

Matahari beranjak pulang
Petang datang menggandeng malam Jelata melewati hari
dengan menyetubuhi waktu O
Wajah-wajah legam
Pulang dengan memanggul dendam Bau keringat
menyengat di jangan
Negara ini tak pernah ada bagi yang tak berkolega Suara itu jelas kudengar dari endapan kekecewaan
O
Wajah-wajah legam
Pulang memanggul dendam yang kau peram
Republik NGOTA Senami, 04 Mei 2025
Pohon karet setengah tua
terrbaca dari luka bekas sadapan di kulitnya Di bawah pohon karet berdaun muda
Lelaki itu menyandarkan punggungnya suatu siang selepas bekerja
Serombongan angin utara menyapa membawa kabar duka dari Sumatra
Dan menggoyang-goyang daun muda di atas kepala lengan kecil daun itu tak kuasa menolaknya
Daun gugur mengikuti takdirnya
Jatuh di sebelah sehelai daun tua
Yang mendahuluinya
Lelaki bangkit mendekati berniat memungut keduanya
“Beginilah, Tuan. Tua muda sama saja,” ucap daun tua tetiba
“Mati hanya punya satu syarat,” sambung daun muda
“Apa?” lelaki itu ingin tahu
“Tiba waktunya”, serentak mereka menjawab
Hening
Desau angin mencoba mengusir keheningan
Dipungutnya dua helai daun itu
Dikantongi untuk menemaninya pulang.
Republik NGOTA Senami, 01 September 2025
sebuah puisi
Aku bertemu Senami
Meliuk
Mengular sebermula jalan gapura Sridadi menuju Jangga Baru
Menyibak TAHURA Sultan Thaha Syarifuddin: yang menyisakan nama
Paginya hening di antara jeritan gergaji mesin yang bising
Juga riuh;
do’aku do’amu
do’a mereka
yang tak jemu memaksa Tuhan memenuhi apa yang tidak kita butuhkan
Kutemukan jejak para pendatang
di helai-helai daun karet yang dipaksa gugur angin kemarau
Nama-nama perantau di pelepah-pelepah sawit yang daunnya menguning tersebab harga pupuk yang meninggi
meninggi
Hingga tak terbeli
Kuhidu keringat pengadu keberuntungan di timbunan serbuk gergaji kayu Bulian-yang di hutan tinggal cerita
Syahwat hedon penguasa tambang batu bara
membumbung membersamai debu hitam dari roda hitam armada tambang
O
Oi
Puisi pun luruh seluruh lumpuh
di dada jalan yang berlubang
Seorang tetua kampung mengajakku menziarahi kenangan tentang; hutan yang perawan
Murai Batu Kacer
Cucak ijo Beo
Kancil
Rusa
Beruang
dan lainnya
Penyair menuliskannya di balik majas dan metafora dan membacakannya di alun-alun kota yang sepi Pecinta lingkungan kehilangan cintanya
dan lebih memilih mencintai dirinya sendiri sebagai manusia bukan malaikat!
Lalu
Apa yang bisa kulakukan? Menyetia pada;
kenangan pikiran
juga seikat harapan yang tak segar lagi;
Senami;
sebuah puisi.
Republik NGOTA Senami, 17 Agustus 2025
Lengang
Di sepanjang jalan berlubang kusisir rambut satu dua Senami
Di antara bangkai kayu Bulian
kutapaktilasi jejak yang tak utuh lagi
Lengang
Senja yang murung
lelah bersandar di punggung waktu
Tanpa jingga di wajahnya
Lengang
Sekeluarga babi hutan bingung hendak pulang
Lengang
Sisakan ngiang patah-patah jerit kayu Bulian yang sempat diucapkan
Lengang
Gerimis satu dua memaksa senja cepat pulang
Lengang.
Republik NGOTA Senami, 30 September 2025