Sajak Pelepasan

Sajak Pelepasan

sekarang, aku akan menjadi Zaheer yang membiarkan sebagian besar diriku menguap dan berlepasan di sepanjang jalan

biar jadi awan dan sesekali menghujaniku lagi dengan judul-judul kenangan apapun genrenya.

biar pengembara pada puisi-puisi patah hati itu punya bekal minum berjalan dari satu gurun ke gurun lainnya pula

itu kebun harus dijaga dan menjaganya lebih penting daripada menjagaku, tentu saja.

sebab kebun tak ke mana dan menghasilkan, sedang aku rajin pergi-pergi dan menghabiskan

lalu ke mana nama Bapak yang tersohor dan menjadi pujian orang-orang di desa? tak mungkin lepas karena anak ayam satu yang hilang rumah dan induknya

 

 

Satu Lagi Kesalahan yang Perlu Nyali

satu lagi kesalahan yang perlu nyali minimal buat menyesali, lah. sebab tubuh perlu juga kuteliti

itu kenangan datang lagi

satu-satu seperti gerimis yang nanggung dan membuat sakit, meringkuk badanku menjadi dingin.

rasa sakit menilang aku seperti polisi padahal tubuhku tak berakar mengikat sumpah-serapah yang serngnya ditelan lagi lalu dimuntahkan. 

Maju, ayo maju!

majulah sini bertengkar denganku, tapi kau tidak. 

kadang terhapus itu jejak setelah rumput jadi basah. 

lihat lah itu si pelacur tak ada banderolnya! Merah betul bahkan tidak pula kusebutkan rupiah, cukup menjadi tidak bisu dan bilang “Iya, Sayang.” 

tapi kesepianku menyiksa seperti orang-orang tua, dan kau mungkin tak akan pernah sampai ke sini menyeberangi kelas yang bukit berbaris itu

 

 

Aku Melihat Bulan

aku melihat bulan, 

aku melihat seekor ular dan air terjun mekar tercebur

sedap malam di ujung bak mandi kamar Ibu 

 

Ibuku bermimpi terbang jauh, jauh sekali menuju awan dan ketika ia berhasil menyentuh ujungnya, 

dunia berbalik malah jadi laut dan ia tenggelam, katanya

 

Oh, di antara ini tinggi bangunan Sudirman

terasa sekali aku siapa-bukan 

kecil seperti mudah terangin-angin 

 

aku elus saja harimau putih, dan dari bulunya “Terbang lah sebuah bulan membutakan aku punya mata.” begitu katanya terakhir

 

 

 

 

 

 

Author

  • Arini Joesoef

    Menulis puisi, prosa, melukis, dan bermusik tipis-tipis. Bukunya sudah 4, As Blue As You (2022), Jayanti (2023), Notes of The Lost Sheep (2024). dan Yusuf dan Sapi Betina (2025). Suka pamer dan suka bikin pameran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You might also like
grandpashabet | meritbet giriş | grandpashabet | grandpashabet giriş | meritking | bets10 | bets10 giriş | meritking | meritking giriş | bets10 giriş | bets10 | meritbet | holiganbet | holiganbet |