Riwayat Terlupakan dari Manusia yang Terbang ke Bulan

Warga sekitar memanggilnya dengan nama Rusdi Betrik. Panggilan yang biasanya dialamatkan ke seseorang dibarengi isyarat menggoreskan telunjuk menyamping di depan dahi dari satu sisi ke sisi lainnya. Boleh dibilang, kabetrik merupakan istilah di daerah kami untuk menyebut seseorang yang tidak memenuhi kriteria waras, tapi belum sampai ke tahap untuk bisa disebut gila.

Rusdi Betrik tumbuh tanpa kedua orangtuanya. Ayahnya meninggal terkena angin duduk ketika Rusdi masih empat bulan dalam kandungan. Tanpa diagnosa mantri, orang-orang menyimpulkan itu akibat kebiasaannya bertelanjang dada saat bersepeda pagi buta untuk menjajakan garam dagangan dari desa ke desa.

Ketika Rusdi lahir, paraji harus bersusah payah membantu persalinan karena posisi janinnya sungsang, jadi kakinya keluar lebih dulu, dan sebelum genap berusia enam bulan, ibunya pamit berangkat menjadi TKI ke Taiwan demi menyambung hidup. Sejak itu Rusdi diasuh oleh neneknya, dengan Teh Esih sebagai ibu susu. Teh Esih melakukannya dengan sukarela, sebab pada waktu yang sama ia memang sedang menyusui anaknya sendiri yang baru lahir.

Gelagat kebetrikan Rusdi tidaklah muncul begitu saja. Semua bermula ketika kami duduk di kelas 3 madrasah. Kami bermain bola di sawah saat hujan deras. Tak peduli meski kilat menyambar bersahutan. Permainan menjadi semakin seru, karena bola hampir tidak bisa bergulir akibat sawah yang becek penuh lumpur. Rusdi mengenakan jersey Parma dengan nama punggung Hernan Crespo yang sablonannya sudah agak terkoyak. Ia menggiring bola dengan liar. Beradu betis. Belepotan lumpur. Bau tengik. Dan, Menggilas kaki lawan-lawannya. Tiba-tiba petir menyambar tak jauh dari tempat kami bermain, sehingga membuat pohon kelapa di sekitarnya bergoyang. Beberapa anak spontan menjatuhkan diri ke tanah. Namun, sebutir kelapa seukuran kepala orang dewasa sekonyong-konyong menghantam tepat ke ubun-ubun Rusdi. Ia terkapar, lalu menggelinjang seperti seekor sapi kurban yang baru saja disembelih. Tak lama setelah erangan panjang terakhirnya, ia terbujur kaku tak sadarkan diri dengan mata terbelalak. Kami semua terkejut, mengira ia sudah mati. Tanpa pikir panjang, semuanya ngibrit berlarian, karena takut disalahkan.

Aminudin Badil, yang berdiri paling dekat dengan Rusdi saat kejadian, tak pernah keluar rumah hingga dua hari lamanya. Sampai tersiar kabar kalau Rusdi sudah siuman, setelah bekas luka di kepalanya dibalur salep sapu jagat pikangcuang tiga kali sehari. Ya, untung saja Rusdi selamat dari peristiwa naas itu. Hanya saja, sejak saat itu otaknya jadi sedikit konslet. Bicaranya sering melantur kesana-kemari dan tak nyambung bila diajak ngobrol. Sementara, tingkah lakunya juga sering aneh-aneh. Kadang, alih-alih ikut bermain gundu dengan anak-anak lain, Rusdi lebih memilih menangkapi capung untuk digigitkan ke udelnya sendiri. Ia berkata supaya dirinya tidak mengompol lagi, sambil tertawa geli. Di madrasah pun, Rusdi kesulitan mengikuti pelajaran. Menurut Pak Endang Setiawan guru MTQ, ia jadi lebih mudah terdistraksi dan sulit fokus belajar. Alhasil, nilainya jeblok semua. Dan, hafalannya terpaksa turun kembali ke Iqro 2.

Sebelum Rusdi dikenal dengan julukan demikian. Salah seorang sanak familinya juga pernah mendapat panggilan yang sama. Sebutlah, Anang Koswara. Adik pertama Ayahnya Rusdi. Katanya, julukan itu melekat pada Anang Koswara sejak ia mengamuk tak karuan di pelaminan Ai Pratiwi dengan Mustofa Bisri. Dia bergelantungan di tiang panggung orkes sambil meneriakan nama Ai Pratiwi, serupa kesambet jin ifrit. Seluruh warga yang ada di lokasi sempat menganggapnya kesurupan. Sampai-sampai harus diamankan oleh pria berseragam ABRI yang kebetulan melintas.

Tapi makin hari, kondisi Anang Koswara semakin tak tertolong. Ia kerap hadir di setiap hajatan yang digelar warga dengan mengenakan pakaian yang tak lazim. Misalnya, di hajat khitanan anaknya Andi Darta lima tahun ke belakang, yang digelar pada panen ketiga. Anang Koswara datang mengenakan daster yang dimasukan ke celana kolor, dipadukan dengan kaos kaki bola yang panjangnya sampai ke tulang kering. Ditambah topi bertuliskan panitia pengawas pemilu yang entah dari mana didapatnya, membuat penampilannya kian tak karuan.

Ada yang bilang, kondisinya sekarang merupakan buah dari kegagalannya mengamalkan pelet atau, daerah kami menyebutnya “elmu teu kataekan“. Delapan bulan sebelum Ai Pratiwi melangsungkan pernikahan. Anang Koswara sempat menyatakan cinta kepada Ai Pratiwi, namun ditolak mentah-mentah. Ternyata, sebabnya Ai Pratiwi sedang pedekate-an dengan Mustofa Bisri. Seorang aparatur desa yang kata ibu-ibu pengajian mirip dengan pemain Sinetron, Dude Herlino.

Anang Koswara pun hilang akal. Ia datang ke orang pintar di desa sebelah untuk meminta jampi-jampi ajian puter giling. Dengan maksud supaya Ai Pratiwi tergila-gila padanya. Tiap malam Selasa Legi, Anang Koswara selalu menyemprotkan minyak air mata putri duyung ke bunga kamboja yang dibungkus serabut kelapa, lalu dibakar bersamaan dengan dupa. Namun, amalannya tak berbuah hasil, lantaran Ai Pratiwi dan Mustofa Bisri malah terlihat mantap untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius. Kestabilan jiwa Anang Koswara pun goyah, hingga akhirnya meledak di hari pernikahan mereka.

Tragedi pernikahan Ai Pratiwi dan Mustofa Bisri, kami anggap belum seberapa. Anang Koswara bahkan pernah membuat gempar satu desa gara-gara memainkan toa masjid pada malam hari. Ia meracau di pengeras suara bak pengkhotbah ulung di sidang jumat. Kurang lebih penggalan kalimatnya berisi peringatan mengenai Yajuj dan Majuj yang akan sampai di gapura desa esok hari, tepat pukul delapan pagi. Katanya kedatangan mereka merupakan pertanda bahwa kiamat kubro akan melanda desa ini. Dramatisnya lagi, Anang Koswara menyertakan ayat-ayat pendukung narasinya, yang entah benar atau tidaknya ada di Al-Qur’an. Sontak warga pun ketakutan setengah mati. Apalagi siang hari sebelumnya, awan berbentuk mata menggantung di langit dan bikin warga geger. Warga percaya bahwa itu merupakan mata malaikat, dan dimaknai sebagai peringatan bencana sebagaimana yang terjadi saat gempa di Padang beberapa bulan lalu. Anak-anak madrasah pun akhirnya dipulangkan lebih awal, karena takut terjadi hal yang tidak diinginkan. Jika mengingat lagi kejadian itu, kami mungkin hanya bisa mengumpat sambil menggeleng. Taik!

Jamilah barangkali menjadi yang paling mujur nasibnya di antara silsilah keluarga Rusdi yang lain. Adik bungsu mendiang Ayahnya Rusdi ini menikah dengan seorang juragan pulsa, lalu ikut menetap di Jakarta, hingga kemudian melahirkan seorang anak perempuan yang dinamai Munajat Cinta, saking gemarnya sang suami pada grup band Triad. Jamilah hanya pulang ke desa menjelang Lebaran untuk mengadakan acara hantaran, dan setiap kepulangannya, Rusdi hampir selalu dibelikan jajanan yang tak pernah dijumpai di warung desa. Tahun kemarin saja, ia dibawakan Susu Boneto, Es Mony, Caprisonne, dan sejenisnya, yang mana semuanya tampak asing di mata kami. Sedangkan, jajanan yang paling baru di desa, cuma sekedar cemilan rambut nenek dan minuman bersoda yang disajikan di cup kecil, lalu ujung sedotannya dikasih gulali. Itu pun katanya sudah ada di kota sejak beberapa tahun yang lalu.

Di desa kami, memang masih ada tradisi hantaran makanan sebelum Lebaran. Setiap keluarga yang mengadakan hantaran, pasti selalu dibantu oleh ibu-ibu sekitar rumahnya untuk menyiapkan masakan. Makanan yang dibagikan isinya tak jauh dari nasi, daging krewed, kentang kumeli dan bihun. Dari situlah asal-usul bibiye saat lebaran ada, karena saking banyaknya yang mengantar makanan dan hampir pasti selalu tak habis dimakan, sisa makanan itu kemudian dicampurkan dan dihangatkan berulang-ulang. Tradisi ini juga biasanya jadi ladang anak-anak untuk menambah pundi-pundi tabungan demi membeli tamiya 4WD saat lebaran tiba karena, ada aturan tak tertulis untuk memberi upah tiga ribu rupiah bagi anak-anak yang ikut membantu mengantar makanan saat hantaran.

Pernah suatu kali, saat Jamilah mengadakan hantaran. Rusdi baru saja memperoleh walkman murahan dari hasil menukarkan lima bungkus permen karet yang membentuk kata Y-O-S-A-N. Lalu, ketika mengantar makanan ke rumah-rumah warga. Ia terus memutar lagu Hijau Daun berjudul Suara (Ku Berharap) dengan volume keras dan sedikit sember.

Bila aku dapat bintang yang berpijar…

Mentari yang tenang bersamaku, di sini…

Ku dapat tertawa, menangis, merenung…

Di tempat ini, aku bertahaaaaan…

Lagu itu terus-menerus diulang saban hari, sampai kami hafal liriknya di luar kepala. Beberapa anak yang mengantar bersamanya sebenarnya merasa rungsing. Tapi apa boleh dikata, kami enggan menegurnya karena takut ia merasa dipojokan dan berujung mengamuk seperti cerita Anang Koswara.

Tapi semua berubah saat Rusdi tepat menginjak usia dua belas tahun. Ibunya pulang dari Taiwan dengan dandanan necis. Ia mengenakan cardigan panjang selutut dengan motif loreng disertai gincu merah membara di bibirnya. Rambutnya lurus licin seperti baru di-smoothing. Juga dipikok mentah berwarna kuning keemasan seperti serabut jagung. Di kedua tangannya, masing-masing dipenuhi belasan emas renceng. Kepulangannya menuai bisik-bisik, warga bilang kalau emasnya tak lebih dari xuping murah yang dibeli di emperan Tanah Abang.

Pada malam kelima sejak Ibunya datang, tanpa kehadiran Jamilah, semua bagian keluarga yang tersisa turut dikumpulkan untuk membicarakan sesuatu yang katanya penting. Tak terkecuali Anang Koswara, meski dengan kondisinya yang semakin memprihatinkan. Karena memadupadankan batik korpri dengan celana legging bermotif renda-renda, yang juga entah darimana didapatnya.

Dari perundingan itu, keputusan ibunya sudah bulat. Rusdi resmi akan diterbangkan ke bulan pada syawal mendatang.

“Rusdi,” kata ibunya lirih. “Syawal nanti akan ada seseorang yang menjemputmu, Nak. Semuanya sudah disiapkan. Mereka akan membawamu ke Bulan.”

Rusdi tidak langsung menjawab, mendengarnya saja sudah bikin kebahagiaannya membuncah. Rusdi memang sejak lama bercita-cita menjadi astronot dan menggemari segala hal yang berbau luar angkasa. Musababnya datang saat ia menonton film Armageddon di layar tancap yang diadakan di pelataran Kaji Mugeni beberapa tahun silam. Bahkan, di tengah kebetrikannya, ketertarikan itu tidak pernah sirna. Ia sempat mengira, petugas dinas kesehatan yang datang ke desa memakai APD untuk melakukan inspeksi ke unggas-unggas yang terindikasi flu burung adalah seorang astronot. Ia meronta-ronta, memaksa memakai pakaian itu, seolah dalam benaknya, bumi akan diinvansi alien dalam kurun waktu singkat.

“Tenang, Bu. Rusdi akan aman di sana. Di bulan, Rusdi tidak merepotkan siapa pun. Nenek sudah terlalu tua untuk mengurusku. Rusdi sudah terpilih, tidak semua orang bisa. Tolong jaga Nenek, selama Rusdi menjalankan mandat ini.” Rusdi menjawab dengan penuh wibawa, seakan telah menerima tugas sakral yang tak semua orang mampu menjalankannya.

Desas-desus kepergian Rusdi ke bulan pun menyebar dengan cepat di kalangan warga. Sejumlah dugaan pun mencuat. Belakangan diketahui bahwa keputusan itu dibuat karena Ibunya Rusdi akan menikah lagi dengan seorang duda anak tiga yang ia kenal dari Facebook. Sehingga, ia perlu merancang strategi sedemikian rupa untuk membawa Rusdi ke rumah sakit jiwa, lantaran merasa malu dengan kondisi yang dialami Rusdi saat ini. Dan sampai sekarang, Rusdi masih cekikikan girang menunggu penerbangannya.

Author

  • Andika Budiargo

    Merayakan film, mengolok Liverpool. Pengagum permanen FredelidaGM.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You might also like
pusulabet giriş | betsmove giriş | Jojobet | Jojobet | lunabet | lunabet | meritbet giriş | pusulabet | holiganbet giriş | meritbet | meritbet giriş | pusulabet | holiganbet | holiganbet giriş | jojobet | jojobet giriş | holiganbet | holiganbet giriş |