

Pernah gak sih kamu lihat tradisi lama yang sampai sekarang masih tetap dijaga padahal zaman sudah semakin modern dan teknologi juga semakin canggih?
Ternyata, masih ada masyarakat yang tetap mempertahankan tradisi warisan leluhurnya. Satu diantaranya adalah tradisi Ruwat Bumi Guci yang berasal dari Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. Tradisi ini bukan hanya sekadar acara tahunan biasa, tetapi juga menjadi bentuk rasa syukur masyarakat kepada Tuhan, penghormatan terhadap alam, sekaligus cara untuk menjaga budaya agar tidak hilang begitu saja.
Ruwat Bumi Guci dilaksanakan setiap Muharram dan bertempat di Kawasan Wisata Guci, Kabupaten Tegal. Tradisi ini melibatkan dua desa sekaligus, yaitu Desa Guci dan Desa Rembul. Masyarakat di sana percaya bahwa tradisi ini memiliki makna yang penting bagi kehidupan mereka. Selain sebagai bentuk rasa syukur atas hasil bumi dan limpahan rezeki, Ruwat Bumi juga dipercaya dapat menolak bala atau bencana. Menariknya lagi, tradisi ini selalu berhasil menarik perhatian banyak orang, baik warga sekitar maupun wisatawan.
Kalau mendengar kata โruwatโ, mungkin sebagian orang akan merasa penasaran.
Sebenarnya apa sih arti dari ruwat bumi itu sendiri?
Dalam budaya Jawa, ruwatan berarti ritual untuk membersihkan atau menolak hal-hal buruk agar kehidupan menjadi lebih baik dan tenteram karena itu lah, tradisi ini dianggap sakral oleh masyarakat setempat.
Rangkaian acara Ruwat Bumi Guci biasanya dimulai dari pertemuan para sesepuh Desa Guci dan Desa Rembul di depan pintu masuk Pancuran 13. Tempat ini merupakan salah satu ikon wisata terkenal di Guci karena memiliki sumber air panas alami. Suasana di sana biasanya sudah ramai sejak pagi. Banyak warga yang datang untuk menyaksikan jalannya ritual, bahkan tidak sedikit wisatawan yang sengaja datang hanya untuk melihat tradisi tersebut secara langsung.
Setelah para sesepuh berkumpul, acara dilanjutkan dengan penyerahan dua ekor kambing kendit untuk dimandikan di Pancuran 13. Nah, bagian ini sering membuat banyak orang penasaran.
Mengapa harus kambing kendit?
Kambing kendit adalah kambing yang memiliki ciri khas berupa warna hitam dengan garis putih melingkar di bagian perut seperti sabuk. Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, kambing ini dianggap memiliki nilai simbolis dan sering digunakan dalam ritual adat.
Bagi sebagian orang, tradisi memandikan kambing mungkin terdengar aneh. Namun, di balik itu semua sebenarnya terdapat makna yang cukup dalam. Ritual tersebut dipercaya sebagai simbol penyucian dan harapan agar masyarakat dijauhkan dari musibah. Dari sini kita bisa melihat bahwa setiap tradisi pasti memiliki filosofi tersendiri, meskipun terkadang sulit dipahami oleh orang di luar daerah.
Setelah prosesi memandikan kambing kendit selesai, acara dilanjutkan dengan memandikan pusaka dan menaburkan bunga mawar serta melati di sekitar Pancuran 13. Suasana pada saat itu terasa sangat sakral. Aroma bunga bercampur dengan udara dingin khas Guci membuat tradisi ini terasa semakin unik. Tidak jarang juga ada beberapa orang yang mengalami kerasukan saat ritual berlangsung. Meskipun terdengar menyeramkan, masyarakat setempat sudah menganggap hal tersebut sebagai bagian dari tradisi yang dapat dikendalikan oleh para sesepuh desa.
Menurut saya, bagian paling menarik dari Ruwat Bumi Guci adalah tradisi ngalap berkah dengan berebut gunungan hasil bumi. Gunungan tersebut berisi berbagai macam sayur-mayur dan hasil panen warga yang sebelumnya diarak keliling desa. Setelah doa bersama selesai, ratusan warga langsung menyerbu gunungan tersebut. Mereka saling berebut karena percaya hasil bumi itu membawa keberkahan.
Kalau dipikir-pikir, tradisi ini memang sederhana, tetapi suasananya sangat meriah. Bayangkan saja, orang-orang dari berbagai usia berkumpul bersama dengan penuh semangat hanya untuk mendapatkan beberapa sayuran atau hasil bumi. Namun, justru di situ lah letak nilai kebersamaannya. Tradisi seperti ini mampu mempererat hubungan antarwarga dan menciptakan rasa kekeluargaan yang kuat.
Selain menjadi ritual adat, Ruwat Bumi Guci juga memberikan dampak positif bagi pariwisata daerah. Saat acara berlangsung, kawasan wisata Guci biasanya dipenuhi pengunjung. Banyak pedagang yang ikut berjualan sehingga ekonomi masyarakat sekitar juga ikut terbantu. Tradisi ini akhirnya bukan hanya menjadi acara budaya, tetapi juga menjadi hiburan tahunan yang selalu dinanti.
Di zaman sekarang, tidak sedikit tradisi daerah yang mulai dilupakan oleh generasi muda. Banyak anak muda yang lebih tertarik pada budaya luar dibandingkan budaya daerah sendiri. Padahal, tradisi seperti Ruwat Bumi Guci merupakan bagian dari identitas budaya Indonesia yang sangat berharga. Kalau bukan generasi muda yang menjaga, lalu siapa lagi?
Menurut saya, tradisi ini perlu terus dilestarikan karena mengandung banyak nilai positif. Selain mengajarkan rasa syukur kepada Tuhan, tradisi ini juga mengajarkan pentingnya menjaga alam dan menghargai warisan budaya leluhur. Apalagi Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan budaya dan tradisi. Setiap daerah memiliki keunikan masing-masing yang tidak dimiliki daerah lain.
Ruwat Bumi Guci membuktikan bahwa tradisi lama tetap bisa bertahan di tengah perkembangan zaman. Walaupun dunia semakin modern, masyarakat Desa Guci dan Desa Rembul tetap menjaga warisan budaya mereka dengan penuh semangat. Tradisi ini bukan hanya sekadar ritual tahunan, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan, rasa syukur, dan penghormatan terhadap alam.
Setelah mengetahui cerita tentang Ruwat Bumi Guci, apakah kamu jadi tertarik untuk melihatnya secara langsung? Atau mungkin kamu jadi sadar bahwa tradisi daerah sebenarnya sangat menarik untuk dipelajari?
Pada akhirnya, budaya bukan hanya tentang masa lalu, tetapi juga sebagai pengingat bahwa kita harus menjaganya agar tetap hidup di masa depan.
Akrab disapa Sakana. Tertarik pada dunia menulis. Instagram @sakananadila32
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!