Pulang Kampung yang Biasa-Biasa Saja

Nas menelepon kembali. Ini sudah kali keempat panggilannya diabaikan Mirna.

“Apa kau sedang sibuk?” Nas memulai tanpa sapa dan basa-basi tidak bergunanya itu.

Baru beberapa detik panggilan itu tersambung, Mirna sudah menarik napas panjang. 

“Iya, Bang, sedang di depan laptop ini, tidak lihat HP tadi!” kata Mirna berusaha sopan.

Nas tahu Mirna adalah pembohong yang buruk. 

Mirna membuka suara setelah ada kekosongan sesaat di antara mereka, “Bagaimana kabar Kak Ya dan anakmu, Bang?”

Hanya dengan percikan pertanyaan itu, Nas lantas mengambil kemudi percakapan untuk membicarakan dirinya sendiri. Ia mulai dari istrinya yang belakangan sering marah tanpa sebab.

“Oh mungkin kau berbuat kesalahan, Bang” kata Mirna, tetapi itu pun menjadi bumerang yang lantas melahirkan dua juta penjelasan dari Nas kalau dirinya tidak pernah salah. 

Mirna meletakkan gawainya di dekat kursi dan ia mulai mengeluarkan pakaian dari lemari, mengambil Kispray warna biru, dan mengambil setrika. Ia lalu duduk dan sesekali menjawab “iya” “hmm” atau “oh” pada setiap cerita Nas. 

Setelah ini, pasti Nas akan menceritakan soal bisnisnya yang tidak berjalan dengan baik dan mengatakan seandainya ia memiliki delapan puluh juta untuk tambahan modal, kentungan yang akan kembali pasti beratus-ratus kali lipat. 

“Kau tahu bisnisku tidak sebaik dulu, laba sehari-hari habis untuk dimakan, kalau saja ada uang sembilan puluh juta, kedai ini akan aku rombak habis!” Mirna tertawa kecil, karena ternyata angkanya telah naik sepuluh juta.

Omong kosong pun terkena inflasi rupanya!

Mirna mulai menyetrika kemeja warna biru dongker miliknya. Ia menyemprotkan Kispray pada bagian lengan dan bahu. 

“Aku hanya ingin mengecek keadaanmu, apakah hal-hal berjalan baik di sana? Pulanglah sebentar, Mirna, semua orang mencarimu di sini.” kata Nas dengan suara yang tidak sesemangat sebelumnya. 

“Ya … baiklah” kata Mirna pelan.

“Benarkah?” nada bicara Nas terlihat bersemangat kembali, “Kapan?”

“Lima bulan lagi. Saat ini Aku sedang mengerjakan laporan penting dan akan pergi ke luar kota untuk mencari narasumber.”

“Lima bulan?” Nas bertanya dengan nada setengah mengejek.

Yaps!” kata Mirna berusaha terdengar antusias “Bulan ini aku hanya perlu mewawancarai empat orang di Sukabumi. Lalu bulan depan aku akan menyusun laporan dan hasil asesmen awal. Bulan selanjutnya orang pusat akan turun ke lapangan mungkin, dan baru bulan berikutnya lagi aku akan mencari tiket pesawat pulang ke kampung untuk bulan berikutnya.” tambahnya.

“LIMA BULAN? Apa kau tahu sudah sebelas tahun kau tidak pulang ke rumah, Mirna! Selalu ada saja alasanmu! Apakah di perusahaan itu karyawannya hanya kau seorang? Kenapa rasanya kau lebih sibuk dibanding direkturnya hah?!” nada marah Nas terasa hebat meski mereka tidak sedang bersitatap. 

Lamat-lamat dari ujung telepon, Mirna mendengar suara pecahan gelas. “Demi Allah kita ini bersaudara, Mirna! Kalau kau sungguh tidak ingin pulang, maka tunggu saja kabar kematian ibumu dari lidah tetangga!” 

Mirna terdiam sesaat. Menghela napas. Ia mengambil potongan baju pendek warna hitam lainnya yang sering ia pakai satu set dengan blazer. Setelah beberapa kali semprotan Kispray, ia mulai melanjutkan menyetrika. 

Menit-menit kemudian berjalan hening di antara mereka, Nas kembali bersuara. “Maafkan aku, Dik, kau tahu kan kalau aku tidak biasanya seperti ini? hanya saja bisnisku tidak terlalu berjalan baik di sini. Kau memaafkanku, kan?”

Mirna berkata “iya” dengan pelan dan tidak mengatakan apa-apa lagi. 

“Dan maafkan aku juga yang dulu tidak bisa melindungimu, ya. aku hanyalah seorang bocah saat itu. Kalau Ayah masih ada, ya kalau beliau ada, pasti mantan suamimu sudah membusuk dipenjara. Sayangnya laki-laki itu sama bajingannya dengan orang-orang yang membunuh ayah kita di Rumoh Geudong. Bagaimana mungkin ada pembunuhan yang tidak ada pembunuhnya! Mantan suamimu kudengar sudah jadi tauke kawat di sini … ” Nas tidak lagi melanjutkan perkataannya. 

“Iya, aku tahu Abang pasti berniat menolongku” kata Mirna cepat sambil mengambil potongan celana panjang terakhirnya untuk disetrika. 

“Iya kan! Aku tahu kamu pasti tahu kami di sini menyayangimu. Dan tolong jangan terlalu marah pada Ibu, Ibu hanya menginginkan kau punya suami, tidak ada orang yang bisa hidup sendirian. Ibu sudah merasakan sendiri menjadi janda itu tidak enak.” 

“Iya, Bang. Sampaikan salamku pada Ibu. Maaf aku tidak bisa sering menelepon karena di sini aku sungguh sibuk.”

“Lima bulan lagi. Baiklah. Aku tunggu kamu kirimkan jadwal tiket pesawatmu ya. Tentu aku harus ke Banda Aceh menjemput tamu jauh haha.” 

Setelah telepon dimatikan, Mirna duduk di kursi kerjanya dan mulai membuka laptop. Ia membuka Youtube dan melihat video mukbang. Setelah itu ia lanjut membuka video klip lagu-lagu Taylor Swift. Setelah itu ia melihat podcast berdurasi 48 menit yang menghadirkan komika yang tengah naik daun. Mirna tertawa terbahak-bahak hingga hampir menumpahkan air yang berada di samping laptopnya. 

Pakaian yang sudah disetrika masih ada di lantai. Di sana juga ada piring bekas makan pecel lele yang belum ia cuci sejak kemarin. Di sampingnya ada print-out laporan KKR Aceh tahun 2023 setebal 250 halaman yang terbuka. Ada stabilo berwarna pink dan hijau di sana-sini.

Mirna mengambil bantal dan mulai tidur terlentang. Matanya memandang jauh ke langit-langit kos yang hanya selebar empat meter. Ia memotret dirinya sendiri secara acak, dan yang ia lihat adalah potret perempuan dewasa dengan mata setengah cacat. Kalau dulu ia tidak lari ke Medan lalu luntang-lantung sampai ke Jakarta, mungkin ia sudah mati seperti Ayahnya yang dibunuh negara. 

 

Pasar Minggu, 20 Juni 2026

Suka menulis sejak SMP. Menamatkan sarjana dan magister di Ilmu Sastra. Saat ini berdomisili di Jakarta. Instagram @Vinni_adam34

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!