Read Indonesia: Semoga Tidak Angin-anginan dan Tetap Menyala

Menjelang pertengahan tahun lalu, usaha menduniakan Sastra Indonesia agaknya mendapat angin segar. Pada Jumat, 30 Mei 2025, di Makassar International Writers Festival, sebuah tim promosi Sastra Indonesia yang dibesut Kemenkebud pertama kali memperkenalkan diri. Namanya Read Indonesia.

Melalui unggahan di Instagramnya, Yani Kurniawan, Direktur Literasia Creativa sekaligus anggota tim promosi sastra itu, mengatakan bahwa tim tersebut dibentuk guna menjembatani dan memperkuat rantai ekosistem sastra yang sudah terbentuk, mulai dari produksi, promosi, dan diseminasi di tingkat nasional dan internasional.

Sehari sebelum Natal 2025 kemarin pun, platform dengan nama yang sama juga resmi diluncurkan: readindonesia.id

Platform ini dibuat untuk menjadi rujukan terintegrasi untuk memperkenalkan karya sastra dan penulis Indonesia ke khalayak mancanegara. Waktu membukanya, kita disuguhkan bermacam informasi tentang program kesusastraan Indonesia, karya sastranya, penulisnya, dan bahkan agensi sastranya.

Mendapati itu semua, kita memang layak bernapas lega membayangkan potensi sastra Indonesia untuk bersaing di kancah kesusastraan dunia akhirnya akan tergarap. Terlebih, di akhir Mei lalu, Kemenbud pun meluncurkan dua program penting berkaitan dengannya, yakni Laboratorium Penerjemah Sastra dan Laboratorium Promotor Sastra. Sudah sejak lama kita sama-sama menunggunya. Sudah sejak lama pula kita diam-diam percaya bahwa Sastra Indonesia dapat bersaing di tingkat global. Makanya, setidaknya langkah nyata dari Kemenbud di setengah tahun ini betul-betul gayung bersambut bagi kita.

Bayangkan saja, materi-materi bagi terwujudnya itu semua sudah ada. Kualitas karya penulis Indonesia, misalnya, layak bersaing dan bersanding dengan penulis-penulis dunia. Yang paling baru, Suspicious Days, novel Dea Anugrah yang diterjemahkan Annie Tucker mendapatkan PEN America Literary Grant. Selain itu, momentum besar menunggu kita di hadapan mata: Indonesia akan menjadi tamu kehormatan di Abu Dhabi International Book Fair 2026.

Hingga kini, negara kita bahkan masih satu-satunya anggota ASEAN yang pernah menjadi fokus utama di tiga pemaren buku internasional. Ialah Frankfurt Book Fair 2015, London Book Fair 2019, dan Abu Dhabi International Book Fair 2026. Fakta tersebut mengindikasikan bahwa, di satu sisi, potensi industri perbukuan kita memang menarik minat pembaca internasional.

Meski begitu, di sisi lain, tidak bisa dimungkiri bahwa apa yang telah berjalan di semester kedua tahun 2025 ini menjadi dejavu tersendiri bagi kita, dan memang demikianlah adanya. Sebab, kita tentu belum lupa bahwa di satu dekade lalu, Indonesia diundang pula menjadi tamu kehormatan di ajang buku terbesar dan tertua di dunia yang diselenggarakan di Jerman.

Kegiatan di sana sendiri tidak lama, hanya lima hari saja. Meski begitu, antusiasme warga negara manca begitu tinggi. Laura Prinsloo, satu diantara tim manajemen ketika Indonesia menjadi guest of honor di Frankfurt Book Fair 2015, mengatakan bahwa banyak kalangan penerbit dan agensi sastra yang menyatakan ketertarikannya pada buku-buku Indonesia.

Ia bahkan mengatakan bahwa banyak pengunjung pameran tersebut yang terpantik untuk mengunjungi Indonesia secara langsung ketika membaca tema besar yang ketika itu diusung “17.000 Islands of Imagination”. Mereka mengutarakan ketidakpercayaannya dan kemudian dijawab dengan diplomatis oleh Laura,

Just visit our country yourself to prove it.”

Peristiwa itu menjadi titik balik bagi usaha menduniakan buku-buku Indonesia. Sebab, satu tahun setelahnya, pemerintah mendirikan satu lembaga khusus yang menanganinya: Komite Buku Nasional (KBN). Visi besar daripadanya sendiri adalah untuk mendiplomasikan budaya Indonesia melalui karya.

Visi besar itu sendiri kemudian diwujudkan dalam bermacam program, di antaranya adalah Dana Hibah Terjemahan. Program tersebut diadakan dengan tujuan untuk menarik penerbit-penerbit luar negeri untuk membeli hak terjemahannya dengan memberi bantuan dana. Selain itu, untuk memperkuat jejaring dengan penulis-penulis manca, program Residensi Penulis pun gencar mengirim penulis Indonesia ke berbagai negara.

Hasilnya cukup baik. Tiga tahun setelah KBN berdiri, Indonesia dipilih menjadi market focus country di London Book Fair 2019. Di tiga tahun itu pula, penjualan hak terjemahn buku-buku Indonesia bisa dibilang cukup melejit. Thomas Nung Atasana, Ketua Tim Promosi Hak Cipta KBN, mengatakan bahwa 1.598 judul terjual hak terjemahnya, sementara 4.889 judul lainnya diminati untuk dibeli.

Di titik inilah dejavu itu muncul di benak kita bersama. Kita memang sama-sama bergembira melihat perkembangan usaha perluasan pasar buku Indonesia ke tingkat global. Kita juga sama-sama mengapresiasi langkah nyata yang Kemenbud lakukan di beberapa bulan terakhir ini.

Meski begitu, diam-diam kita patut menyimpan rasa waswas dan tanya:

Di masa mendatang, keberlanjutan dari program ini akan seperti apa?

Sampai kapan program ini akan berlangsung?

Akankah, seperti yang sudah terjadi di banyak sektor sebelumnya, program lain akan Read Indonesia begitu kabinet baru datang?

Akankah Read Indonesia bernasib sama dengan KBN yang hanya berjalan tiga tahun lamanya?

Siapa saja yang dipromosikan dalam program-program ini?

Sejauh apa transparansinya?

Kita tidak tahu dan tidak bisa menjawabnya. Kita hanya bisa mendukung penuh program ini sebaik-baiknya dengan tetap eling dan waspada atas setiap kemungkinan tidak menyenangkan lainnya. Terlepas dari semua itu, peran dan kehadiran negara adalah niscaya bagi majunya industri perbukuan suatu bangsa. Korea Selatan, misalnya, adalah contoh baik dan terbaru untuknya. Kita tidak akan mendapati penulis wanita Asia pertama yang meraih Nobel Sastra seumpama pemerintah di sana tidak konsisten mendirikan Literature Translation of Korea.

Tidak bisa ditampik bahwa di setengah tahun belakangan ini negara berusaha hadir untuk mengurusi hal-hal ini. Meski begitu, tanpa perencanaan jangka panjang yang matang dan berkelanjutan, Read Indonesia hanya akan jadi dejavu terhadap apa yang terjadi satu dekade lalu pada sastra Indonesia kita tercinta.

 

 

Pengajar. Senang mendengarkan musik, menonton film, menulis, dan membaca. Giat di Komunitas Susastra dan Sindikat Muda, Liar, Ngantukan. Beberapa tulisannya tersiar di berbagai media nasional. Instagram @syafiqaddarisiy.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!