Saat Kita Saling Jatuh Cinta

Malam tidak selalu menjanjikan keindahan. Lampu-lampu yang bertaburan di taman-taman pusat kota kerap hanya menjadi ornamen sunyi bagi jiwa-jiwa yang lelah. Gedung-gedung tinggi yang menjulang seperti hutan beton pun tak selalu memberi rasa kagum; kadang justru menghadirkan kesepian yang dingin dan membosankan. Seperti manusia, kota pun punya sisi gelap seperti sunyi, muram, dan tak selalu ramah bagi hati yang mencari ketenangan.

Begitu pula manusia. Tak selamanya mereka berjalan beriringan. Ada saatnya berpisah, sebagaimana laut yang kadang tenang, kadang menyimpan badai. Atau seperti musim yang berubah tanpa aba-aba, tak pernah bisa ditebak kapan hujan datang, kapan kemarau mengeringkan segalanya.

Seorang pemuda turun dari sepeda motor matik berwarna biru yang terparkir rapi di halaman kampus. Ia mengenakan kemeja flanel kotak-kotak biru putih, celana panjang hitam, dan kaus putih sederhana. Wajahnya cukup tampan—sekilas mengingatkan pada aktor Bollywood yang sering menjadi idola layar perak. Tubuhnya proporsional, lengannya tak terlalu kekar, namun memberi kesan tenang. Kulitnya kuning langsat, hidungnya mancung, dan sepasang matanya memancarkan keteduhan yang jarang dimiliki lelaki seusianya.

Langkahnya mantap menuju kantin kampus. Sepanjang jalan, beberapa gadis cantik dan seksi menyapanya, melambaikan tangan dengan senyum genit yang terlatih. Ia membalas sekadarnya saja. Tersenyum tipis yang lebih menyerupai kebiasaan, bukan maksud tertarik atau apa. Bukan karena ia merasa terlalu tampan, melainkan karena hatinya sedang mencari sesuatu yang lain. Ia ingin bertemu seorang gadis yang mampu membuatnya jatuh cinta bukan hanya semalam, tetapi selamanya. Jika Tuhan berkenan, hingga akhir hayat.

Di salah satu meja kantin, duduk seorang pemuda lain. Tubuhnya tegap, kulitnya putih bersih, dan aura percaya diri terpancar dari cara duduknya. Sekilas, ia tampak seperti tipe lelaki yang mudah membuat perempuan jatuh hati—atau mungkin, mudah jatuh pada banyak perempuan. Pemuda itulah yang sejak tadi menunggunya.

“Apakah kamu bisa membantuku, Sobat?” tanya pemuda berkulit putih itu, membuka percakapan.

“Apa yang bisa aku bantu?” jawab pemuda itu sambil duduk di bangku kayu panjang kantin.

Tangan lelaki itu menyelusup ke saku jaketnya, lalu mengeluarkan sebuah ponsel android. Ia menampilkan sebuah foto. Seorang gadis berjilbab pink tersenyum manis di layar. Wajahnya lembut, matanya bening, dan senyumannya memancarkan kehangatan yang diam-diam mencuri perhatian.

Kening pemuda itu sedikit berkerut.

“Ini calon tunanganku,” ujar lelaki berkulit putih itu. Namanya Ferry.

“Lalu, apa yang harus aku lakukan?” tanya pemuda itu, suaranya datar.

“Sudah sebulan ini sikapnya berubah,” kata Ferry, suaranya mulai terdengar gelisah. “Dia tidak pernah mengangkat teleponku. Pesan WhatsApp-ku tak pernah dibalas. Aku sudah mencoba menghubunginya berkali-kali, tapi nihil. Aku benar-benar tidak tahu apa salahku.”

“Lalu, kenapa kamu meminta bantuanku?”

Ferry menarik napas panjang, lalu menjelaskan. Ia ingin pemuda itu—yang dikenalnya sebagai penulis roman—mendekati calon tunangannya, sekadar mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Padahal, sebulan sebelumnya, hubungan mereka baik-baik saja. Gadis itu mau diajak liburan ke Gunung Bromo. Boneka beruang biru yang ia belikan dari Singapura diterima dengan senyum. Mereka sering berbincang lewat video call, bertukar pesan hingga larut malam.

“Aku yakin kamu bisa menanyakannya,” kata Ferry mantap. “Kamu ahlinya soal perasaan.”

Pemuda itu tersenyum tipis. “Kamu tahu kan aku belum pernah benar-benar dekat dengan perempuan? Pacar saja aku belum punya.”

“Justru itu,” potong Ferry cepat. “Kamu penulis roman. Kata-katamu bisa meluluhkan hati perempuan. Aku ingin kamu membuatnya kembali mencintaiku. Orangtuaku sangat berharap aku menikah dengannya.”

Pemuda itu terdiam sejenak, lalu bertanya pelan, “Apakah calon tunanganmu tahu kalau kamu punya pacar selain dirinya? Atau itu sebabnya sikapnya berubah?”

“Tidak,” sanggah Ferry cepat. “Dia sama sekali tidak tahu.”

Pemuda itu menghela napas. “Baiklah. Aku akan membantumu. Aku akan mengembalikan calon tunanganmu ke tanganmu.” Ia berhenti sejenak, lalu bertanya, “Siapa namanya?”

“Imel. Dia mahasiswi UIN.”

Pemuda itu mengangguk. Matanya kembali menatap layar ponsel, memandangi wajah Imel. Senyum gadis itu seperti aliran listrik yang menyentuh dadanya—singkat, namun cukup untuk membuat jantungnya bergetar. Ia segera mengalihkan pandangan, menegur dirinya sendiri. Ia tahu, pikiran-pikiran semacam itu bisa menjadi celah bagi hati untuk tergelincir, menjauh dari Tuhan dan niat awal.

“Ingat,” kata Ferry sambil menatapnya tajam, “jangan sampai kamu jatuh cinta padanya.”

Kalimat itu melayang di udara, seperti peringatan sekaligus firasat.

***

Azzam menurunkan ponselnya perlahan. Foto Imel masih tertinggal di layar, seperti cahaya kecil yang enggan padam meski jari telah menjauh. Ada sesuatu yang mengganggu dadanya—bukan sekadar rasa penasaran, melainkan denyut halus yang tak ia kenali sebelumnya. Ia menutup layar ponsel itu dan memasukkannya kembali ke saku jaket, seakan ingin mengurung perasaan yang baru saja terbit sebelum sempat tumbuh menjadi api.

“Aku tidak akan jatuh cinta padanya,” gumamnya pelan, entah untuk Ferry atau untuk dirinya sendiri.

Hari-hari berikutnya membawa Azzam pada dunia yang tidak pernah ia rencanakan. Ia mulai mencari cara untuk mendekati Imel dengan alasan yang paling sederhana: diskusi akademik. UIN Sunan Kalijaga bukanlah tempat yang asing baginya. Ia sering datang ke sana untuk mencari buku di perpustakaan atau sekadar duduk di taman kampus, menulis catatan kecil tentang hidup dan manusia.

Pertemuan pertama mereka terjadi di perpustakaan lantai dua. Imel duduk di dekat jendela, mengenakan jilbab krem dan kemeja panjang biru muda. Di hadapannya terbuka buku tebal tentang filsafat Islam. Cahaya matahari sore menyentuh pipinya, membuat wajahnya tampak tenang, seperti halaman kitab yang lama dibaca.

“Maaf,” kata Azzam dengan suara rendah, “Apakah ini kursi kosong?”

Imel mendongak. Matanya jernih, sedikit terkejut, lalu tersenyum sopan. “Iya, silakan.”

Azzam duduk, menjaga jarak sewajarnya. Ia membuka buku lain, pura-pura membaca, padahal pikirannya sibuk menyusun kalimat. Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang justru terasa nyaman.

“Kamu mengambil mata kuliah Filsafat Tasawuf?” tanya Azzam akhirnya, menunjuk buku Imel.

“Iya,” jawab Imel. “Kadang berat, tapi aku suka. Ada ketenangan di dalamnya.”

Azzam tersenyum kecil. “Aku juga merasa begitu. Tasawuf seperti mengajarkan kita untuk berdamai dengan diri sendiri sebelum berdamai dengan dunia.”

Percakapan itu mengalir begitu saja, tanpa paksaan. Mereka berbicara tentang buku, tentang dosen yang terlalu kaku, tentang puisi Rumi dan Hamzah Fansuri. Azzam terkejut menemukan betapa nyambungnya mereka. Imel tidak hanya cantik, tetapi juga cerdas dan tajam dalam berpikir. Ia bertanya, menanggapi, dan kadang menyela dengan pendapat yang membuat Azzam terdiam sejenak.

Di dalam hatinya, Azzam mulai merasa ada sesuatu yang salah. Terlalu nyaman. Terlalu mudah. Padahal niatnya datang adalah untuk Ferry.

Beberapa hari kemudian, mereka mulai sering bertemu. Di kantin kampus, di taman, atau di lorong perpustakaan. Imel perlahan membuka diri, meski tetap menjaga batas. Ia bercerita tentang kegelisahannya, tentang perubahan sikap Ferry yang ia rasakan meski tak bisa ia jelaskan sepenuhnya.

“Aku tidak tahu kenapa,” kata Imel suatu sore. “Aku merasa … jauh. Padahal dia tidak melakukan kesalahan besar. Tapi hatiku seperti tidak di sana lagi.”

Azzam mendengarkan dengan saksama. Inilah saatnya ia melakukan tugasnya.

“Ferry itu orang baik,” kata Azzam dengan hati-hati. “Mungkin dia hanya tidak pandai mengekspresikan perasaannya. Kadang lelaki memang begitu.”

Imel menatapnya, seolah mencari kejujuran di wajahnya. “Kamu mengenalnya dengan baik?”

“Cukup,” jawab Azzam. “Dia mencintaimu. Itu yang aku tahu.”

Imel terdiam. Angin sore menggerakkan dedaunan di sekitar mereka. Dalam diam itu, Azzam merasakan sesuatu yang perih. Setiap kali ia memuji Ferry, ada bagian dari dirinya yang terasa tercabut.

Hari-hari berubah menjadi minggu. Kedekatan mereka justru semakin dalam. Diskusi menjadi lebih personal. Mereka berbicara tentang mimpi, tentang ketakutan, tentang cinta yang ideal. Imel tertawa lebih lepas bersama Azzam dibandingkan saat ia bercerita tentang Ferry.

“Kamu aneh,” kata Imel suatu kali. “Kamu selalu membuatku berpikir.”

Azzam tersenyum pahit. “Itu tidak selalu hal yang baik.”

“Bagiku, itu hal yang penting,” jawab Imel pelan.

Perasaan itu akhirnya tidak bisa lagi dibohongi. Azzam mulai merindukan kehadiran Imel. Ia menunggu pesan darinya. Ia menahan diri untuk tidak terlalu sering menghubungi, tapi hatinya sudah terlanjur jatuh.

Imel pun merasakannya. Ia mencoba melawan, mengingat statusnya sebagai calon tunangan Ferry. Namun setiap kali bersama Azzam, hatinya terasa pulang.

Di tengah kebingungan itu, muncullah Nisa.

***

Nisa adalah sahabat Imel sejak semester awal. Ia dikenal ramah, mudah bergaul, dan selalu tampak peduli. Suatu sore, mereka duduk berdua di kafe kecil dekat kampus.

“Mel,” kata Nisa sambil mengaduk minumannya, “kamu kelihatan berubah akhir-akhir ini.”

Imel tersenyum tipis. “Masa?”

“Kamu sering menyebut nama Azzam,” lanjut Nisa, nada suaranya datar. “Kamu hati-hati saja.”

Imel mengernyit. “Maksudmu?”

Nisa mendesah, seolah ragu. “Aku dengar-dengar… Azzam itu bukan lelaki baik-baik. Katanya dia playboy. Banyak perempuan yang dekat dengannya.”

Imel terdiam. “Dari siapa kamu dengar?”

“Dari orang-orang,” jawab Nisa cepat. “Aku cuma tidak ingin kamu terluka.”

Kata-kata itu seperti racun yang meresap perlahan. Imel mulai menjaga jarak dari Azzam. Pesannya dibalas singkat. Ajakan bertemu ditolak dengan alasan sibuk.

Azzam merasakan perubahan itu. Hatinya gelisah. Ia tidak tahu apa yang salah. Hingga suatu sore, mereka akhirnya bertemu di taman kampus, setelah Azzam memaksa dengan cara paling sopan.

“Imel,” kata Azzam, “apa aku melakukan sesuatu yang membuatmu menjauh?”

Imel menunduk. “Tidak. Aku hanya … butuh waktu.”

Sebelum Azzam sempat bertanya lebih jauh, terdengarlah suara tepuk tangan dari arah belakang.

“Luar biasa,” kata suara itu. “Kalian terlihat seperti adegan terakhir film romantis.”

Mereka menoleh bersamaan. Ferry berdiri beberapa meter dari mereka, tersenyum tipis, matanya dingin.

“Apa maksudmu?” tanya Azzam, berdiri.

Ferry melangkah mendekat. “Aku yang menyuruh Nisa untuk mengatakan itu pada Imel.”

Imel terkejut. “Kamu … apa?”

“Aku tahu kalian dekat,” kata Ferry. “Aku tidak bodoh. Dan aku tidak mau kehilanganmu.”

“Apa dengan cara memfitnah?” suara Azzam bergetar, antara marah dan kecewa.

Ferry tertawa kecil. “Kamu terlalu polos, Zam. Dunia tidak sesederhana yang kamu tulis di novel-novelmu.”

Imel menatap Ferry, matanya berkaca-kaca. “Kamu menghancurkan kepercayaanku.”

“Tidak,” jawab Ferry cepat. “Aku hanya mempertahankan hakku.”

Azzam menghela napas panjang. “Cinta bukan hak milik.”

Keheningan jatuh di antara mereka. Angin sore berhembus pelan, membawa serta rasa perih yang tak terucap.

“Aku mencintai Imel,” kata Azzam akhirnya. “Dan aku tahu itu salah sejak awal.”

Imel menatapnya, air mata jatuh di pipinya. “Aku juga mencintaimu.”

Kata-kata itu seperti pisau yang menusuk dada Ferry. Ia terdiam, lalu berbalik pergi tanpa berkata apa-apa.

***

Malam itu, Imel duduk sendirian di kamarnya. Ia memikirkan semuanya. Tentang niat baik yang berujung luka. Tentang cinta yang datang tanpa izin. Ia sadar, cinta tidak selalu hadir untuk dimiliki, kadang hanya untuk mengajarkan kejujuran.

Beberapa hari kemudian, Imel menemui Ferry. Dengan tenang, ia mengembalikan cincin tunangan.

“Aku tidak bisa melanjutkan ini,” katanya. “Bukan karena Azzam. Tapi karena aku tidak ingin memulai pernikahan dengan kebohongan.”

Ferry menerima cincin itu tanpa berkata apa-apa.

Azzam dan Imel akhirnya memilih jalan masing-masing. Mereka saling mencintai, tapi juga saling melepaskan. Bagi mereka, cinta bukan hanya tentang memiliki, tetapi tentang keberanian untuk jujur dan bertanggung jawab.

Di suatu malam yang sunyi, Azzam menulis di buku catatannya:

Kadang cinta datang bukan untuk dimiliki, melainkan untuk mengajarkan kita tentang diri sendiri. Dan saat kita saling jatuh cinta, kita belajar bahwa tidak semua pertemuan ditakdirkan untuk bersama.

Author

  • Khairul A. El Maliky

    Pernah mengenyam pendidikan di UNY prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Bercita-cita menjadi seorang guru yang profesional dan tentu saja sejahtera. IG @hisyambillyaalwajdi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
grandpashabet | grandpashabet | grandpashabet giriş | pashagaming | grandpashabet giriş | grandpashabet | grandpashabet | grandpashabet | stresser | betnano | ultrabet | ultrabet | grandpashabet | grandpashabet giriş | grandpashabet | grandpashabet | grandpashabet giriş | perabet | perabet giriş | grandpashabet | grandpashabet giriş | roketbet | roketbet giriş | royalbet | royalbet giriş | roketbet | grandpashabet | royalbet | galabet | galabet giriş | galabet | romabet | romabet giriş | galabet | galabet giriş | romabet güncel giriş | how to create invoices | how to create an invoice | how to pronounce | how to pronounce nguyen | how to pronounce pho | hiltonbet | hiltonbet giriş | roketbet | جلب الحبيب | فك السحر | جلب الحبيب | فك السحر | جلب الحبيب خلال 24ساعه | جلب الحبيب | فك السحر | جلب الحبيب | فك السحر | جلب الحبيب خلال 24ساعه |