Waktu seperti berlari. Tahu-tahu kita tiba di 2019. Sehari setelah ‘closing’ bagi resolusi-resolusi cetar dan manjah yang–entah apa faedahnya–pernah kita posting di akun sosmed kita masing-masing. Termasuk, Kisanak juga barangkali?

Sebagai makhluk berkesadaran tinggi yang bisa memilih jalan menjadi rockstar soleh atau malah jadi bandar narkoba yang kemudian hijrah, kita dibebani pertanyaan yang sangat mengganggu sekali dalam hal ini. Yaitu, bagaimana akhirnya nasib resolusi-resolusi brengsek itu?

Sebuah pertanyaan yang tak perlu jawaban jika kita sejenis unggas. Sayangnya ngga. Alih-alih, kita lahir sebagai manusia. Yang katanya Khalifah di muka bumi, meski nyatanya seringkali lebih bebal dari keledai. Lalu, kalah bijak–bahkan–dari seekor lumba-lumba dan belalang sembah.

Dan lebih parah dari itu, mudah disusupi euphoria sehingga ngga berdaya menahan godaan nikmatnya ngetik resolusi di timeline sosyel media. Sialan!

Sepengalaman saya, resolusi-resolusi itu lebih mirip reklame iklan pajak daerah yang dipasang Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Purwakarta.

Semacam ujaran motivasi yang keren. Tapi, oh mylav, begitu berat untuk ditunaikan. Bukan begitu, bosque? Di lain sisi, kalaupun ada duit pajak yang masuk, apa rela Bapenda bagi-bagi informasi rutin tiap tahun? Transparan gitu kayak plastik parcel lebaran? Tidak semudah itu, Rodrigo!

Begitulah. Seperti berlalunya waktu, resolusi kita pun serupa. Catatan tinggal catatan. Lalu, teronggok begitu juga. Dilupakan. Ngga kayak kenangan sama mantan; semi-abadi, banyak pait-nya.

Dan saking terus berulang, hal kayak gitu beringsut menjadi kebiasaan. Tidak kecuali untuk saya pribadi. Manusia Indonesia biasa-biasa saja seperti pada umumnya. Manakala resolusi yang saya gadang-gadang ngga terwujud, ya biasa saja, sih. Ngga pernah saya anggap kegagalan. Toh, biasanya juga begitu. No hard feeling!

Hingga, di penghujung tahun 2018 ini ada pencapaian ‘fenomenal’ yang saya buat. Yaitu, memiliki rumah untuk saya dan istri. Sekali lagi no hard feeling buat kaum joms sedunia.

Ya, rumah yang kami impikan akhirnya selesai juga. Rampung persis 40 hari. Sehari sebelum ganti tahun.

Betapa bahagianya. Pertama, sebagai seorang suami, sungguh ‘pride’ saya lebih dari status “aman-terkendali”.

Sekurang-kurangnya, mitos berbunyi “suami yang gagal adalah dia yang tidak mampu memberikan rumah untuk istrinya” sudah saya lampui.

Ke-dua, sebagai bagian dari kelas sosial di lingkup Purwakarta, saya ngga lagi merasa miskin. Minimal, cibiran tetangga bahwa “orang miskin adalah mereka yang ngontrak” sudah saya jawab secara berkelas, cantik dan elegan.

Sebab, by the way, rumah saya rencananya dua lantai plus ada roof top-nya. Puas kalian wahai tetangga durjana? Semoga kalian semua berhenti ngomongin “resolusi” seperti mobil tahu bulat yang soundnya mengganggu itu.

Sungguh, bahagia sekali. Sampai di suatu kesempatan, sore tadi (31/12), saya buka file di laptop saya. Terselip satu dokumen resolusi taik yang diluar dugaan tak tersentuh virus trojan (padahal saya berharap begitu). Masih utuh dan suci. Sialan.

Antara haru, ingin ketawa dan bertekad melepas kata-kata kasar. Di awal tahun 2016, saya menulis satu poin resolusi, yaitu membangun rumah. Faak! Tiga tahun lalu, gaes!

Tapi, bukan manusia (Indonesia) namanya kalau tidak mampu menyelipkan alasan. Segera, terlintas di benak saya ; “lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali”. Pembenaran yang menyejukkan sekali. Saya suka.

Ya, begitulah. Dan betapa benarnya pepatah bahwa setiap kejadian pasti mengandung hikmah. Dari pengalaman ini, kontan terbit kebijaksanaan pada diri saya. Kebijaksanaan yang siapa tahu bisa anda tiru; jangan pernah bikin resolusi!

Purwakarta, 31 Desember 2018

(Rumah Helga, Wanita Tangguh Blasteran Ceulibadak – California Pulang Pergi)

Profil Penulis

Widdy Apriandi
Widdy Apriandi
Penulis adalah suami siaga, barista dan kerja apa saja yang penting asoy