Saya termasuk pembaca yang lambat, tahun 2014 adalah waktu awal saya suka membaca buku. Pada bacaan pertama itulah saya dikenalkan pada buku “Jang Oetama”, dari sana saya mengenal sosok pahlawan Bangsa Indonesia, H.O.S Tjokroaminoto yang tidak begitu hits jika dibandingkan dengan sosok pahlawan nasional yang lain. Ia akrab dipanggil pak Tjokro. Saya sangat berterima kasih kepada teman saya yang sudah mengenalkan buku itu yang menggambarkan perjuangan Pak Tjokro, sampai akhirnya saya mengaguminya.

Jujur saja idealisme pak Tjokro dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia begitu mempengaruhi cara pandang saya tentang kehidupan sebagai bangsa Indonesia. Tsah. Saya selalu terngiang quote pak Tjokro di National Congres 17 Juni 1916 “Kita mencintai bangsa kita dengan ajaran agama kita (Islam), kita sepenuhnya untuk mempersatukan seluruh atau sebagian terbesar bangsa kita”

Berkat tangan dingin pak Tjokro ia mampu mengumpulkan kekuatan massa yang luar biasa besar untuk melawan penjajah Belanda pada masa itu, yang berjumlah 2.500.000 dalam jangka waktu 7 tahun, melalui organisasi yang dipimpinnya: Serikat Islam. Sebuah kekuatan massa yang membuat Belanda kewalahan.

Dari tangan dinginnya pula lahir tiga murid yang menjadi sosok besar bangsa Indonesia yaitu Sukarno dengan Ideologi Nasionalis Komunis (nasakom), Semaoen dengan Ideologi Sosialisme, dan Kartosuwirjo dengan Ideologi Islam yang mewarisi Ideologi pak Tjokro. Ketiga muridnya menjelma menjadi pejuang politik paling mumpuni di masanya.

Tapi yang membuat saya heran adalah, kenapa saya tidak pernah mengenal sosok beliau dari pelajaran sejarah di sekolah dulu. Walaupun ada, pelajaran sejarah di sekolah tidak pernah mengenalkan sosok Pak Tjokro dengan sungguh-sungguh. Seakan ia adalah sosok yang bisa menularkan wabah penyakit terhadap orang-orang yang mengenalnya, seperti bakteri Tuberkulosis. Penyakit yang harus dihindari, untuk kemudian difatwakan harus dibuang sampai ke akar-akarnya.

Belum lagi krisis sejarah berikutnya adalah pengaburan sejarah kebangkitan nasional yang dimanipulasi seakan-akan hanya dipelopori oleh paguyuban Boedi Oetomo yang berdiri pada tahun 1908. Padahal sudah sangat jelas Boedi Oetomo adalah organisasi yang ditujukan bagi golongan berpendidikan Jawa yang berdasarkan kesukuan. Sementara yang mempelopori kesadaran kebangkitan nasional adalah Pak Tjokro, seperti yang disebutkan dalam buku Api Sejarah 1, karya Ahmad Mansyur Suryanegara, buku Tjang Oetama karya Aji Dedi Mulawaran.

Menurut saya hal ini adalah bentuk pembajakan sejarah, lihat saja sejarah nusantara tidak pernah sungguh-sungguh menggambarkan perjuangan tokoh-tokoh dan perjuangan umat Islam untuk memerdekakan bangsa Indonesia. Seakan Tokoh-tokoh dan perjuangan umat Islam tidak berkontribusi terhadap peradaban bangsa Indonesia.

Seharusnya sejarah dipaparkan dengan jujur dan diinternalisasi terus-menerus untuk membangun semangat perjuangan dan peradaban para penerus bangsa. Seperti yang dikatakan oleh Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi, M.A., M.Phil.,

Begitu pun apa yang dikatakan oleh Pramoedya Ananta Teor dari pidatonya pada tahun 14 Juli 1999 di Aula Perpustakaan Nasional: “Terus memahami arti pentingnya sejarah selalu memberikan pencerahan dalam memahami kehidupan kekinian.”

Menurut saya apa yang dikatakan oleh Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi, M.A., M.Phil., dan Pramoedya Ananta Toer masih relevan dan harus menjadi renungan di masa sekarang. Karena sejarah berperan sangat penting terhadap kemajuan peradaban.

Lantas bagaimana mungkin generasi penerus bisa mencintai bangsa ini tanpa mengenal sejarah bangsanya sendiri?  pantas saja  jika di akhir kehidupan bangsa Indonesia yang katanya telah merdeka selama 74 tahun ini generasi penerus Bangsa selalu terpinggirkan dan tertinggal. Sekarang ini, kebanyakan dari pemuda cenderung apatis terhadap kondisi sosial sekarang. Tak peduli dengan kerusakan yang sedang terjadi di sekitarnya.

Menurut saya hal ini terjadi karena kebanyakan pemuda saat ini kehilangan sosok inspiratif tokoh-tokoh sejarah, mereka kurang mengakrabkan diri dengan tokoh-tokoh sejarah yang memperjuangkan bangsa ini.

Itulah imbasnya apabila kita tidak mengenal sejarah bangsa kita sendiri. Dengan mengenal sejarah kita akan lebih menghargai apa yang kita miliki sebagai bangsa. Betapa besar perjuangan para pahlawan bangsa untuk merebut kemerdekaan. Pengorbanan harta dan nyawa semua itu harus kita sadari, hormati dan kita jadikan teladan hidup.

Karena beberapa kegunaan sejarah selain inspirasi pada pembaca dan pendengarnya, sejarah dapat menolong kita menjadi pribadi yang lebih baik dan alternatif untuk memilih cara  kita menjalani hidup.

Jadi sebagai pembaca yang baru dan fans HOS Tjokroaminoto, saya mendapati bahwa sejarah harus menjadi kebutuhan intelektual di saat masyarakat dalam ketidakpastian begini. Mungkin masalah-masalah kita sebagai bangsa sulit selesai karena kita terlalu malas mengenal sejarah kita sendiri, jati diri kita sendiri. Begitu.

Ya ampun kok serius gini ya?

Profil Penulis

Muhammad Teguh Maulana
Muhammad Teguh Maulana
Pria yang hobi gagambaran dan sekarang aktif bergiat di komunitas Asik Baca.