

Sebuah tribut untuk “Sepotong Senja untuk Pacarku”
Wahai Tuhan Yang Maha Pengasih,
Bersamaan dengan surat ini aku kirimkan kepada-Mu fajar dengan embun pagi, ayam berkokok, semburat emas mentari yang menyelinap di sela Gunung Salak, pohon-pohon rindang, dan tentunya tempat yang selalu aku isi di dalam doa-doa penutup malamku. Apakah Engkau menerimanya dengan lengkap, Tuan?
Selayaknya fajar yang ada di kota besar, tentu akan ada burung yang berterbangan atau hinggap di dahan, barangkali juga orang kantoran yang mulai sibuk memacu kendaraannya. Atau mungkin juga ada kucing yang berkeliaran, kenari dan mahoni yang merunduk, dan lampu-lampu jalan yang masih bersinar atau mungkin terdapat samar-samar bintang tertutup awan yang selalu setia menunggu bulan.
Aku tuliskan surat ini dengan rapi dan ikhlas Tuan, dan juga kukirimkan sepotong tempat hal yang sangat aku impikan. Lalu kumasukkan surat ini ke dalam amplop yang tertutup rapat. Sehingga aku bisa menjamin surat ini bisa sampai ke Arsy-Mu.
Sudah terlalu banyak umat manusia di bumi ini Tuan, dan banyak pula kosakata yang tercipta sepanjang peradaban umat bumi. Aku tidak ingin interaksi kita begitu hambar seperti umat lain. Maka aku kirimkanlah surat ini dalam bentuk tertulis agar pesan yang ingin aku sampaikan bisa langsung tertuju kepada-Mu. Aku tidak perlu lagi bersaing hebat dengan manusia yang hanya bersujud kepada-Mu saat dihadapkan masalah. Yang hanya aku takutkan, surat ini tenggelam dengan surat-surat mereka yang lebih ikhlas dan senantiasa ihsan. Namun, aku percaya Engkau Maha Dekat dan Maha Penyayang.
Aku kirimkan sepotong tempat yang selalu hadir di setiap doaku Tuan. Tempat aku bisa meraih dunia digenggaman tangan. Tempat aku bisa menunaikan kewajibanku menuntut ilmu dunia dan juga akhirat, Tuan. Yang dihiasi dengan dengan langit yang indah persis saat aku memotongnya saat fajar perlahan terbit dari timur.
Tuhan Yang Maha Mendengar dan Melihat, Maha Mengetahui segala perbuatan manusia, akan aku ceritakan bagaimana aku mengambil sepotong fajar dan IPB untuk-Mu.
Pagi itu, setelah menunaikan sujud kepadamu, aku melamun di atas jembatan penyeberangan kampus itu. Aku berdiri seorang diri. Melihat bagaimana dingin yang mengigit berubah menjadi sejuk yang lembap, melihat alam menjelma menjadi karunia terindah hari ini. Dari tepi jalan, dari tepi Gunung Salak, aku lihat semesta begitu indah, langit-langit kembali semangat membara. Melihat bagaimana bulan dikalahkan matahari. Tapi untungnya saja awan tetap saja putih kelabu, angin masih saja tenang, dan embun masih saja dingin saat membasahi wajahku.
Keindahan itu lambat laun dimakan matahari, lalu aku teringat kepada-Mu, Engkau sangat suka sekali keindahan. Maka, ku potonglah fajar itu sebelum terlambat. Aku pun sengaja mengikutsertakan kampus impian ku kedalam potongan itu. Lagipula itu pemandangan yang sangat indah juga, bukan?
Aku potong membentuk persegi panjang. Ku pisahkan mereka di setiap empat sisinya. Lalu aku masukkan potongan itu ke dalam kantong. Sinar fajar begitu terang memenuhi saku kecilku. Kemudian aku berjalan pulang menuju rumah dengan perasaan gembira dan juga rasa puas karena aku bisa mengabadikan karya-Mu di genggaman tanganku.
Aku berjalan santai menuruni anak tangga jembatan. Aku lihat banyak orang berbondong-bondong mengerumuni wilayah kampus. Ternyata mereka geram karena fajar dan IPB telah aku potong. Aku lihat langit menjadi rumpang beserta IPB dan isinya.
Mereka mulai melangkah ke arahku dengan wajah curiga. Aku mempercepat langkahku menuju pangkalan ojek yang sedang sepi tanpa penumpang. Melihat gelagat orang-orang yang semakin naik pitam, aku langsung mengambil alih motor tukang ojek dan menancapkan gas untuk pergi menjauh dari keramaian.
Orang-orang beserta tukang ojek yang aku ambil alih motornya begitu marah.
“Kejar dia, dia pencuri, pencuri fajar!” saut mereka.
Aku langsung meluncur ke jalan raya. Aku berkendara dengan santai karena dari awal aku sudah meniatkan fajar dan IPB ini untuk-Mu Tuan. Yang hanya aku khawatirkan, potongan ini cukup besar untuk saku yang kecil. Aku hanya takut jika fajar ini tidak sengaja jatuh dan dipungut oleh orang yang kurang kerjaan.
Aku lihat dari tepian jalan, begitu ramai orang menatap langit. Mereka begitu heran apa yang sebenarnya sedang terjadi. Dari kaca spion juga aku melihat beberapa orang mengejarku dengan tenaga mereka seadanya. Aduh, baru fajar dan IPB yang hilang, orang-orang sudah tidak karuan.
Bagaimana jika setiap orang juga ingin mengirimkan fajar atau senja juga kepada penciptanya?
Mungkin dunia akan hampa dan gelap gulita. Dalam pikirku, kenapa mereka tidak menunggu saja fajar yang akan terbit esok hari atau memanfaatkannya dengan memotong dan menjual fajar eceran di lampu merah. Sehingga orang-orang bisa memiliki fajar mereka sendiri.
Di jalanan yang padat, aku harus berhati-hati karena semua orang mencariku. Suara sirine mulai meraung-raung di cakrawala. Untungnya gemerlap lampu jalan Bogor begitu cemerlang. Sehingga cahaya fajar di saku celanaku tidak terlalu mencolok. Lagipula di kota besar, siapa yang peduli fajar di curi. Baik siang atau malam, waktu terasa berjalan begitu saja di kota besar. Jadi tidak penting ada tidaknya matahari. Rasa-rasanya mereka mungkin marah karena IPB mereka diambil — Tempat pusat pendidikan di kota itu. Oleh karena itu para polisi mulai mengejarku seperti bandar narkoba.
Dari dalam mobil polisi, terdengar suara peringatan yang menggunakan toa.
“Berhenti, untuk pengendara kendaraan Jupiter dengan plat F 2881 BA kami ingatkan untuk berhenti. Anda menjadi tersangka pencurian fajar. Kini status anda adalah buronan. Walau itu tidak tertulis di undang-undang, tapi berhentilah … ”
Aku enggan memberhentikan motorku dan menyerahkan diri. Aku sudah berkomitmen kepada diriku untuk mengirimkan fajar untuk-Mu. Aku memilih masuk ke perkampungan kecil dengan jalan tikus yang berkelok. Badan jalan semakin ramping dan sepertinya mobil-mobil itu memilih untuk memutar balik. Aku menyelip diantara motor dengan cekatan. Kali ini mereka pasti kesusahan mendapatiku.
Satu mobil sudah gugur dengan kondisi ban yang masuk ke parit. Satu mobil sudah tersesat di tengah pemukiman. Satu mobil lagi terjun bebas ke Cisadane. Begitu malang nasib mobil dan para supirnya. Hanya tersisa warga yang mengejar menggunakan motor. Kali ini bukan masalah merek motor tetapi skill berkendara. Mereka kalah jauh dengan aku sehingga aku masih bisa menggocek mereka. Tawaku lepas saat melihat mereka tidak sengaja menabrak barang dagangan di pasar. Bukannya berhasil menangkap diriku, mereka malah diamuk oleh massa.
Tapi ternyata mereka tidak sebodoh yang aku pikir, Tuan. Mereka mengirimkan anggota dan berjaga di setiap sudut Kota Bogor. Jumlah mereka yang banyak membuatku harus semakin berhati-hati. Kondisi Bogor yang gelap tanpa fajar bahkan tidak menutup usaha para polisi untuk mencari ku. Di tengah langit yang gelap, mereka menerbangkan helikopter dan menyoroti tiap jengkal kota dengan lampu sorotnya. Aku tersudut dan hampir tertangkap saat itu. Tapi tenang Tuan, hambamu satu ini sangat lihai dalam bersembunyi.
Aku langsung meninggalkan motor yang aku bawa di sebuah warung dan menyelipkan seratus ribu di joknya. Itu sebagai simbol terimakasih barangkali saat motor itu kembali ke pemiliknya. Aku menerobos ramainya perkampungan, melompati lubang-lubang dijalan, dan hampir menabrak tiang jemuran, dan gerobak pedagang. Aku menyusuri tempat yang dipenuhi sampah, dan grusuk menaiki anak tangga yang buruk rupa. Hingga saat aku pergi menuju persawahan, seorang petani menuntunku memberi petunjuk tempat paling aman di Kota Bogor.
“Sini, Nak … kau tidak ada jalan lain.”
Petani itu langsung mendorongku ke dalam parit irigasi. Dan menutup sisi atas dengan papan lapis. Kemudian petani itu berbaring diatas papan untuk mengurangi rasa curiga polisi yang sedang berkeliaran. Bau paret itu begitu menyengat. Lumpur-lumpur sangat lengket di celana. Cangkang keong bahkan tidak sengaja aku pecahkan. Air sawah yang setinggi lutut memuncrat membasahi wajahku. Aku raba fajar dan IPB di dalam saku celanaku. Cahaya semburat matahari masih cukup memberi sinar di dalam saluran irigasi tersebut.
“Berdirilah, Nak! Singgahlah di pondok kami sebentar untuk istirahat.”
Petani itu membuka papan yang menutupi diriku. Udara segar akhirnya bisa ku hirup dalam-dalam dengan tenang. Aku mengamati kondisi sekitar. Sekiranya aman, aku langsung beranjak dari parit busuk itu untuk beristirahat di gubuk tua si petani. Ternyata gubuk itu hanya sepuluh langka dari tempat aku bangkit. Gubuk itu tidak kalah busuk ternyata. Hanya terbuat dari terpal biru yang sudah sobek dengan tiang batang singkong. Lantainya beralas papan-papan jabuk.
Anehnya di lantai gubuk itu seperti cahaya putih samar ingin memaksa keluar. Aku lihat petani itu menggeser dan meraih tanganku untuk menuntunku masuk ke dalam. Aku menerawang lubang tempat aku masuki ternyata puluhan anak tangga sudah siap untuk dipijak dan membawaku ke sebuah terowongan yang diterangi dengan cahaya putih. Di ujung lubang tempat aku menuruni tangga, berdiri kokoh mulut pintu terowongan yang di ujungnya memberi harapan.
Dengan tenaga yang ada, aku kuatkan diriku untuk berjalan ke muara terowongan itu. Di ujung terowongan, cahaya putih begitu menggoda mengajakku untuk terus cepat melangkah dan.. Tidak disangka-sangka. Engkau mungkin akan tidak percaya ceritaku ini, Tuan. Tapi percayalah ini yang terjadi kepadaku. Aku berjalan hingga mencapai ujung, dan tahukah kamu kemana terowongan itu membawaku ? Di tempat yang sama saat aku memotong fajar dan IPB untuk-Mu, Tuan. Sebuah tepian jalan dengan jembatan penyeberangan menuju kampus impianku itu. Tepat saat waktu fajar dengan embun pagi yang dingin, dan semburat tipis matahari yang khas. Tapi kali ini objek yang aku potong masih lengkap pada posisi dan kondisi yang sama. Jadi, walaupun persis tapi ini bukan tempat dan waktu yang sama.
Aku berjalan di trotoar dan melangkahkan kaki ke anak tangga jembatan penyeberangan. Aku bersandar di pagarnya menikmati alam yang menawan. Mendengar suara ayam berkokok, mengamati burung-burung yang berterbangan didampingi dengan awan tipis yang memantulkan sedikit cahaya matahari. Aku lihat tempat impianku berdiri gagah dengan kenari dan mahoni yang setia menunggu para mahasiswanya. Tapi dengan kondisi yang sunyi, tanpa suara, tanpa kendaraan, hanya alam yang bersautan.
Sambil bersandar di tepian jembatan, aku termangu. Untuk apa mahakarya-Mu seindah ini tapi tidak ada yang menikmati. Setelah berjalan kesana-kemari. Aku sadar tidak ada seorang pun dibawah sini. Bahkan petani yang menuntunku hilang dalam kedipan. Di dalam dunia terowongan ini hanya ada unggas yang berkeliaran. Sepertinya para unggas ini tidak bersarang atau beranak pinak. Aku rasa mereka hanya penghias fajar indah ini yang bertugas mengepakkan sayap tanpa ada arti khusus. Aku tidak habis pikir kenapa pemandangan seindah ini tidak ada yang menikmatinya, untuk siapa gerangan fajar ini dibuat?
Bahkan seekor ular sawah tidak hadir melihatnya. Sementara diatas sana, orang-orang pontang-panting mencari perginya fajar dan IPB mereka.
Jadi begitulah, Tuan. Maka aku potong fajar dan IPB itu. Aku pelan memotongnya agar ukurannya tidak kebesaran untuk ukuran saku celanaku. Sekarang dua potongan fajar dan IPB ada berada di kedua saku celanaku.
Aku kembali ke permukaan. Melewati terowongan yang kini gelap gulita tanpa adanya fajar yang terbit. Aku naik kembali puluhan anak tangga dengan bantuan pencahayaan dari kedua fajar yang aku simpan. Tidak butuh lama, diriku sudah sampai ke permukaan bumi yang selalu Engkau berkahi.
Aku lihat bumi masih dalam kondisi yang sama saat terakhir aku melihatnya. Helikopter dan kerumunan polisi sudah bubar, lelah mencari fajar yang dicuri. Aku berjalan mencari kembali motor yang aku bawa. Syukurnya motor itu belum ada yang menyentuhnya dan tampaknya seratus ribu itu masih utuh terlipat rapi di dalam jok motornya. Aku belikan uang itu sebuah doclang untuk mengganjal perutku. Dengan dua fajar dan dua IPB lengkap dengan awan, embun, burung-burung, ayam-ayam, dan durja pepohonan di sakuku, aku menancapkan gas di tengah jalan raya.
Tuhan Yang Maha Pengasih juga Penyayang.
Engkau seharusnya tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku hampiri lagi jembatan penyeberangan tempat aku memotong fajar dan IPB itu. Aku rekatkan potongan fajar dan IPB dari terowongan bawah tanah tadi dan untungnya pas. Maka, kukirimkan saja fajar dan IPB yang asli kepada-Mu, Tuan.
Fajar dan IPB yang pertama kali aku lihat dan berhasil memukau hatiku dengan jutaan indah dan doa-doanya.
Tuhan Yang Maha Indah, Tuhan umat manusia.
Terimalah surat dan potongan harapanku ini. Dari seorang umatmu yang senantiasa menuliskan doa-doanya di penghujung malam. Aku harap surat ini bisa Engkau baca segera. Harapku juga, jika surat ini tersangkut di dahan-dahan khuldi, masih ada Malaikat Ridwan yang mengantarkannya kepada-Mu. Aku hanya takut jika surat ini sampai kepada-Mu terlalu lama. Takut amplopnya akan terbakar dengan panasnya cahaya matahari di dalamnya atau basah karena embun pagi yang tertampung.
Dengan segala isi di dalamnya, aku sertakan juga doa-doa, shalawat untuk kekasihmu dan sampaikan rinduku untuk-Nya juga para penghuninya, dari seorang biasa yang ingin membahagiakan orang tuanya.
Lahir dan menetap di Kota Samarinda, 24 April 2008. Saat ini dia masih fokus dengan pendidikan SMK jenjang akhir di Sekolah Vokasi Kehutanan dengan bayang-bayang masa depan yang tidak pernah terlihat hilalnya. Daripada memikirkannya, Adriano lebih memilih untuk menulis akal-akalan yang tidak pernah habis di benaknya.