Rekening Lusuh Mbah Kromo

Kaki ringkih Mbah Kromo menggenjot pedal sepeda sejauh lima kilometer. Dihempaskannya rasa pegal yang menjalar dari betis hingga pangkal paha. Semua demi sebuah harapan mendapatkan segepok rupiah untuk pengobatan istri tercinta.

Sesampainya di pelataran Bank Makmur, Mbah Kromo memarkirkan sepeda. Lalu bergegas masuk menemui penjaga teller yang dulu selalu ramah menyambutnya datang.

“Selamat pagi, Bapak,” sapa penjaga teller yang berusaha ramah untuk menyembunyikan kekhawatiran.

“Bagaimana Mbak? Bisa saya cairkan hari ini?” tegas Mbah Kromo tanpa basa-basi.

“Mohon maaf,  dari atasan belum memberikan dananya.”

Ucapan lembut itu meluluh-lantakkan pengharapan terakhir Mbah Kromo. Ini bukan yang pertama. Mbah Kromo sudah menagih pencairan tabungan hari tuanya sejak enam bulan yang lalu. Setiap awal dan akhir bulan, beliau mengayuh sepeda tua sejauh lima kilometer ke Bank Makmur. Namun, jawabannya selalu sama. Mbah Kromo disuruh datang lagi bulan depan. Kini Mbah Kromo sudah tidak punya apa-apa kecuali buku bank lusuh. Harta lain telah habis untuk biaya perawatan kanker istrinya.

“Terus sampai kapan? Apa tidak bisa saya diberi dua puluh juta dulu? Istri saya tidak bisa menunggu lagi. Dia bisa mati!” bentak Mbah Kromo.

Sebelumnya, beliau masih bisa menimpali dengan bijak sambil mendoakan supaya Bank Makmur punya solusi untuk dirinya. Namun, hari ini kesabaran itu telah terkuras.

Bayangan istrinya yang menjerit kesakitan tiap malam berkelebat. Dokter Danu yang menangani istrinya bilang kalau operasi kedua harus segera dilakukan karena kankernya telah menyebar ke organ lainnya. Sayangnya, operasi kali ini tidak bisa ditanggung BPJS. Mbah Kromo harus membayar sebagai pasien umum.

“Mohon maaf, Pak. Saya juga tidak bisa berbuat apa-apa. Ini sudah menjadi peraturan dari pusat. Semua nasabah yang mau mengambil uang diharap bersabar menunggu jadwal,” tegas perempuan penjaga teller. Barangkali dia juga gerah karena setiap waktu ditekan oleh para nasabah yang tidak bisa mengambil uangnya di Bank Makmur.

Ketegasan penjaga teller itu terdengar seperti genderang perang di telinga Mbah Kromo. Seketika Mbah Kromo menarik kerudung penjaga teller. Tangan tuanya mencengkeram bahu perempuan bertubuh gembul itu.

“Kamu jangan main-main sama saya! Kembalikan uang saya sekarang atau kantor kamu saya obrak-abrik!”

Penjaga teller itu menjerit. Beberapa orang yang tadinya di dalam ruangan berhamburan untuk menenangkan Mbah Kromo. Tapi amarah Mbah Kromo tak bisa dibendung lagi. Dia membuka laci-laci, mengobrak-abrik dokumen-dokumen di meja. Satu hal yang dicarinya adalah uang. Tentu saja uang! Dia butuh uang sekarang untuk segera membawa istrinya ke rumah sakit.

“Kalian semua bedebah! Kalian pembohong! Penipu!”

Satpam Bank Makmur mencengkeram tubuh ringkih Mbah Kromo yang terus meronta, merapalkan sumpah serapah kepada seluruh pegawai bank. Manajer Bank Makmur memanggil polisi dengan menunjukkan rekaman Mbah Kromo yang sedang mengobrak-abrik kantor cabang Bank Makmur.

Saat tenaga Mbah Kromo melemah, beberapa petugas berseragam cokelat menyapanya. Awalnya ramah, lalu memaksa Mbah Kromo naik mobil berplat merah. Tenaga Mbah Kromo terlalu lemah untuk melawan petugas-petugas berbadan kekar tersebut. Tangan dan kaki Mbah Kromo diborgol. Hanya mulutnya yang terus memanggil nama istrinya.

“Namirah! Maafkan aku, Namirah.”

Mbah Kromo tergugu dalam mobil polisi. Ingatannya menembus zona waktu sepuluh tahun yang lalu. Kala itu, Namirah mengeluh perut bagian bawahnya sering nyeri. Ia meminta diperiksakan ke dokter.

“Itu cuma kecapekan, Namirah. Diolesi minyak panas sama diurut pelan-pelan juga hilang sendiri. Ibuku dulu juga sering begitu. Orang jawa bilang ketedun,” tolak Mbah Kromo.

“Sudah sering aku urut sendiri, tapi nyerinya cuma reda sebentar. Aku takut kalau kenapa-napa.”

“Kamu terlalu memikirkannya. Sudah, itu tidak apa-apa. Lha kamu makan saja masih lahap begitu, berarti kamu itu sehat. Jangan sedikit-sedikit ke dokter, mahal. Kita harus banyak menabung untuk hari tua karena kita tidak punya anak. Siapa yang akan membiayai hidup kita kalau sudah jompo nanti?”

Tak berselang lama, seorang pria berbaju rapi datang. Di sakunya terdapat sablon logo Bank Makmur. Dia memperkenalkan diri sebagai pegawai Bank Makmur dan menawarkan tabungan hari tua dengan bunga tabungan hingga dua puluh persen pertahun. Pria itu begitu lihai menghitung keuntungan-keuntungan yang akan diterima Mbah Kromo. Sebagai pedagang yang penghasilan dan masa depannya tak pasti, Mbah Kromo tergiur.

Itulah awal mula Mbah Kromo menyerahkan uangnya untuk disimpan di Bank Makmur dengan harapan hari tuanya nanti bisa hidup makmur seperti nama bank tersebut. Pelan-pelan, jumlah tabungan hari tua Mbah Kromo menggunung.

Hari untuk memanen tabungannya tiba, bertepatan dengan kabar buruk dari rumah sakit kalau istrinya menderita kanker rahim stadium empat. Nyeri perut bagian bawah yang dikeluhkan Namirah selama ini bukan penyakit biasa. Mbah Kromo syok, tapi ia yakin istrinya bisa mendapatkan perawatan terbaik dengan uang tabungannya di Bank Makmur. Naas, uang itu raib. Mbah Kromo menjadi salah satu korban Bank Makmur.

“Minum dulu, Mbah,” tawar seorang polisi yang duduk di samping Mbah Kromo.

Mbah Kromo menggeleng tanpa memalingkan wajah pada polisi itu.

“Lain kali lebih hati-hati, Mbah. Jangan mudah percaya pada sales koperasi atau bank abal-abal.”

“Lebih baik diikhlaskan saja, Mbah. Susah baliknya itu. Korbannya banyak banget,” timpal polisi yang lain.

“Lalu kenapa mereka tidak ditangkap? Malah saya yang kalian tangkap!” ketus Mbah Kromo. Kesal sekali pada orang-orang yang katanya pengayom masyarakat, tapi malah kerap menyusahkan.

Polisi-polisi itu tertawa serempak.

“Karena belum ada yang lapor, Mbah. Lagipula kalau diproses hukum, pemiliknya bakal dipenjara, tapi dana nasabah tetap tak kembali,” jelas salah satu polisi yang diikuti tawa getir yang lain.

“Pemiliknya masih punya aset, bisa sewa pengacara. Jalurnya bakal panjang. Korban sudah kehilangan uang, waktu, tenaga. Halah. Hukum … hukum,” keluh polisi yang duduk di samping Mbah Kromo.

Air mata Mbah Kromo bercucuran. Rasa bersalah kepada Namirah semakin menghimpit dadanya. Andai dulu ia gunakan uang itu untuk memeriksakan Namirah ke dokter, mungkin sekarang istri yang setia menemaninya selama empat puluh tahun itu masih bisa tersenyum cantik, bukan menjerit kesakitan sepanjang hari.

“Memangnya, uangnya mau dipakai untuk apa to Mbah? Kok Simbah sampai mengobrak-abrik kantor Bank Makmur,” tanya polisi yang duduk disampingnya. Kali ini nada suaranya lembut.

Mbah Kromo menunduk. Bibirnya menjawab lirih, “Buat bayar operasi kanker istri saya. Kali ini tidak bisa ditanggung BPJS. Katanya harus mengantri dengan pasien lain yang belum tertangani sama sekali.”

Suasana dalam mobil itu hening sejenak. Mulut-mulut yang sedari tadi begitu ringan melempar candaan kini terbungkam.

“Ya sudah. Biar kami berempat patungan buat bantu operasi mbah putri. Simbah tidak usah datang lagi ke kantor Bank Makmur, hanya menambah masalah.”

Mata tua Mbah Kromo yang sedari tadi kosong tiba-tiba berbinar. Dia mengucap terimakasih berulangkali. Lalu, meminta supaya bisa mampir ke rumah memberitahu kabar gembira itu pada istrinya.

Sesampainya di pelatan rumah, polisi melepas borgol di tangan Mbah Kromo supaya tidak dilihat istrinya.

“Jangan kabur, loh, Mbah.”

“Kabur pun kalian tetap bisa menangkap saya.”

Para polisi itu kembali tertawa dan membiarkan Mbah Kromo berjalan memasuki rumahnya yang cukup kokoh, tapi kotor. Barangkali karena istrinya sakit, jadi tidak ada yang merawat rumah tua itu.

“Bune, aku pulang! Ayo kita ke rumah sakit sekarang!” lantang Mbah Kromo ketika sampai di ambang pintu.

Gigi renggangnya berderet saat tersenyum. Matanya menyala riang.

“Bune, aku akan menggendongmu ke rumah sakit,” ajak Mbah Kromo sambil memasukkan beberapa daster lusuh ke dalam buntalan. Ia teringat pada permintaan Namirah untuk dibelikan daster baru, tapi tak pernah diturutinya. Lagi-lagi demi menabung.

“Bune, nanti kalau pulang dari rumah sakit, aku belikan daster baru, ya,” janji Mbah Kromo seraya menyeka airmatanya. Menyesal. Kini, ia bertekad akan memberikan apapun yang Namirah inginkan. Tak peduli lagi kalau esok tak punya uang simpanan.

“Bune.”

Tak ada jawaban. Jerit kesakitan yang masih nyaring saat Mbah Kromo pergi tadi, kini senyap.

“Bune.”

Jantung Mbah Kromo berdentum kencang ketika menyadari ada yang ganjil. Saat menengok ke pembaringan, Mbah Kromo bersitatap dengan tubuh istrinya yang telah mematung dengan mata terbelalak.

Tinggal di Karanganyar, Jawa Tengah. Telah menulis buku solo nonfiksi berjudul A Gift Anak Hiperaktif, Membentuk Anak Jenius Sejak dari Janin, dan sebuah novel berjudul Gadis Kecil Berselimut Duka. Tulisan lain bisa dibaca di flowernice89.blogspot.com dan facebook Flower Nice. instragram @flowernice89

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!