Salah Paham Jendela Seberang

“Mereka sudah tidur?”

“Ya, lebih cepat dari hari sebelumnya.”

“Wow, saat mereka tidur lebih cepat artinya kita akan lebih banyak waktu luang malam ini.”

“Berdua ?”

“Ya, Aku dan kamu,”

Mereka bermalas-malasan di sofa yang hangat menatap dinginnya salju New York. Joe dengan laptopnya dan Laras dengan bukunya.

“Joe, kapan terakhir kali kita membawa anak-anak ke rumah neneknya?”

“Hm … mungkin tiga bulan yang lalu.”

“Kapan keluarga kecil kita mengunjungi Central Park lagi?”

“Entahlah, Sayang. Jika aku ada waktu luang mungkin kita akan ke sana. Ke rumah ibu dan ke Central Park untuk menikmati alam terbuka di tengah padatnya kota.”

Laras menghembuskan napas panjang dan berdiri, pergi ke dapur untuk mengambil satu botol Martini dan dua gelas kaca, lalu ia duduk kembali di sofa samping Joe. Tapi kali ini pemandangan dingin Kota New York berubah menjadi hangatnya pelukan yang berangsur-angsur di kedua tubuh pasangan. Tepat di seberang apartemen, Laras dan Joe bisa melihat langsung melalui jendela apartemen mereka, hangat tubuh tetangganya yang saling bercumbu.

“Joe kamu lihat, bukan?”

Joe tidak menjawab, hanya terpaku dengan kejadian yang dilihat di seberang sana.

“Joe jawab aku!”

“Iya aku dengar, Sayang.”

“Sepertinya mereka harus membeli gorden, atau mereka tidak punya uang untuk itu?”

“Mereka mungkin baru saja pindah ke apartemen itu.”

“Mereka pikir orang lain tidak melihat mereka atau … mereka sengaja memperlihatkannya.”

“Aku pikir mereka tidak terlalu memedulikannya.”

“Tapi Joe, mereka sangat bergairah”

“Aku tidak mengatakannya, tapi … ya, itu fakta.”

“Haruskah kita mematikan lampu.”

“Kenapa kita harus mematikan lampu? Bukankah kita tidak melakukan apa-apa di sini?”

Percakapan Joe dan Laras berhenti sejenak. Ruangan mulai sepi. Mata mereka masih fokus dengan sejoli di seberang apartemen mereka. Beberapa menit terlewati, Laras memilih beranjak dari sofa dan pergi ke sudut ruangan untuk menuju saklar agar lampu dimatikan. Laras kembali duduk di samping Joe. Kali ini tubuh Laras sedikit mepet dengan Joe. Tidak ada percakapan lagi malam itu. Waktu gelap dihabiskan hanya untuk melihat tetangganya berbagi kehangatan.

Di pagi hari, Kota New York masih sama. Salju turun lebat dari langit. Dingin mengigit hebat kulit-kulit.

“Selamat pagi, Sayang. Apa yang kamu bawa dari toko ?”

Laras tidak menjawab apa pun. Dirinya hanya bisa menghela nafas. Suara Joe mampu diredam dengan suara pintu yang dibanting Laras.

“Hey Laras, kenapa? Ada masalah di jalan baik? Atau anak kita terlambat lagi?”

“Tidak, tidak dan tidak lagi.”

Joe tidak berani menanggapi jawaban Laras yang terkesan mencekam.

“Joe..”

“Iya Sayang?”

“Kenapa kamu berbaring di sofa itu lagi?”

“Hanya mencari sinyal. Aku hanya ingin menghabiskan masa cutiku?”

“Yakin? Atau kamu mau memanggil temanmu ke apartemen ini?”

“Teman?”

“Ya.. yang ada di seberang sana. Mungkin kamu sudah bekerja keras agar mereka bisa menyadari ada kita disini.”

“Tidak sayang, tidak. Aku hanya ingin bersantai.”

“Bersantai? Kamu tidak lihat aku? Mengurus dua anak sendiri setiap pagi, pergi ke supermarket dan mengantarkan mereka ke sekolah ditengah salju yang dingin. Aku hanya tidur empat jam malam tadi. Karena aku harus bangun, mengurus anak-anak lagi, membuatkan sarapan, pergi lagi keluar, dan hanya mendapatkan suamiku bersantai di sofa seharian dengan laptopnya atau mengintip tetangga baru di seberang sana melakukan hal-hal intim..”

“Laras, sepertinya kamu berlebihan.”

“Berlebihan? Tiga bulan apartemen di seberang tidak ada yang menempati dan kau jarang juga duduk di sofa itu. Aku tau kau ingin seperti mereka, Joe!”

Laras membuang napas dalam-dalam.

“Joe, aku memang tidak berumur dua puluhan lagi, sekarang aku lelah setiap hari dan aku mungkin tidak bisa melayani lagi seperti mereka di seberang sana.”

“Laras, aku tidak memintamu untuk seperti itu dan bergairah setiap malam dan terjaga hingga terbit fajar. Kita hentikan pembicaraan tidak penting ini, Laras.”

Joe beranjak dari sofa, berjalan mendekati Laras. Joe segera memeluk Laras untuk memadamkan api di tengah mereka. Ruang itu kembali tenang, hanya tersisa suara napas yang perlahan diatur. Laras membiarkan tubuhnya dipeluk dan menyandarkan kepalanya ke dada Joe. Pelukan mereka begitu hangat. Namun kehangatan itu terasa hambar untuk Laras. Tatapan Laras memilih menyelinap di antara bahu Joe menuju jendela di seberang sana.

Berhari-hari Laras menatapi jendela yang mengarah ke apartemen tetangganya. Baik siang dan malam, panas atau dingin. Laras selalu memperhatikan kebahagiaan pasangan di seberang.

Satu hari tepat saat malam natal, Laras masih termangu di sofanya. Kesenangan malam natal Laras hanya sebatas sofa itu. Pikiran Laras lebih tertuju dengan tetangga di seberang apartemennya. Pasangan itu tampaknya mengundang kerabat dekat mereka dan berbahagia sebisa mungkin menyambut natal.

Laras hanya bisa mengamati satu per satu; orang-orang yang berdansa dengan gembira, kue natal tertata rapi di meja panjang, pohon natal yang begitu mewah. Sedangkan Laras malam itu hanya seorang ibu yang berusaha menidurkan anaknya dengan segelas Martini dan hanya bisa berharap kekasihnya bisa memahami kondisinya.

Malam natal sudah berlalu jauh. Laras kali ini sibuk menyiapkan makan malam. Disusul dengan Joe yang menjaga anak-anak mereka.

“Sayang, kenapa suami tetangga kita sedikit berbeda? Jarang sekali aku melihat mereka kembali romantis seperti dulu. Terakhir aku lihat mungkin saat malam tahun baru.”

“Kenapa kamu terlalu memikirkannya, Joe?”

“Hmm … lupakan. Lebih baik kita menikmati malam hari ini.”

Malam berganti lagi, Laras dan Joe bermalas-malasan di sofa empuk. Bukan untuk memandang langit, tapi justru untuk memandang perkara yang berbeda di balik jendela mereka.

“Joe, menurutmu suaminya … sakit?”

“Mungkin, suaminya hanya berbaring di kasur dan kerabat mereka hanya bisa terpaku melihatnya.”

“Haruskah kita berkunjung untuk menjenguknya?”

“Aku rasa tidak perlu sayang. Mungkin berita ini hanya mereka sampaikan untuk keluarga dekatnya. Lagipula rasanya aneh jika kita menjenguk mereka tanpa mengetahui nama mereka sebelumnya.”

“Hmm … kau ada benarnya juga, Joe.”

Laras memperbaiki posisi duduknya agar lebih dekat dengan kekasihnya. Kali ini Laras menyandarkan kepalanya ke pundak Joe. Suasana ruangan begitu hening malam itu.

Tiga malam terlewati. Laras memilih menghabiskan malamnya dengan membersihkan apartemen kecilnya. Meletakkan mainan kecil anak-anaknya, menyapu lantai dan menata kembali barang yang berserakan. Tapi pandangan Laras teralihkan dengan jendelanya. Kali ini jendela itu memperlihatkan berita duka yang dialami tetangganya; terdengar suara ambulans memecah malam di New York. Kendaraan itu sedang menuju apartemen di seberang. Para petugas rumah sakit masuk ke apartemen sembari menenteng tandu. Langkah mereka sangat sigap seperti ada hal yang sangat darurat terjadi.

Ternyata tujuan mereka ke arah apartemen tetangga Laras, tepat di seberang apartemen milik Laras dan Joe. Petugas mulai sibuk mengangkat seorang pria yang hanya berbaring lemah di kasur dan mengevakuasinya ke dalam ambulans. Seorang pria itu ialah suami tetangga Laras. Istrinya hanya bisa menangis dan termangu melihat kondisi suaminya.

Laras yang memiliki rasa iba segera bergegas untuk menemui tetangganya. Laras beranjak pergi mengambil jasnya dan keluar menuruni tangga apartemen. Langkah Laras begitu cepat. Berharap langkahnya tidak kalah dengan laju ambulans.

Laras sudah berada di tepi jalan yang memisahkan apartemennya dengan apartemen tetangganya. Seketika itu juga Laras melihat perempuan yang dia lihat persis di seberang. Kini perempuan itu bisa Laras tatap langsung. Bukan lagi hanya lewat jendela apartemennya.

Tetangganya hanya terdiam menyaksikan ambulans yang pergi dengan cekatan. Tergambar jelas suasana perempuan itu begitu sepi. Berbanding terbalik dengan ramainya aktifitas orang-orang di Kota New York malam itu. Laras memberanikan diri untuk menghampiri tetangganya untuk membuka kotak dialog dengannya. Berharap mendapat jawaban apa yang sedang terjadi.

“Hei … kamu baik-baik saja?”

“Oh hai, semua aman. Aku tidak apa-apa.”

Perempuan itu hanya bisa menyeka air matanya dan hanya bisa tersenyum saat melihat Laras.

“Apakah kamu tinggal di apartemen seberang sana?” perempuan itu bertanya lebih dulu sebelum Laras melontarkan pertanyaan selanjutnya.

“Iya”

“Aku rasa jendela apartemen kita saling berhadapan.”

Laras hanya bisa tersenyum.

“Apakah kamu punya anak. Dua anak laki-laki ? Ya Tuhan, mereka sangat … imut dan lucu.”

“Terim..”

“Dan apakah betul suamimu tinggal bersamamu saat ini?” perempuan itu terus meyakinkan sebelum kalimat yang ingin dikatakan Laras genap.

“Suamiku sedang sakit keras dan dia hanya bisa berbaring di kasur. Setiap malam dia selalu melihat jendela. Suamiku selalu melihat keluarga kecil yang begitu damai di seberang sana.” perempuan itu kembali meneteskan air matanya.

“Setiap malam kami selalu menatap jendela… dan melihat kamu dengan suamimu merawat anak-anak kalian. Itu … itu impian kami dari dulu.. kami selalu berharap bisa menjadi keluarga kecil seperti kalian..” tangis perempuan itu semakin hancur dan Laras hanya bisa menenangkannya dengan pelukan.

Dingin malam Kota New York saat itu gagal mendinginkan perasaan mereka.

Author

  • Lahir dan menetap di Kota Samarinda, 24 April 2008. Saat ini dia masih fokus dengan pendidikan SMK jenjang akhir di Sekolah Vokasi Kehutanan dengan bayang-bayang masa depan yang tidak pernah terlihat hilalnya. Daripada memikirkannya, Adriano lebih memilih untuk menulis akal-akalan yang tidak pernah habis di benaknya.

One thought on “Salah Paham Jendela Seberang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
grandpashabet | romabet giriş | romabet | grandpashabet | grandpashabet giriş | grandpashabet | grandpashabet giriş | grandpashabet | grandpashabet | grandpashabet | stresser | betnano | ultrabet | ultrabet | roketbet | roketbet giriş | grandpashabet | royalbet | royalbet giriş | yakabet | yakabet giriş | timebet | timebet giriş | galabet | galabet giriş | elexbet, elexbet giriş | Elexbet | Elexbet giriş | grandpashabet | grandpashabet giriş | grandpashabet | grandpashabet | grandpashabet giriş | perabet | perabet giriş | grandpashabet | grandpashabet giriş | roketbet | roketbet giriş | royalbet | royalbet giriş | roketbet | grandpashabet | royalbet | galabet | galabet giriş | galabet | romabet | romabet giriş | galabet | galabet giriş | romabet güncel giriş | how to create invoices | how to create an invoice | how to pronounce | how to pronounce nguyen | how to pronounce pho | hiltonbet | hiltonbet giriş | roketbet | جلب الحبيب | فك السحر |