

beribu lipatan kulit memaksa raga
kerja rodi serupa sapi membuat nyawa
si dinding cermin rayap waktu berkelahi
berebut memakan dagingnya
setiap mata meminum pil pahit
satu huruf ditakdir hilang
jika malam terlalu dingin
kalimat kekurangan detak
ketika membubuhi bedak rendah kalori
titik dan koma salah ditempatkan
akhirnya jiwa membakar rumah ini
dia menguburnya di kebun diri
dan aku:
melayatnya
Bantul, 23 Juni 2026
pada saatnya
akuarium dipecahkan
ke dasar
hening
usai sudah egomu
kau kini sepi
maha sepi,
tiada lagi
air perlu ditambahkan
pada putih kaca pecahnya
tinggal kosong
waktu.
sedang kesadaran,
sebagai ikan
berenang merdeka
menembus inti hakikat,
pulang ke kampung asal,
nun di sebalik
muara,
jauh sayup relung,
di mana ia sundang,
luhung.
Gedongan, 22 Juni 2026
betapa lelahnya menyadari, bahwa semua yang aku pertaruhkan demi hidup adalah semua yang tidak pernah pasti berbalas untukku. bahkan saat mengegah seutuhnya, aku terhalang ketakutan yang tidak mungkin aku gagahi.
rasanya aku terpilih untuk berjuang, dan sakitnya waktu terpilih untuk tidak peduli. begitu sulit memaklumi, dan aku tidak mungkin tidak berharap. karena di dalam semua detak dada, ada rindu untuk bahagia. dan itu adalah inti dari hidup yang sering dimunafiki; yang sering diludahi; demi alasan harga diri.
aku tahu apa buruknya bagiku jika terus menyerah, tapi aku tidak punya cara untuk berhenti. dan jikapun aku berhenti hari ini, maka ke mana aku akan menanti? karena ini adalah aku, seorang yang tidak akan mengambil langkah tanpa tujuan, seorang yang tidak akan berlari tanpa impian.
dan sekali lagi tentang esok;
yang tidak mungkin hadir tanpa hari ini.
betapa lelahnya menyadari, bahwa semua yang aku impikan demi masa depan adalah apa yang tidak pernah dijanjikan oleh semesta demi aku. bahkan untuk mengerti secara seutuhnya, aku terhalang oleh napasku yang tidak pernah mungkin aku caci maki.
rasanya aku terpilih untuk bertahan, dan sakitnya keadaan terpilih untuk tidak berpihak. begitu sulit menghakimi, dan aku harus mengambil peduli. karena di dalam semua luka, ada harap untuk sembuh. dan itu adalah inti dari harapan yang sering terlupakan; yang sering dihormati; demi alasan impian baru.
aku tahu apa buruknya bagiku jika terus menyerah, tapi aku tidak punya cara untuk berhenti. dan jikapun aku berhenti hari ini, maka ke mana aku akan mengganti? karena ini adalah aku, seorang yang tidak akan mengambil langkah tanpa tujuan, seorang yang tidak akan berlari tanpa impian.
Bantul, Juni 2026
Kau telah menemukan humormu:
humor rahasia yang awet selalu
di tumpukan kertas rencana kami,
saat doa meremang-redupkan ambisi
dan lapar meninabobokan kesucian.
Gurauan-Mu terbuat dari dahi
yang tak kering oleh semen sendiri,
dari perut yang gemar menimbun isi;
di mana tukang bakso lebih doa dari doa,
dan ritsleting melampaui macetnya besi.
Kau: humor bergerak
di jadwal harian gagal remidi.
Kau: humor bernyanyi
di sajadah kehabisan benang.
Kau: humor tersenyum di liang.
Bantul, 9 Juni 2026
Pada akhirnya
langkah-langkah kita, berbeda jalan,
luruh di atas lima tiang penopang yang sama
setelah dilarung angin zaman
ke berbagai kiblat yang menjauh.
Sebab hidup: sebuah safar melingkar
menuju satu rahim purba
yang dulu menyusui masa kecil kita.
Di sini, di pelataran rumah besar sunyi
kita belajar menyendok arti sekadar menjadi
tanpa harus saling bertanya
arus mana yang paling suci
ketika kening kita sama-sama sujud pada tanah
yang tak pernah memilih kasta.
Kau membawa kemenyan dan dupa
sebagian mendekap kidung dari altar batin
dan aku mengecup hening yang luruh dari puncak sunyi.
Namun di bawah langit meremang
gumpalan mantra kita meliuk jadi satu gumpalan asap
menuju langit-Mu yang tak bermata.
Kita, jemari berlain rupa
saling mengunci jadi pagar jati
merajut keadilan dari ujung tangan
menjaga dingin yang menyergap bilik-bilik negeri.
Kubasuh luka di kakimu
dengan hening budi paling bening
seperti merawat arca purba retak dihantam musim
sebab aku tahu, di dalam dadamu yang legam
ada benih surga tengah kau tanam.
Tak ada kata yang perlu diteriakkan
di hadapan hikmat penuntun musyawarah malam.
Dalam setiap suap nasi kita bagi adil
dan setiap selimut doa saling kita pasangkan
kita sedang menyapu debu-debu cemas
di dahi ibu pertiwi yang mulai senja.
Kini, pada detak jantungmu yang tenang
aku menemukan muara paling hening:
perbedaan kita adalah sesaji bakti
di mazbah kebersamaan
agar terang jalan pulang kita
pun bening pandang kita
menuju binar keabadian
yang satu.
Bantul, 11 Juni 2026
Lahir di kota Dawet Ayu, Banjarnegara. Kini menetap dan berkarya di Bantul, Projotamansari. Esai dan puisi-puisinya dapat dijumpai di buku antologi bersama dan media sosial eneste, sepenuhnya, mbludus, rahma, indonesiana, ibtimes, dst. Instagram @yutanbantul
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!