

Barang murah belum tentu aman untuk kesehatan jangka waktu ke depan. Waspadalah sebelum mikro plastik itu memperburuk kesehatanmu.
Begitu lah kata saya yang baru selesai menonton The Plastic Detox tentang dampak langsung bahan kimia plastik terhadap kesuburan reproduksi.
Sekilas tentang film The Plastic Detox
Film ini berkisah tentang Shanna H. Swan, seorang peneliti mencoba membantu enam pasangan untuk memiliki keturunan.
Masing-masing pasangan memiliki kondisi yang berbeda. Ada yang sudah mencoba selama 22 bulan, ada yang 2 tahun, bahkan paling lama sampai 10 tahun penantian untuk mendapat anak. Dokumenter ini juga mengungkap masuknya bahan kimia ke dalam plastik yang lantas digunakan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga berpengaruh terhadap tingkat kesuburan dan kesehatan manusia.
Enam pasangan diminta untuk menghindari produk makanan dan minuman dari kemasan plastik, menghindari memakai produk pewangi dan parfum, pakai produk perawatan pribadi yang berbahan alami saja, dan menolak kertas struk belanja karna mengandung Bisphenol. Uji coba ini dilakukan selama 90 hari.
Tujuan Shanna sederhana, yaitu “Untuk melihat efek menurunkan eksposur dan bahan kimia plastik terhadap fertilitas” ungkapnya.
Shanna tertarik melakukan percobaan ini, dia bertanya-tanya.
“Apakah jumlah sperma menurun? Jika benar, kenapa? Bagaimana menunjukkan hal itu?”
Shanna, berhasil memecahkan teka-teki ini selama 25 tahun.
Posternya sudah ngasih clue dari keseluruhan isi film
Bergambar sendok, piring, printilan plastik dan tertulis “A Netflix Documentary”.
Jika kita membaca buku “Save The Cat! The Last Book on Screenwriting You’ill Ever Need” karya Blake Snyder, kita bakal menemukan istilah “High Concept”.
Istilah yang ditulis Jeffrey Katzenberg dan Michael Eisner (pakar muda Disney era 80-90an). Mereka bilang, kalau yang perlu kamu lakukan hanya melihat one-sheet (nama lain dari sebuah poster).
Singkatnya, dari gambar poster, bisa merepresentasikan logline atau “tentang apa?” film tersebut.
Dari keterangan diatas, mari kita artikan makna dari poster film The Plastic Detox itu.
Sendok dengan taburan plastik, bisa diartikan seperti memakan atau memasukkan plastik (mikroplastik) ke dalam tubuh kita.
Piring plastik? Barang yang sering banget dipakai buat makan sehari-hari.
Lalu, gimana dengan garpunya? Sudahl ah, abaikan dulu. Garpu saya hilang di kosan.
Peringatan!
Scene awal menunjukkan dapur & ruang tamu dari salah satu pasangan, begitu banyak barang yang berbahan dari plastik.
Terdapat juga tambahan efek visual + background music yang mendramatisir scene itu, bahan-bahan dari barang pribadi milik mereka nggak asing dengan barang-barang di kamar kosku! Baju, jaket, gagang pisau, botol, wadah sabun dll. Asli kaget dan saya berhenti menonton filmnya!
Aku langsung noleh ke cantolan baju yang amburadul itu. “Juuuancok, fix iki polyester”.
Ternyata mikro plastik se-berbahaya itu, ya!
Cuplikan pada bagian awal film dokumenter tersebut membuat otak saya berangan-angan, bahwa ada lho, pasangan yang susah hamil cuma gara-gara mereka pakai sutil plastik untuk masak. Iya, sutil!
Aku terpaku, terdiam. Kemudian kulihat sekeliling kamar, Mostly barang-barang di kosku itu ya plastik semwaaa!
Plastik Stella kopi sejak zaman Prabowo nyapres yang belum tak ganti sampai detik ini, masih nggantung di kipas angin spek geleng-geleng mirip kepala bapak-bapak tahlilan, galon Aqua isi ulang lima ribuan, botol sabun cuci So Klin refill warna merah menggoda, ember cuci hitam yang gagangnya karaten, bahkan sampai botol minyak urut Kutus-Kutus. Itu semua dari plastik!
Belum lagi teman-temanku yang nitipin barang buuanyakk banget, mana berbahan plastik semua. Hadehhh
Gelas, piring, sendok, meja lipat gambar doraemon, dll.
Mereka nitip karena magang di luar kota. Sakjane gak keberatan, tapi ya… woii ndang balik woiii, Iki plastik kabeh!
Ngomong-ngomong, kalau bahaya plastik sudah ada versi dokumenternya, ya sah-sah aja menurutku kalau itu merupakan bentuk peringatan bagi kita.
Alasannya pertama, film dokumenternya berdasarkan riset yang mendalam. Data, buku, jurnal, dan pendapat ahli menjadi landasan kuat.
Kedua, kejadiannya benar-benar terjadi.
Ketiga, dekat sekali dengan kita.
“Tapi Mas, kan cuma film”
Fix! Aku wis ingin tereak “Ini dokumenter!!!”
Sejatinya, dokumenter bisa menjadi ‘pintu masuk’ dan membuat orang yang tadinya gak peduli atau bahkan nggak tau soal bahaya plastik Itu bisa mulai mencari tahu lebih dalam.
Mau berterima kasih sekaligus minta maaf.
Terima kasih bagi tim produksi film dokumenter tersebut & Ibu Shanna (peneliti) karena sudah menyadarkan penonton perihal bahaya mikro plastik melalui film.
Saya meminta maaf, kepada diri saya sendiri. Saat ini masih banyak menggunakan barang berbahan plastik. Saya akan menolak struk Alfamart, mencoba berhenti mengambil sedotan di angkringan, dan segera mencari ilmu kebal panas supaya bisa menonaktifkan sutil di kosan.
Kesimpulan
Sebagai mahasiswa dengan duit pas-pasan, ingin sebenarnya ikut tren healthy life, tapi barang berbahan plastik memang yang paling masuk akal dan ramah di kantong harganya.
Seseorang akan bertanya, “Lho Mas, kan harga plastik naik to sekarang?”
Ya sudah, anggap saja sebagai peringatan kalau kita udah over-use plastik. Justru kalau mahal ya jangan dibeli, tumpuk saja dan simpan lagi. Pakai jadi gelang kalau bisa, siapa tahu harganya naik minggu depan dan bisa dijual.
Kalau pun ada perdebatan tentang dampak kenaikan harga plastik, pemerintah tolong dong di ini-in. Apa lah pokoknya di-anuin please.
Bukan urusanku, urusanku masih jengkel karena barang di kosku banyak plastiknya.
Coba wahai pembaca, lihatlah barang-barang di sekelilingmu! Masih banyak plastik juga, kan?