

Tidak ada yang memintaku kembali, tapi aku kembali.
Rumah kami, kutemukan masih berdiri. Tidak utuh. Tembok yang kusam, pudar, dan menimbulkan keinginan untuk menghindar, jauh-jauh sayup ia memanggil namaku. Pagar itu telah disenggamai semak dan ilalang setinggi pinggang. Teras yang lompong, di sana daun, lumpur, dan kotoran membaur, membercak, seakan menghilangkan jejak-jejak orang hidup yang pernah bernaung. Dahulu, kuingat, di sana ibuku biasa berkutuan berjajar dengan anak-anak perempuannya, anak tetangga, adik perempuannya, kakak iparnya, kemenakan, serta orang gila yang hanya menumpang lewat saja dia minta membuat barisan umpama kelabang. Bila Ibu menemukan kutu di kepala saudariku, ia akan berseru dengan keras,
“Ke mana saja kau hingga kutu sebesar babi tidak kau rasa?! Kau peliharakah?” lalu ditindihnya kutu gemuk itu dengan kuku-kuku ibu jari.
Seharusnya di sana ada tangga kayu menyambutku.
Rumah ini sebelumnya panggung dengan delapan tiang bata kokoh menyangga tubuhnya. Namun, sepuluh tahun yang lalu, Karnia, adik perempuanku meminta rumah kami didudukkan.
“Bahkan kita saja lelah berdiri,” bujuknya saat aku pada hari itu menyatakan keberatanku mengubah bentuk rumah kami. Aku tahu Karnia sudah jenuh dengan semua kehadiran yang tidak diminta.
Arwah yang dendam. Gentayangan. Kabur dari kubur.
Lima tahun selepas kematian ibuku, perempuan itu beberapa hari sekali berdiri hening membawa sekotak kapur sirih dalam gelap. Pernah aku menyenternya dan melihat sendiri dengan tuntas: tatapannya muram nan kosong. Kurus seperti ranting. Ubannya jamak merebak di kepala. Ia tidak bicara. Tidak meminta apa-apa. Tetapi keberadaannya pada malam-malam ganjil di bawah tangga rumah, membuat Karnia selalu gusar dan tak tertahankan ingin mengusirnya. Adik perempuanku itu memang orang yang mudah kesal.
“Tidak ada yang memintanya kembali, tapi dia kembali,” kata ibuku pada saat aku baru berumur delapan tahun.
Perempuan dengan kotak sirih itu membuatku penasaran mengapa ia terus mematung di bawah rumah kami, dan ibuku tak pernah menghiraukan keberadaannya. Ibu tiada segan menumpuk kayu bakar untuk persediaan, membangun reban ayam, menimbun kelapa, dan mengikat anjing tepat di tempat wanita tua itu berada. Maka pada hari itu aku bertanya bingung. Aku bertanya,
”Siapakah perempuan tua itu dan mengapa ia tidak mengatakan sepatah kata pun pada kami. Mungkinkah ia keluarga kita?”
Ibu menghela napas agak keras saat kulemparkan pertanyaan demikian. Dia mula-mula mengintip pada celah di lubang papan lantai rumah panggung kami, tatapan matanya merah dan tajam mengamati sosok di bawah kakinya itu. Begitu selesai ia menggelengkan kepalanya seolah heran dengan apa yang baru saja ia saksikan.
“Itu nenekmu. Bertandang ke sini entah kenapa. Tidakkah seharusnya ia menemukan bapakmu di akhirat sana?” ujar Ibu dengan nada jengkel.
Api yang merah tampak mengendap di matanya. Ia berkata lagi,
“Semasa ia hidup jangankan menandangi gubuk kita, menoleh saja tidak. Jadi, untuk apa dia repot-repot mendatangi kita setelah bapakmu sudah tiada. Bukankah waktu bapakmu mati ia tak sehari pun mau datang.”
*
Karmina mengambil tiga kartu dan menaruhnya berbaris di atas meja kaca. Nyala lilin menari-nari diterpa napas hangat dari hidung bangirnya. Ia menelan ludah berusaha tidak panik ketika harus membalik kartu demi kartu di hadapannya itu. Ia semestinya tak pernah percaya pada kebenaran liyan di luar kebenaran tunggal yang ia hayati. Namun, untuk satu kali dalam hidupnya, dia ingin bermain-main dengan keyakinan. Ia lelah tunduk mendekam dalam ketidakpastian. Ia ingin mendengar sesuatu yang pasti. Bahkan jika itu sekadar harapan. Hidup semacam apa yang pernah dan pantas kujalani, lolong batinnya sewaktu ia memungut tiga kartu bergambar dari tangan lelaki asing itu. Kartu yang ia sendiri buta misteri apa tersembunyi di baliknya. Konon, kartu-kartu ini dibuat orang-orang pagan untuk membaca nasib dan ia ingin tahu nasibnya hari ini.
“Kebenaran kadang menyakitkan, tapi itu lebih baik daripada nyaman dalam tipu daya,” kata lelaki berwajah gelap itu sembari menyeringai menyambut tiga kartu yang Karmina sodorkan.
Dia pria buta sebelah. Matanya yang satu bolong dan separuh wajahnya rusak binasa. Ia bilang semasa anak-anak mukanya tersiram minyak tanah dari petromaks, tapi orang-orang bercerita kalau pria itu membakar wajahnya sendiri karena jenuh dikejar-kejar iblis betina dari neraka.
Kini tersisa kulit wajahnya bergerugut kasar, dagingnya meleleh bagaikan lilin, dan sebuah rongga kosong menjijikkan di tempat semestinya bola mata indah bertengger. Pemandangan itu membuat Karmina merinding. Sekujur tubuhnya gemetar menggeligis. Rasanya, ketika ia menatap sosok lelaki di hadapannya, ia seakan terhisap masuk ke dalam ruang kosong itu. Kepalanya mendadak pusing dan ia ingin muntah.
“Tolong cepatlah!” ucap Karmina tidak tahan. Sejurus ia mengalihkan pandangannya dari tatapan pria berwajah celaka itu. “Aku harus kembali ke rumah sebelum suamiku mencariku.”
“Baiklah,” kata si peramal, mengangguk. Ia tersenyum melihat tingkah tamunya yang sejak tadi gelisah. Ia membalik dengan hati-hati ketiga kartu secara bergantian. Kemudian senyumnya melenyap. Ia menggigit bibirnya hingga berdarah.
Pertama, kartu tegak. Sepuluh pedang menusuk punggung jasad seorang pria yang terguling di tanah. Langit hitam kelam di atasnya. Cahaya pagi mulai bangkit dari jauh.
Kedua, kartu tegak. Seorang pria di atas dipan terjaga dari mimpi seram. Di sampingnya sembilan pedang berbaris di dinding.
Ketiga, kartu terbalik. Seorang perempuan terikat dengan mata tertutup dikeliling delapan pedang. Di balik pedang, terlihat kastil jauh dengan latar langit mendung.
Tiga kartu pedang, batin Karmina. Apa maksudnya?
Lama peramal itu membisu. Dia memejamkan matanya. Karmina gugup menunggu sang peramal mengatakan sesuatu.
“Celakalah,” ucapnya gusar sesudah membuka mata. “Sebaiknya kau ceritakan hidupmu dengan jujur.”
*
Rumah bukan lagi rumah saat penghuninya pergi. Rumah ini sudah menjadi milik para penenun yang lihai membangun sarang di langit-langit. Aku terbatuk-batuk kala pertama kali menginjakkan kaki ke dalamnya. Tatkala aku melangkah masuk, aroma apak dan lawas menyusup ke rongga hidung. Untung saja aku tidak sampai bersin-bersin.
Foto-foto masih tergantung di tembok rumah kami. Kuamati satu foto paling besar di bingkai: Karnia menangis di gendongan ibu. Ibu tersenyum hingga matanya tampak memejam. Dan, ada lelaki paruh baya memeluk pinggangnya. Dia mengenakan kaos hitam, kacamata hitam, sembari tertawa lebar. Itu Bapak. Lalu terlihat anak kecil berdiri bengong di depan mereka. Dia satu-satunya bocah yang tak kusukai wajahnya. Itu aku.
Aku samar-samar mendengar isak tangis ibuku. Suara yang barangkali hanya aku bisa mendengarnya.
“Kau mungkin tidak akan ingat bagaimana hari itu aku dan bapakmu pergi dari tanah kakekmu. Mamangmu mengamuk melemparkan semua bata-bata yang kami buat susah payah,” sekilas terbayang wajah ibu menahan genangan di pelupuk matanya yang ingin mengalir jatuh.
“Pada petang itu, Ibu berharap nenekmu akan mencegah kepergian kami. Bagaimanapun aku dan bapakmu sudah banyak mengalah dan menuruti maunya mamangmu. Kami bersedia diberi tanah yang merapat ke sungai. Kami bersedia mengerjakan kebun karet milik mamangmu tanpa dibayar. Bapakmu pun rela tiada diupah oleh pamanmu untuk mencarikan kayu bakar dan membakarkan tanur batu bata miliknya. Semua itu karena bapakmu terlalu mencintai keluarganya.”
Ibu pernah berterus terang pada suaminya dengan mengatakan cinta yang tiada batas akan kehilangan rasa hormatnya, tapi Bapak terus percaya amor vincit omnia; bahwa cinta akan menaklukan segalanya. Ia meyakini cinta dan belas kasih yang tanpa pamrih kelak mengubah batu menjadi emas. Pada hari pengusiran memilukan itu, Ibu akhirnya membalas dendam pada Bapak. Ia berkata,
“Sekarang kau paham. Batu takdirnya menjadi pasir atau tanah, dan itu masih mulia. Sayangnya adikmu bukan batu, bukan pula pasir, dia tahi hina yang mustahil dimurnikan.”
Ibu menuntaskan kenangan pahit pada malam aku menanyakan tentang siapa perempuan tua yang membeku di bawah rumah kami. Ibu membencinya sedalam-dalamnya.
“Seandainya kau tahu, Nak. Betapa jahatnya wanita itu. Semasa hidup sikapnya sangat menyakitkan. Ia membedakan kita, ia mengadu domba anak-anaknya, membuat keluarga bapakmu sengsara, bahkan ia tertawa di hari kita kehilangan tanah mata pencaharian dan rumah,” tangis Ibu.
“Sekarang ia datang untuk suatu penebusan yang mustahil,” kataku sembari menyeka air mata ibuku, tapi itu tak pernah terjadi. Aku terlalu muda untuk menjadi dewasa. Aku hanya diam. Mencoba mencerna yang belum kupahami.
“Hari itu bapakmu tak tahu bahwa aku mengutuk keluarganya. Aku mengutuk semua anggota keluarga bapakmu. Aku mengutuk mereka tidak akan pernah lepas dari penderitaan.”
Seekor kucing hitam meloncat dari lubang di atas plafon sekonyong-konyongnya. Aku terlonjak. Ingatanku tentang Ibu menghilang tiba-tiba.
“Ada-ada saja, ” gumamku.
Ah, tubuhku lelah. Pikiranku kusut. Aku ingin memejam sebentar di dipan berdebu ini. Di kamar yang bertahun-tahun tidak pernah kusambangi. Sementara itu, suara kemarahan ibu masih tetap menggema samar. Tapi kali ini perlahan melenyap jadi keheningan.
Oh, Ibu, kau berhak untuk merasa damai. Bahkan dalam kelahiran pertama, kedua, dan ketiga.
Pernikahannya ini masih terlalu muda untuk hancur begitu saja. Karmina tidak mengerti mengapa hubungan yang dibangun baik-baik dan dijalani dengan segenap ketulusan justru rentan dan diwarnai pengkhianatan. Tanpa rahasia. Tanpa aling-aling. Ia sudah menelanjangi semua sudut diri dan kisahnya pada sang suami. Ia telah berjaga-jaga, jika lelaki yang ia nikahi adalah lelaki yang sanggup diuji kesetiaannya. Dia mencari jejak keluarganya, riwayat hidupnya, dan semua misteri yang ada pada lelaki itu. Dia nyaris sempurna dan mustahil dalam logikanya akan membuatnya menderita tapi kenyataannya kini, ia menderita.
Dosa apa yang diperbuatnya hingga Hartono berkali-kali menjalin hubungan dengan istri-istri orang?
“Kartumu menceritakan semuanya,” kata sang peramal. “Masa lalumu datang dari luka lama yang diwariskan. Selama itu belum putus, masa depanmu akan terus suram.”
*
Dia melompat ke dalam sumur.
Beberapa malam sejak ibu menceritakan kisah kemalangan keluarga kami. Ibu menangis terus-terusan di kamarnya. Kulihat ia duduk memeluk pigura berisi foto Bapak. Sementara itu, Nenek semakin sering mengunjungi rumah kami. Masih di tempat yang sama. Berdiri membisu dengan wajah datar dan membiru.
“Taburkan garam di sekeliling rumah. Bakar bawang ini,” perintah Ibu setelah hari ke sekian ia mengurung diri di kamar.
Aku menuruti perintahnya. Sebelum sore, aku sudah menaburkan garam ke sekeliling rumah kami. Menunu bawang di bawah rumah panggung sehingga baunya menyebar ke setiap penjuru lapang.
Anehnya, setelah kulakukan semua perintah ibu, Nenek tidak berani lagi datang ke bawah rumah kami. Ia hanya pernah berdiri semalaman di cincin perigi. Kemudian sebelum fajar tiba, dia sudah meloncat ke dalam sumur. Menghilang sepenuhnya.
Tiga hari kemudian ibuku meninggal.
“Karmina,” bisik sang peramal. Suaranya mendesis seperti ular licik yang ingin menyemburkan bisa dari mulutnya yang menggumpal. “Semua ini pasti punya akhir.”
“Bantu aku agar bisa meraih kartu ketigaku,” ujar Karmina, memohon. “Aku tidak ingin bertahan lagi dalam hubungan palsu ini.”
Sang peramal terbahak-bahak. Tawanya terdengar mengerikan. Taringnya yang tajam menyembul dari balik bibirnya yang hitam. Dia memasang topi hitamnya dan menyimpan kartu tarot dalam sakunya.
“Dengar, Nak. Aku peramal bukan penyihir. Salah jika kau mengharapkan aku dapat mengabulkan keinginanmu.”
“Lalu untuk apa kau memintaku bercerita,” tanya Karmina hampir menangis. Ia sungguh berharap peramal buruk rupa dapat mengabulkan harapannya.
“Aku ingin tahu apakah ramalan ini sudah sesuai atau tidak. Ternyata semua kartumu benar. Kau akan mendapatkan kartu ketiga. Penderitaanmu akan berakhir. Percayalah!”
Sesudah mengatakan itu sang peramal melenyap di hadapan Karmina. Pandangannya mengabur. Tahu-tahu ia terbangun sudah terbaring di sofa.
Hanya ada seekor kucing hitam tidur meringkuk menemaninya. Kucing itu mendengkur nyaman. Nyenyak di atas lengannya.
Karmina terbangun menemukan pintu rumahnya sudah terbuka. Entah mengapa ia merasa seseorang telah datang hari ini. Hartono, kah? Orang lainkah? Siapakah yang mengunjungiku selama aku bermimpi di siang bolong.
Aku pulang hari ini. Tak ada ibu. Tak ada Karnia. Tak ada siapa-siapa. Aku sendirian.
Seorang penulis, pelahap buku, pencinta dongeng. Menulis semua yang sedang ingin ditulis. Instagram: @jayalah_aspidistra dan blog https://linktr.ee/jayalahaspidistra
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!