Real! Doa Orang Tua adalah Kekuatan yang Baru Saya Sadari Belakangan

Ada satu kejadian waktu minggu-minggu ujian kemarin yang sampai sekarang masih melekat di pikiran saya.

Waktu itu sudah sekitar jam satu malam, saya masih duduk lemas di depan laptop sambil megang jidat yang subhanalloh kakunya. Sebagai anak yang baru merasakan semester dua, jujur saja saya masih sering kaget dan keteteran adaptasi, dan malam itu saya merasa lelah luar biasa.

Tugas makalah dari dosen tak kunjung selesai karena berkali-kali salah, ditambah besok paginya jam tujuh teng saya harus ikut ujian mata kuliah yang buku teorinya tebal bukan main. Merasa sudah mentok dan pusing, saya tutup laptop terus jalan ke dapur dengan niat mengambil air putih.

Ketika berjalan melewati kamar orang tua, saya melihat pintunya terbuka sedikit dan lampunya masih menyala. Penasaran, saya mengintip pelan-pelan ke dalam. Ternyata Ibu masih duduk bersila di atas sajadah dengan mukena yang belum dilepas. Kepalanya menunduk dan jarinya memutar tasbih.

Suara Ibu lirih sekali. Namun karena rumah begitu sunyi, saya masih bisa menangkap beberapa kalimat doanya. Nama saya berulang kali disebut.

Saya dengar, Ibu memohon kepada Tuhan agar anak bungsunya ini diberi kesehatan, dimudahkan menjawab soal ujian, dan dikuatkan menjalani perkuliahan supaya tidak mudah menyerah.

Ayah ikut duduk di samping Ibu. Ayah mengaminkan setiap doa yang dipanjatkan sambil mengusap wajahnya yang saya lihat lelah sekali.

Melihat pemandangan sederhana itu, dada saya langsung terasa sesak. Saya yang sejak sore tidak berhenti mengeluh karena tugas kuliah, bahkan beberapa kali terpikir ingin menyerah dan berhenti kuliah, tiba-tiba merasa malu kepada diri sendiri.

Saat saya sibuk mengeluhkan tugas yang tak kunjung selesai, ternyata ada dua orang yang begadang buat mendoakan saya. Pengalaman saa malam itu mengubah cara pandang saya tentang sesuatu yang selama ini sering saya anggap sebagai hoki atau kebetulan.

Kita semua tahu kalau lingkungan luar dan dunia perkuliahan itu kompetitif. Teman-teman atau orang di sekitar kita biasanya cuma mau tahu dan ikut senang pas kita lagi di atas saja, misalnya pas lagi dapat nilai A atau pas lagi kelihatan aktif di organisasi kampus. Kalau kita lagi jatuh, lagi stres karena salah jurusan, atau nilai IPK kita lagi anjlok, boro-boro ada yang mau nemenin atau dengerin curhatan kita, yang ada kebanyakan orang malah cuek dan sibuk dengan urusan masing-masing.

Berbeda cerita kalau kita balik ke rumah dan bicara soal orang tua sendiri. Mau kita bikin kesalahan di kampus, mau nilai ujian kita jelek, atau pas kita lagi hancur-hancurnya, orang tua bakal tetap jadi orang pertama yang menyambut kita dengan tangan terbuka. Mereka gak bakal banyak menghakimi atau menyudutkan kita. Ketulusan tanpa syarat inilah yang bikin setiap baris doa yang mereka ucapkan punya kekuatan yang berbeda dibanding doa orang lain.

Orang tua kita mungkin tak selalu paham teori yang kita pelajari di kelas setiap hari. Mereka mungkin bingung kalau kita cerita soal istilah-istilah ilmiah dari dosen atau sistem praktikum yang rujit. Namun satu hal yang pasti, nama kita (atau saya dan anak beruntung lainnya) tak pernah absen disebut di setiap sujud mereka.

Menyadari kalau ada doa orang tua di setiap langkah kaki kita itu betulan membuat mental kita sebagai mahasiswa baru jadi jauh lebih tangguh. Rasanya seperti punya bekingan besar di belakang kita, walaupun mungkin isi dompet atau uang kiriman bulanan kita pas-pasan. Setidaknya, kita tak merasa berjuang sendirian karena tahu ada support system terbaik yang selalu mendukung dari rumah.

Sejak malam itu, setiap kali rasa malas mulai datang, wajah Ayah dan Ibu langsung kelihatan di pikiran. Saya langsung ingat lagi susahnya mereka cari uang buat bayar UKT semesteran saya, lelahnya mereka bekerja demi anak-anaknya bisa sekolah tinggi. Rasa capek saya langsung hilang dikalahkan sama rasa tanggung jawab besar buat membalas budi dan bikin mereka tersenyum lega.

Makanya, perjuangan kuliah ini adalah pembuktian nyata kita sebagai anak untuk menunjukkan kalau seluruh pengorbanan, tetesan keringat, dan biaya yang sudah orang tua keluarkan selama ini gak bakal berakhir sia-sia.

Target saya sekarang adalah menjalani proses kuliah di semester dua ini dengan jujur, kerja keras, dan jangan pernah berhenti sebelum bisa pulang bawa ijazah kelulusan buat mereka. Sebab sukses terbesar buat saya adalah melihat orang tua senyum bahagia dan tahu kalau doa-doa yang mereka langitkan tiap malam akhirnya terkabul. Aamiin. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!