Putri Cahaya

Seorang gadis remaja memasuki ruang koki. Matanya yang cekung di balik kerudung putih mengingatkan pada mata Helda yang memancarkan kesejukan. Ia ingin memasak bersama sang koki. Gadis itu melangkah ke dapur, lalu mulai meracik bahan-bahan makanan.

Si Bapak terperanjat ketika melihat gadis itu membuka masker untuk menghirup aroma masakan khas Banjar.

“Ya ampun,” gumamnya sambil menggeleng-geleng kepala.

Benar, gadis itu memang seorang yang selama ini ia rindukan.

“Tidak salah lagi, kau memang secantik foto yang dikirimkan acilmu dan sangat mirip dengan mamamu saat remaja dahulu. Engkau mirip sekali dengan dia. Mata berbinar, wajah bulat, alis tipis, dan kulit putih bersih. Kecantikanmu selalu menghadirkan senyum di wajah Bapak dan Ibu sejak engkau beranjak remaja.”

“Bapak sangat kagum padamu, Nak, terutama ketika engkau mampu membaca Alquran dengan tilawah yang merdu.”

Si Bapak bernapas sejenak, dan melanjutkan lagi berbicara dalam hatinya

“Sebulan lalu panitia lomba MTQ mengunggah penampilan para peserta di Instagram, dan Bapak melihat videomu di sana. Rasanya segala kerja keras Bapak tidak sia-sia menyekolahkanmu di madrasah. Kini Bapak takjub melihat wajahmu yang bersinar begitu indah.”

“Dulu, ketika usiamu baru tujuh tahun, Bapak terpaksa merantau meninggalkanmu jauh di kampung. Itu semua demi masa depanmu yang lebih baik, Nak. Setelah lulus madrasah nanti, bapak ingin menyekolahkanmu ke UIN di Banjarmasin. Ya! Menjadi anak desa yang menempuh sarjana.”

Nak, kau harus sekolah yang tinggi, raih cita-citamu. Bapak tak ingin kau seperti Bapak yang hanya lulusan SMP. Jangan menikah dulu di usia yang masih muda, ya. Walaupun teman-teman seusiamu sudah menikah ketika lulus madrasah. Nak, berjuanglah meraih gemilang, meraih keinginanmu menjadi sarjana, nikmatilah masa mudamu dengan ilmu. Kata acilmu, kamu ingin menjadi dosen. Bagus Nak! Agar hidupmu bermanfaat untuk dirimu dan orang lain.”

“Bapak menjual kebun yang sudah lama tidak berbuah lagi. Keputusan itu diambil setelah bapak berbincang panjang dengan mamamu. Sempat terjadi pertengkaran hingga mamamu mendiamkan bapak selama tiga hari. Teh manis terasa hambar, kopi pun terasa pahit meski sudah ditambah gula. Namun seiring waktu, hatinya luluh, dan akhirnya ia mengizinkan kebun itu dijual.

Uang hasil penjualan kebun itulah yang Bapak gunakan untuk merantau ke Banjarmasin. Alhamdulillah, mamamu merestui kepergian Bapak meninggalkan kampung halaman.

Di kota itu, kehidupan tidak semudah yang dibayangkan. Bapak sempat bekerja sebagai tukang sapu, tetapi penghasilannya tidak cukup untuk mengirim uang buat Mama dan kamu.

Bapak kemudian mencoba berjualan sandal, tetapi hasilnya juga tidak seberapa. Orang-orang di kota jarang memakai sandal seperti di kampung. Uang yang bisa Bapak kirim sangat sedikit, meski Bapak rela menahan lapar dan makan seadanya. Jika kamu melihat tubuh Bapak saat itu, mungkin kamu akan terkejut: wajah, lengan, dan kaki bapak menjadi sangat kurus.

Setelah itu Bapak mencoba berbagai pekerjaan. Menjadi tukang parkir, pemotong rumput, pencuci pakaian, hingga pengecat bangunan. Namun Bapak merasa tidak bisa terus-menerus bekerja pada orang lain. Waktu istirahat tidak menentu dan kebebasan terasa terbatas. Akhirnya, Bapak memberanikan diri membuka rumah makan sendiri.

Saat itu engkau sudah beranjak dewasa, Nak. Acilmu mengirimkan fotomu melalui WhatsApp. Katanya, kamu akan masuk kampus. Wajahmu semakin mirip dengan mamamu.

Bapak sangat merindukan kalian berdua. Bapak tidak pernah berpikir untuk menikah lagi. Cukuplah Helda menjadi pendamping hidup Bapak sampai akhir hayat. Kami memberimu nama Putri karena kami berharap engkau tumbuh menjadi putri yang bercahaya, cantik, berakhlak baik, dan berilmu.

Hari demi hari berlalu, kadang rumah makan bapak ramai, kadang sepi. Bapak sering bertanya dalam hati,

Apakah ada yang salah dengan masakan Bapak?

Apakah karena Bapak seorang lelaki yang memasak?

Atau karena tempat jualannya kurang menarik dan jauh dari keramaian?

Pertanyaan-pertanyaan itu kerap menghantui pikiran Bapak, tetapi selalu Bapak tepis dengan mengingat Mama dan kamu di rumah.”

Tanpa sadar gadis itu memasuki ruang masak, lalu mulai membantu koki untuk menyiapkan rempah-rempah. Ia mulai memasukkan air putih, kayu manis, kapulaga, cengkih. Tak lupa memasukkan bumbu yang telah dihaluskan seperti bawah putih, bawah merah, jahe, kemiri, adas.

Si Bapak dan gadis itu bersama-sama memasak di dapur, ia sambil mengambil video lewat telepon sebab ada tugas kampus berkenaan dengan kuliner daerah.

Ketupat tak ketinggalan, ayam suwir dan sedikit bawang goreng, lalu pelengkapnya sambal pedas bagi yang suka pedas. Terhidanglah soto Banjar masih ada asap panas yang mengepul di hidangan itu.

“Wah, ternyata kamu pintar juga memasak,” kata si Bapak memuji gadis itu.

“Ah, bisa saja, Pak,” jawabnya sambil tersenyum malu.

Bapak masih memandangi gadis itu sebelum akhirnya tersadar dari lamunannya.

“Kamu cantik dan pandai memasak. Siapa yang mengajarkanmu memasak?” tanya bapak.

“Ibu saya, Pak. Beliau mengajarkan saya memasak sejak kecil,” jawab gadis itu.

Bayangan Helda kembali memenuhi benak Bapak. Untunglah gadis itu belum mengenali siapa dirinya sebenarnya. Ia belum tahu bahwa koki di hadapannya adalah bapaknya sendiri, orang yang selama ini mengirim uang dari perantauan.

Lamunan itu semakin kuat.

“Sebenarnya Bapak berencana pulang beberapa bulan lagi, tepat saat kamu libur kuliah dan menjelang Hari Raya Iduladha. Namun, demi mencari nafkah, Bapak harus tetap bertahan di kota ini, jauh dari keluarga tercinta. Siapa sangka justru kamu yang datang menghampiri Bapak tanpa menyadarinya?”

Air mata bapak perlahan menetes. Senyum di wajahnya memudar, berganti isak tangis yang tertahan.

“Kenapa Bapak menangis? Apa yang terjadi?” tanya gadis itu cemas sambil mengambilkan tisu di meja makan.

“Melihatmu, Bapak jadi teringat anak Bapak. Namanya Putri,” ucap bapak lirih.

“Oh, Bapak…”

Sungguh kata itu terhanyut dalam benak telinga bapak. Angin sejuk dari kipas angin yang tergantung di ruang makan seperti angin kerinduan memasuki jiwa. Tiba-tiba sendok yang dipegang gadis itu terlepas dari jari-jari yang lembut. Terjatuh ke meja, menimbulkan bunyi yang mengejutkan.

Tanpa ragu, ia langsung memeluk bapaknya.

“Aku datang ke tempat ini untuk mencari Bapak. Bapak adalah pejuang kehidupan kami,” katanya sambil terisak.

“Apakah kamu terkejut melihat bapak seperti ini, Nak? Dari pakaian, cara berjalan, hingga suara bapak yang kini berubah tidak selantang dulu. Suara bapak kini terdengar lebih lembut.”

Kupu-kupu terbang membawa kabar, membawa rindu menemui kekasihnya.

Alumnus UIN Antasari Banjarmasin. Aktif menulis puisi, cerpen di media online dan desain grafis. Instagram @nor_hudlari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!