

Jika terus kau cari kantukku
Di mataku yang lebar bersinar
Dan dadaku yang sesak berdebar,
Jangan bersut jika tak ketemu.
Letih lelahmu kumaklum benar.
Pergulatanmu sedari subuh
Hingga surup t’lah jauh berlalu,
Pasti menguras energi bukan?
Maka tenanglah, aku tak terganggu.
Hatiku dikobar api laten
Oleh sosok semanis aren yang
Mengusir segala gelap-beku.
Aku kini tak dilanda kantuk.
Sebab badai remeh itu bukan
Tandingan tubuh, tawa, dan teduh
Dari jiwa yang membakar ufuk.
Pagi ini aku kembali ke embung,
Mengulang hari-hari yang telah silam.
Aku kembali hanya untuk termenung,
Menatap bayang pokok di atas kolam,
Tepi-tepi berbahankan bebatuan,
Dari puncak dakian sedingin pualam.
Aku ingat hari penuh kebetulan,
Saat pertemuan memantik senyummu,
Secerah sayap blekok yang beterbangan.
Alangkah berani, blekok-blekok itu!
Terbang begitu rendah di atas kolam
Yang kedalamannya pun tiada yang tahu.
Ya, kolam itu, kuyakin sangat dalam.
Cukup ‘tuk menelan seluruh kenangan
Yang mengubahnya keruh dan menghitam.
Kembali ke embung ini, sendirian,
Aku lalu melihat dan mendengar jelas,
Hari itu datang di dalam pantulan,
Dari kolam yang berubah merah panas.
Aku turun dari dakian, mendekat
Ke tepian, demi citraan sekilas.
Menyentuh badan air aku teringat
Hangat genggammu, riang vokalmu, dengan
Mereguknya hatiku berdebar cepat
Oleh sebab senyummu yang memabukkan!
Kusibak dan kureguk—lagi dan lagi—
Hingga kolam itu akhirnya transparan.
Muka air itu memantulkan benci,
Benci yang membuatku mual dan muntah,
Muntah sebuah kertas berisi puisi.
Berjalan, langkahku yang engkau tahan.
Kita bercakap lirih tentang masa di kejauhan
Sementara aku melupakan angin maghrib
Hingga sosokmu kuikhlaskan raib.
Di jalan kembali, rumah-rumah memasang kandil.
Dan di bekas-bekas tapakmu, kukenali aroma kantil.
Derik kayu pada rumah itu
Bukti kemesraan sang waktu.
Saat lengking yang disusul kenanga
Melipur gelapnya belantara,
Kita akan mendongak, mencari yang lalu,
Hanya ‘tuk menemui serta menuai:
Sekuntum bunga sala.
Sulaman senyummu siapa kuasa meniru?
Maha sulapan dari keriangan murni
Serupa pesta raya di musim semi.
Dengannya, relung di kepala kembali satu,
Luka di jantung lenyap tak lagi berdarah,
Dan kerinduan rebah serasa di rumah.
Ratna!
Kunobatkan kau dukun bermahkota swarna,
Bernyanyilah dengan anggur dan mawar terkunyah!
Andai kau dalam rentang tanganku, Ratna,
Akan kutarik kau menyusuri malam,
Mengejar tiap aroma yang kau idam,
Dan tenggelam dalam pesta paling meriah.
Ah, andai aku mampu menjemput tanganmu.
Lembut tanganmu bagai candu mustajab
Yang mendamaikan hatiku saat kalap
Di tengah gemuruh kembang tahun baru.
Tetapi sayang, Ratna, aku terkutuk.
Andaiku ini bak mimpi musim semi.
Bagai bulan di awang, terang dan suci,
Tapi di tangan? hanya gelap yang sejuk.
Aku berziarah lagi ke rumahmu
Dan kini berdiri di depan gerbangnya.
Rumah yang malam itu kau gambar biru
Hingga kini masih kentara di mata.
Halamannya luas—laksana harapmu—
Melahap kebisingan jalan utama.
Begitu luas hingga dari tempatku
Jendelamu terlihat hitam semata.
Hah panasnya, langit tampak begitu bersih
Hingga membutakan kelima indraku.
Klakson, asap, dan wajah pejalan kaki
Tersedimentasi di dasar kalbu.
Dan iskemia yang membujukku pergi,
Kutolak. Kuremas besi panas itu,
Menatap dari celahnya ‘tuk mencari
Suaraku di balik jendela gelapmu.
Ya Ratna, adakah sudah kuning
Padi-padi di dadamu?
Ya Ratna, ladangku di sini banjir,
Rata dalam air bergeming
Di mana matahari memukul dua kali,
Pertama di ubun, lalu di kening.
Di atas pokok yang ditendang topan
Tiada sedu, Ratna, tiada sedu.
Aku semata-mata ingin tahu
Mengapa kita hidup kelaparan.
Menambal waktu dengan pemuasan
Tiada akhir
Yang pada hakikatnya perbudakan
Terfitrah?
Karenanya aku tak menyesal Ratna,
Badai kemarin tak kusesali.
Dan kini, jika kau berkenan,
Izinkanku menceburkan diri dalam
Dunia yang lain lagi.
‘Tuk satu kali ini,
Lanskap sore, cahya lembut nan damai,
Hadir mengantar pergi.
Au revoir, Ratna! Mari bertemu nanti
Bila krokot rekah di kota ini.
Lahir di Jepara pada 17 Agustus 2006. Dibesarkan di Kepahiang hingga lulus SMP. Saat ini belajar Sastra Prancis di Universitas Negeri Semarang.
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!