Pulang ke Rumah

Membayangkan seseorang pergi tanpa

Hidup menolaknya pulang adalah kesia-siaan belaka,

Aksara bukan lagi milik pulang yang lantang

Memanggil petualang.

Binatang itu, uang, yang ada di lemari ibu telah menyihirnya

Menjadi suara janji manis pilpres.

Pulang ke rumah seumpama perjalanan panjang,

Aku wajib memiliki mata jeli, agar selamat dari tipu daya

Kalender dan jam kuliah yang terkutuk.

2018

Perihal Marahnya Cinta

Kita pernah membayangkan diri menjadi dua sisi permen,

Aku sisi yang tak henti dikulum bocah itu,

Kau adalah sisi yang menertawaiku, betapa culas aku

Telah membuat gigi anak-anak berkarat.

Aku tidak ingin berbeda sisi denganmu,

Tapi penguasa selalu butuh pemanis.

Jika hari paskah tiba, dan kita adalah satu-satunya

Permen yang tersisa.

Maka ijinkan aku mencintaimu, tanpa kau patah hati

Oleh janji penguasa itu.

2018

Pulang kerumah 2

Bagaimana kau bisa betah tinggal dalam koran,

Aku sudah membuatkan sebuah rumah dari puisi, kata ibu.

Kota dan segala ketergesaannya adalah rumahku,

Ibu diam dan itu adalah kekalahan telak bagiku.

Sebuah perihal yang pelik,

Mencintaimu, pulang.

Di tengah waktu sibuk yang menyiksa tubuh.

2018

Sajak Malas

Melihat koran pagi ini,

Aku ingin memeluk guling dan mulai membayangkan tubuhmu.

Aku tidak berusaha terjaga, akan kubiarkan mimpi keluar-masuk kepalaku

Dan juga kau.

Kau duduk di warung seberang rumahku, berharap aku keluar,

Dan kau ingin melihatku pagi ini, tapi gagal,

Aku sedang menyelam ke dasar ingatan yang kelam.

Sampai sore tiba, aku akan tetap kukuh, kalau aku tidak akan ke mana pun,

Aku ingin terhindar dari matahari yang meleleh,

Dan anak sekolah yang tidak belajar.

Sepasang jendela tengah berbagi kisah denganku.

2018

Berbagi Mimpi Denganmu

Kelak jika kau sedang libur kuliah, aku akan mengajakmu ke sebuah kota.

Kita akan menyaksikan mereka pergi ke kantor tanpa membawa kata kerja.

Aku akan mengajakmu menjadi jalan,

Tentu, kita akan saksikan seperti apa mereka,

Saat membunuh hari libur ditengah kemacetan.

Setelah itu, kita berciuman di hadapan mereka,

Yang menegur saudaranya dengan suara klakson,

Bahwa kita saling mencintai.

2018

Aku Marah Padamu, yang Tanpa Kabar

Aku ingin tidak punya nama dan dilupakan.

Mereka yang asing dan tidak mengenal aku

Adalah kekasihku –termasuk surat, alamat, petualang dan pulang.

Aku berharap kau tidak mengenalku sebagai manusia,

-akan sangat terkutuk, apabila kau mengenalku

Dengan identitas uang yang mereka dewakan.

Jika kau ingin kita seperti sediakala,

Sebagai sepasang kekasih yang saling mencinta,

Aku ingin kau merawat cintaku yang belukar

Dan tidak pernah lagi kau biarkan seperti koran kampanye

Dan poster sekolah yang diabaikan.

2018

Ibu, Aku Pulang

Semenjak aku menetap di kota itu,

Aku lebih suka berunjuk rasa.

Kericuhan selalu punya tempat di tengah demo mahasiswa.

Kini, demokrasi tengah kritis dan harus dilarikan ke rumah sakit,

Aku pun pulang, tiba-tiba demokrasi mengganti namanya sendiri.

2018

Kelas Dosen Killer

Aku benci pada jam-jam sibuk,

Itu akan membuatku tergesa dan sulit menemui kau

Di dalam kenangan.

Aku selalu berusaha mencari jam senggang,

Hidup tanpa waspada adalah perihal yang terkutuk,

Dan kota, tempat mereka yang bekerja namun membunuh kata kerja,

Satu perihal yang kurang ajar, jika aku lupa mengingat-Mu.

2018

Mengerjaimu dengan Mengatakan Aku Ingin Putus

aku tahu,

kau hampir bunuh diri saat aku mengatakan

aku ingin putus dan menerima kabar aku telah

mencintai partai politik yang telah memecat ayahmu.

Aku tidak akan menghabisimu dengan dua mata senjata,

-Yang kau bayangkan aku akan bersorak

Setelah kau mati- seumpama politik saja cukup menebas kepalaku.

2018

Maafkan Aku

Jam tiga pagi,

Aku tahu kau telah tidur di kasurmu yang empuk,

Di sela tidurmu kau selalu kedinginan karena pendingin ruangan

Kamarmu terlalu kecil suhunya, aku tidak khawatir pasal itu.

Kita tahu, tubuhmu yang sintal selalu berhasil menyusup

Di kedalaman selimut, dan kenangan itu, saat aku batal menciummu,

Kau selalu menyembunyikannya di balik malumu yang pura-pura.

Jam tiga pagi,

Aku masih terjaga, kian hari tugas kuliah semakin menempuk,

Bapak dosen tak suka banyak bicara, aku sedang sangat sibuk,

Kopi dan mata lelah buruh tak cukup mengobati rinduku padamu.

Maafkan aku jika terlambat datang berkunjung,

Maafkan aku jika aku kehabisan kata dan tak sempat lagi

Mendongeng untukmu.

Profil Penulis

A. M. Sopyan
A. M. Sopyan
Lelaki penggiat Taman Baca Society yang cukup berbahaya, menggoda dengan segala puisi dan skenario dramanya. Uwuw~