

sekarang, aku akan menjadi Zaheer yang membiarkan sebagian besar diriku menguap dan berlepasan di sepanjang jalan
biar jadi awan dan sesekali menghujaniku lagi dengan judul-judul kenangan apapun genrenya.
biar pengembara pada puisi-puisi patah hati itu punya bekal minum berjalan dari satu gurun ke gurun lainnya pula
itu kebun harus dijaga dan menjaganya lebih penting daripada menjagaku, tentu saja.
sebab kebun tak ke mana dan menghasilkan, sedang aku rajin pergi-pergi dan menghabiskan
lalu ke mana nama Bapak yang tersohor dan menjadi pujian orang-orang di desa? tak mungkin lepas karena anak ayam satu yang hilang rumah dan induknya
satu lagi kesalahan yang perlu nyali minimal buat menyesali, lah. sebab tubuh perlu juga kuteliti
itu kenangan datang lagi
satu-satu seperti gerimis yang nanggung dan membuat sakit, meringkuk badanku menjadi dingin.
rasa sakit menilang aku seperti polisi padahal tubuhku tak berakar mengikat sumpah-serapah yang serngnya ditelan lagi lalu dimuntahkan.
Maju, ayo maju!
majulah sini bertengkar denganku, tapi kau tidak.
kadang terhapus itu jejak setelah rumput jadi basah.
lihat lah itu si pelacur tak ada banderolnya! Merah betul bahkan tidak pula kusebutkan rupiah, cukup menjadi tidak bisu dan bilang “Iya, Sayang.”
tapi kesepianku menyiksa seperti orang-orang tua, dan kau mungkin tak akan pernah sampai ke sini menyeberangi kelas yang bukit berbaris itu
aku melihat bulan,
aku melihat seekor ular dan air terjun mekar tercebur
sedap malam di ujung bak mandi kamar Ibu
Ibuku bermimpi terbang jauh, jauh sekali menuju awan dan ketika ia berhasil menyentuh ujungnya,
dunia berbalik malah jadi laut dan ia tenggelam, katanya
Oh, di antara ini tinggi bangunan Sudirman
terasa sekali aku siapa-bukan
kecil seperti mudah terangin-angin
aku elus saja harimau putih, dan dari bulunya “Terbang lah sebuah bulan membutakan aku punya mata.” begitu katanya terakhir