Sudah sejak lama tubuh PSSI mengalami borok. Sudah beberapa kali berganti rezim, namun penyakitnya selalu itu-itu saja. Seolah-olah PSSI tak mau berbenah, bertahan dengan karakter buruknya. Pergelaran liga yang nggak becus, maraknya kasus match fixing, dan minimnya pembinaan pemain bola patut jadi prioritas utama PSSI dalam melakukan pembenahan. Sudah lama masyarakat negeri ini merindukan prestasi, tapi PSSI bisa apa?.

Dimulai dari pergelaran liga, jadwal Liga Indonesia selalu tak beraturan, baik hari pertandingan maupun keselarasan jumlah main per pekannya. Belum lagi jadwal yang sering berubah-ubah seenak udel. Alasannya karena perijinan kepolisian, hak siar stasiun televisi, kelelahan pemain setelah menjalani jadwal di turnamen Asia, dll. Bermacam-macam alasan, tapi intinya PSSi tak bisa tegas dan kalah sama pihak eksternal. Masa iya mau diatur-atur klub, stasiun televisi, atau perijinan? Lah kenapa nggak jauh-jauh hari diurus? Kan sudah jelas jadwalnya. Bukankah antara PSSI, pihak kepolisian, dan pihak klub sudah bisa menduga tanggal-tanggal yang diajukan akan ada kegiatan apa?

Masih di pergelaran liga. Keributan antar supporter juga banyak terjadi, bahkan tak jarang sampai memakan korban nyawa. Ini bukan lagi main-main, dan PSSI tak bisa hanya berdiam diri dan perlu melakukan sanksi tegas. PSSI masih ketakutan akan status klub yang memiliki banyak pecintanya, tebang pilih dalam pemberian sanksi, dan kepempinan wasit yang seringkali merugikan salah satu pihak dan memicu emosi supporter.

PSSI harusnya mencontoh penegakan sanksi tegas yang dilakukan federasi sepak bola di Eropa. Seperti kasus yang menimpa supporter Liverpool di Tragedi Heysel 1985 yang menewaskan banyak korban, yang berakhir dengan hukuman pelarangan seluruh klub dari Liga Inggris untuk mengikuti Liga Champions selama 5 tahun. Dan dalam kepemimpinan wasit pun harus menjadi catatan PSSI untuk mendidik wasit yang berintegritas tinggi.

Dalam banyak acara talk show match fixing selalu ramai untuk dibahas. Tak tanggung-tanggung, sampai saat ini Satgas Anti Mafia Bola sudah menetapkan 10 tersangka yang terdiri dari Pengurus Exco PSSI, Komdis PSSI, Komite Wasit, dll.

Ternyata orang-orang yang terlibat adalah orang-orang PSSI sendiri. Bagaimana mau bersih jika yang terlibatnya sendiri adalah pengurus, bahkan komisi disiplin. Ini sangat memalukan sepak bola Indonesia.

Masyarakat sudah mencium bau-bau mafia ini sejak lama, namun baru terungkap ketika di kupas habis di acara salahsatu stasiun televisi swasta.

Yang saya masih sangat ingat betul adalah peristiwa kelam tentang pengaturan pertandingan antara Persebaya Surabaya melawan Persik Kediri di tahun 2017.

Saat itu, Persebaya dan Persik berpeluang lolos dari jurang degradasi Liga Super Indonesia. Namun akhirnya Persik harus menang minimal dengan skor 5-0, sedangkan Persebaya harus menang minimal skor 3-0. Laga itu sudah dijadwal dan dibatalkan berulang-ulang hingga tiga kali. Hasilnya di penjadwalan ulang keempat kalinya akhirnya Persik dinyatan menang WO 3-0, dan kedua tim ini pun harus gagal keluar dari zona degradasi. Sekaligus menajdikan Pelita Jaya pemenang, yang entah kebetulan atau tidak, saat itu klub ini dipegang oleh pengusaha Nirwan Bakrie yang merangkap sebagai Pengurus PSSI. Ini adalah bukti match fixing yang nyata dan sangat jelas terlihat.

Hal lain yang tak kalah penting adalah urusan pembinaan pemain bola kita yang menyedihkan. Sudah bukan rahasia lagi, ketika di level junior tim nasional kita begitu perkasa menorehkan prestasi di kancah Internasional. Namun mereka seolah meredup ketika sudah mencapai usia matang.

Hal ini tentu sangat miris, berbanding terbalik dengan prinsip pembinaan dan juga yang terjadi di negara-negara Eropa sana. Bahkan di perhelatan sepak bola antar negara se-Asia Tenggara pun kita belum bisa juara, hanya mentok di runner up. Usut punya usut, menurut pengakuan Andi Darussalam, mantan manajer Timnas Indonesia menyebutkan bahwa final Piala AFF 2010 pun tidak terhindarkan dari yang namanya match fixing.

Nyatanya saat itu Indonesia telah diatur kalah melawan Malaysia. Match fixing ini benar-benar sudah mencederai sepak bola Indonesia. Bagaimana tidak, animo dan kerinduan masyarakat Indonesia akan prestasi Timnas Indonesia harus pudar hanya gara-gara segelintir orang yang serakah menggerus pundi-pundi uang dari Sepak Bola Indonesia.

Edy Rahmayadi sudah mengundurkan diri dari jabatan Ketua Umum PSSI, ini adalah buntut dari teriakan Edy Out yang selalu menggema di setiap pertandingan Liga 1 ataupun di media sosial.

Namun apakah dengan mundurnya Edy Rahmayadi sebagai ketua umum PSSI sepak bola kita akan lekas membaik? Tidak semudah itu ferguso.

Dalam 10 tahun terakhir PSSI sudah dipimpin oleh empat orang yang berbeda, namun pengurus PSSI orangnya itu-itu saja. Joko Driyono, Iwan Budianto, Gusti Randa, Johar Lin Eng, hingga Dwi Irianto (Mbah Putih) sedikitnya orang-orang lama yang masih bercokol di kepengurusan PSSI. Bahkan yang memalukan adalah Johar Lin Eng dan Dwi Irianto sudah ditetapkan Satgas Anti Mafia Bola sebagai tersangka pengaturan skor (match fixing), dan bukan tidak mungkin akan muncul nama-nama lain dari pengurus PSSI yang akan segera ditetapkan kembali sebagai tersangka.

Belakangan muncul nama-nama kandidat yang akan menjadi Ketua Umum PSSI seperti Erick Tohir yang sudah berpengalaman mengelola klub Inter Milan, Politisi PKB Muhaimin Iskandar, hingga mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaya Purnama (Ahok).

Latar belakang profesi sepertinya tidak terlalu penting untuk saat ini ketika memang orang-orang yang aktif di dunia sepak bola sendiri belum ditemukan orang-orang yang berintegritas. Seperti yang terjadi di negara Perancis, Belgia, ataupu Thailand yang federasinya dipimpin oleh seorang berlatar belakang politisi, pembisnis, atau ahli hukum.

Masyarakat pecinta bola sudah sangat berharap PSSI ini dikelola oleh orang-orang yang betul-betul ingin berjuang memajukan sepak bola Indonesia.

Mereka sudah jengah dengan kelakuan para elite pengurus sepak bola Indonesia yang hanya sibuk mencari kekayaan, berlindung dibalik ketiak mafia, dan menggadaikan prestasi bangsa. Tidak ada kata lain selain ‘Revolusi PSSI’ sampai ke akar-akarnya, tidak ada tempat bagi para pengecut untuk duduk manis di singgasana federasi. Kita harus optimis akan kemajuan sepak bola Indonesia. Kita sebenarnya punya potensi untuk maju, tinggal pengelolaannya yang harus dibenahi. Bagaimanapun PSSI adalah rumah bersama bagi semua yang percaya dan berharap besar pada sepak bola Indonesia.

Maju terus Sepak Bola Indonesia. Bravo Sepak Bola Indonesia.

Profil Penulis

Sabit Parid
Sabit Parid
Fans Liverpool Garis Keras. Bagiku Liga Champions gak seru kalau nggak ada Liverpool. Pokokna mah Liverpool salawasna. Apa kabar para fans-fans lain yang sedang hibernasi di goa? Ada salam dari The Anfield Gank :). Tapi loyalitasnya untuk sepak bola Indonesia tak bisa diragukan, tiap timnas main selalu paling depan nonton di telvisi.