Sajak-Sajak Bulan Juni

Mentariku (02/06)

 

Jika terus kau cari kantukku

Di mataku yang lebar bersinar

Dan dadaku yang sesak berdebar,

Jangan bersut jika tak ketemu.

Letih lelahmu kumaklum benar.

Pergulatanmu sedari subuh

Hingga surup t’lah jauh berlalu,

Pasti menguras energi bukan?

Maka tenanglah, aku tak terganggu.

Hatiku dikobar api laten

Oleh sosok semanis aren yang

Mengusir segala gelap-beku.

Aku kini tak dilanda kantuk.

Sebab badai remeh itu bukan

Tandingan tubuh, tawa, dan teduh

Dari jiwa yang membakar ufuk.

 

 

 

‘Pagi ini aku kembali…’ (03/06)

 

Pagi ini aku kembali ke embung,

Mengulang hari-hari yang telah silam.

Aku kembali hanya untuk termenung,

Menatap bayang pokok di atas kolam,

Tepi-tepi berbahankan bebatuan,

Dari puncak dakian sedingin pualam.

Aku ingat hari penuh kebetulan,

Saat pertemuan memantik senyummu,

Secerah sayap blekok yang beterbangan.

Alangkah berani, blekok-blekok itu!

Terbang begitu rendah di atas kolam

Yang kedalamannya pun tiada yang tahu.

Ya, kolam itu, kuyakin sangat dalam.

Cukup ‘tuk menelan seluruh kenangan

Yang mengubahnya keruh dan menghitam.

Kembali ke embung ini, sendirian,

Aku lalu melihat dan mendengar jelas,

Hari itu datang di dalam pantulan,

Dari kolam yang berubah merah panas.

Aku turun dari dakian, mendekat

Ke tepian, demi citraan sekilas.

Menyentuh badan air aku teringat

Hangat genggammu, riang vokalmu, dengan

Mereguknya hatiku berdebar cepat

Oleh sebab senyummu yang memabukkan!

Kusibak dan kureguk—lagi dan lagi—

Hingga kolam itu akhirnya transparan.

Muka air itu memantulkan benci,

Benci yang membuatku mual dan muntah,

Muntah sebuah kertas berisi puisi.

 

 

 

Dalam Mengantarnya Pulang (06/06)

 

Berjalan, langkahku yang engkau tahan.

Kita bercakap lirih tentang masa di kejauhan

Sementara aku melupakan angin maghrib

Hingga sosokmu kuikhlaskan raib.

 

Di jalan kembali, rumah-rumah memasang kandil.

Dan di bekas-bekas tapakmu, kukenali aroma kantil.

 

 

 

Suratan Bunga Sala (10/06)

 

Derik kayu pada rumah itu

Bukti kemesraan sang waktu.

Saat lengking yang disusul kenanga

Melipur gelapnya belantara,

Kita akan mendongak, mencari yang lalu,

Hanya ‘tuk menemui serta menuai:

Sekuntum bunga sala.

 

 

 

Si Pelipur (10/06)

 

Sulaman senyummu siapa kuasa meniru?

Maha sulapan dari keriangan murni

Serupa pesta raya di musim semi.

Dengannya, relung di kepala kembali satu,

Luka di jantung lenyap tak lagi berdarah,

Dan kerinduan rebah serasa di rumah.

 

Ratna!

Kunobatkan kau dukun bermahkota swarna,

Bernyanyilah dengan anggur dan mawar terkunyah!

 

 

 

Andai (23/06)

 

Andai kau dalam rentang tanganku, Ratna,

Akan kutarik kau menyusuri malam,

Mengejar tiap aroma yang kau idam,

Dan tenggelam dalam pesta paling meriah.

Ah, andai aku mampu menjemput tanganmu.

Lembut tanganmu bagai candu mustajab

Yang mendamaikan hatiku saat kalap

Di tengah gemuruh kembang tahun baru.

Tetapi sayang, Ratna, aku terkutuk.

Andaiku ini bak mimpi musim semi.

Bagai bulan di awang, terang dan suci,

Tapi di tangan? hanya gelap yang sejuk.

 

 

 

Angan di Masa Depan (24/06)

 

Aku berziarah lagi ke rumahmu

Dan kini berdiri di depan gerbangnya.

Rumah yang malam itu kau gambar biru

Hingga kini masih kentara di mata.

Halamannya luas—laksana harapmu—

Melahap kebisingan jalan utama.

Begitu luas hingga dari tempatku

Jendelamu terlihat hitam semata.

 

Hah panasnya, langit tampak begitu bersih

Hingga membutakan kelima indraku.

Klakson, asap, dan wajah pejalan kaki

Tersedimentasi di dasar kalbu.

Dan iskemia yang membujukku pergi,

Kutolak. Kuremas besi panas itu,

Menatap dari celahnya ‘tuk mencari

Suaraku di balik jendela gelapmu.

 

 

 

Zuhud (26/06)

 

Ya Ratna, adakah sudah kuning

Padi-padi di dadamu?

Ya Ratna, ladangku di sini banjir,

Rata dalam air bergeming

Di mana matahari memukul dua kali,

Pertama di ubun, lalu di kening.

Di atas pokok yang ditendang topan

Tiada sedu, Ratna, tiada sedu.

Aku semata-mata ingin tahu

Mengapa kita hidup kelaparan.

Menambal waktu dengan pemuasan

Tiada akhir

Yang pada hakikatnya perbudakan

Terfitrah?

Karenanya aku tak menyesal Ratna,

Badai kemarin tak kusesali.

Dan kini, jika kau berkenan,

Izinkanku menceburkan diri dalam

Dunia yang lain lagi.

 

 

 

Dalam Perjalanan ke Jepara (26/06)

 

‘Tuk satu kali ini,

Lanskap sore, cahya lembut nan damai,

Hadir mengantar pergi.

Au revoir, Ratna! Mari bertemu nanti

Bila krokot rekah di kota ini.

 

Lahir di Jepara pada 17 Agustus 2006. Dibesarkan di Kepahiang hingga lulus SMP. Saat ini belajar Sastra Prancis di Universitas Negeri Semarang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!