di Semarang, 2009. Hobi menulis sejak SMP. Saat ini, masih belajar memaknai setiap peristiwa sembari menuangkan ke dalam puisi.
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!