Sampai sekarang tak ada genre musik yang lebih berpengaruh besar di hidupku selain reggae. Bukan karena ikut-ikutan trend, atau karena musik reggae sedang ramai-ramainya dirayakan belakangan ini. Tetapi jauh sebelum itu aku sudah menikmatinya sebagai pendengar, pemain, sekaligus menelusuri nilai sejarahnya. Tapi belakangan aku agak muak dengan pementasan musik reggae belakangan ini, selalu saja ribut dan sensian. Lebih parah dari penonton bola.

Aku jadi mikir, di Jamaika (negara asal genre musik ini) para penikmatnya pada resek-resek gini, ya?

Kayaknya sih nggak deh. Karena mereka tahu akar sejarah genre musik ini. Di kita, ya jelas beda.

Nilai-nilai historis reggae yang luput diperhatikan

Selain Bob Marley, Haile Selassie adalah figur penting yang tidak bisa dilupakan dari sejarah genre musik ini, ia bahkan punya tempat khusus dalam sejarah bangsa Ethiopia dan Afrika.

Pada gerakan Rastafari, yang memiliki jutaan pengikut di seluruh dunia, ia dianggap sebagai simbol religius gerakan tersebut, tidak tanggung-tanggung ia disebut inkarnasi Tuhan, malahan.

Rastafari menjadi ajaran yang populer di Jamaika. Ajaran ini awalnya berkembang pesat di antara penduduk yang sangat miskin, dan bergulat dalam sejarah kelam perbudakan yang dialami oleh orang-orang Afrika, yang nootabene nenek moyang orang-orang Jamaika.

Sementara Robert Nesta Marley yang sering dikenal dengan nama Bob Marley, Legend Of Reggae atau King Of Reggae itu adalah salah satu pengikut dari gerakan agama Rastafari dan sangat mengagumi Haile Selassie sebagai Tuhan, sampei-sampei backdrop di setiap panggung Bob Marley selalu terpasang foto Haile Selassie.

Juga, salah kaprah mengira bahwa merah-kuning-hijau adalah identik dengan musik reggae. Sebenarnya itu ada adalah warna merah-emas-Hijau. Mungkin ini tampak sepele, tapi ya kalau urusan sepele gini aja gak paham,gimana dengan yang lain, kan?

Problem dari anak-anak yang suka ngaku reggae di kotaku,  barangkali adalah cuma gaya-gayaan saja. Tidak ada upaya diskusi apalagi penelusuran sejarah tentang reggae.Sehingga tidak heran jika reggae sekarang kerap dilabeli sebagai musik yang spriritnya sama sekali berbeda dari akar sejarahnya. tidak heran jika lagu-lagu berlabel reggae belakangan ini malah lebay-lebaymusiknya, temanya pun selalu percintaan. Belum lagi label lain sebagai musik santai, musik pantai.

Padahal, ya, kalau dilihat dari lagu-lagu Bob Marley jelas tidak demikian. Beliau selalu mengangkat suara-suara kaum marginal, spirit pergerakan karena memang reggae adalah musik pembebasan.

Adapun lagu cinta, Bob Marley pasti akan menulis sebuah cinta yang universal, cinta terhadap ajaran hidupnya, sahabat-sahabatnya, keluarganya, dan cinta terhadap kemanusiaan seperti dituliskan dalam lagu One Love.

Pada dasarnya musik reggae adalah musik pembebasan, lagu perlawanan terhadap stigma yang rasis dan masalah perbudakaan. Maka aneh  juga jika musik reggae belakangan ini selalu disandingkan dengan pantai, santai, dan juga marijuana melulu. Jauh sekali dari nilai sejarahnya, apalagi jika mau melirik sungguh-sungguh “suara” dalam lirik-lirik lagu Bob Marley (king Of Reggae).

Jadi ya gitu. Sekali lagi menikmati reggae itu belum kaffah kalau tidak mencoba menelusuri sejarahnya, spirit awalnya. Sungguh tidak elok jika cuma main reggae-reggean cuma sok-sokan. Apalagi cuma buat dimaklumi kalau suka nyimeng. 

Akhirnya, bagiku sih reggae bukan hanya sekadar genre musik kegemaran, melainkan bagian dari perjalanan spiritualku. Hmm.. jangan-jangan rastafari adalah agama keduaku “Jah Ras Tafar I”. Hehe~

Nih, sebagai salam perpisahan aku kutipkan potongan lirik dari salah satu lagunya almukarram Syekhuna Bob Marley, yang berjudul “Redemption”.

Emancipate yourselves from mental slavery
None but ourselves can free our minds
Have no fear for atomic energy
‘Cause none of them can stop the time

How long shall they kill our prophets
While we stand aside and look? Ooh
Some say it’s just a part of it
We’ve got to fulfill the Book

Profil Penulis

Renaldi Kurniawan
Renaldi Kurniawan
Manusia Introvert yang mencoba berimaginasi dalam keramaian
Mahasiswa hedonisme Radikals. Bergiat di Komunitas Asik Baca