

Menantimu seperti maut
tak ada yang tau-
kecuali Tuhan
Kau perempuan
nan sulit diajak
kencan
Padahal ia hanya
ingin jadi-
teman
tapi setia
Harum wangimu
selalu terngiang-
dalam benaknya
Ia tak pernah
nganggur
Selalu sibuk-
tentangmu
Sulit ‘tuk bertemu
pun bertamu-
ke rumahmu
Mungkin nanti,
kapan-kapan-
tapi tak ada yang tau,
kecuali Tuhan
Joyo Raharjo, 2026
Bisalah-
kita duduk berdua,
cerita tentang-
butiran puisi
nan menyatu-
berbisik
namamu selalu
Urusan menentukan
tempat dan ribuan topik-
Aku punya draftnya
bukan dari AI
tapi
dari senyummu
nan mengikat-
hati ini
Ikatan nan-
melilit sekelilingnya,
tak ada ruang
‘tuk siapapun masuk
Kau mengurung
dalam cerita-
ceriamu itu
Joyo Raharjo, 2026
Aku dan Malang
menantimu
datang
Nanti kita
bertemu lagi
di Kantin Fakultas-
nan terbatas:
oleh waktu
oleh dosenmu
oleh teman-teman kita
oleh-oleh-nya,
ditunggu, ya!
Itu pun
kalau ingat
Kalau tidak-
Aku tak peduli
kehadiranmu lah
hadiah nan
paling
mewah
Aku sudah tak sabar
lihat senyummu-
nan lebar
penuhi dinding
Fakultas dengan mekar
Kala kau pulang,
Aku dan Malang
berbincang tentangmu
nan lucu tambah manis
Ia tersenyum tipis,
menantimu di ujung liris
sedikit dramatis
penuh dengan gerimis
indahmu
nan manis
Joyo Raharjo, 2026
Belum juga seminggu
ditingal pergi
Aku menanti
tanpa henti
Lantaran kau
terus mengalir
dalam pikiranku
nan derasnya
bayangmu
Dengan berat hati
pun kejujuran diri
Aku setia
menanti
Dengan Lantang,
Aku Pengen
ketemu
lebih riang
Di Malang
Joyo Raharjo, 2026