

Lelaki pendosa itu melihat wajah Ilahi
Sedang menangis melihat ironi dunia
Menekuri putusan-Nya menciptakan manusia
Aku tak tahu,
Beginikah fantasi menjelang ajal?
Sekacau inikah permulaan safari yang dijanjikan akan abadi itu?
Ketimbang kian mengering aku di sini
Maut, kini aku telah telanjang
Renggutlah saja aku ini!
Aku bermimpi
Sang pelacur mengenakan jubah haji
Sementara si mursyid berlarian telanjang
Ada apakah gerangan?
Aku merenung semalaman
Sampai-sampai kutinggalkan salat malam
Sampai aku tersadar:
Mata hanya menangkap permukaan
Tidak sampai pedalaman
Barangkali mimpi jadi jawaban
Menyibak tabir kepalsuan
Siapa tak suka lekuk tubuh?
Mata jalang lelaki akan menjilati tiap inci
Juga siapa yang tak suka dada bidang?
Mata binal perempuan akan menggagahi tiap jengkal
Hingga sampai pada suatu kesimpulan
Tak dapat kusebut kau beriman
Jika tubuhmu masih bisa kutawar di atas ranjang
Berdosakah aku?
Sekali lagi, berdosakah aku?
Hingga akhir hidupnya
Seiman sesaudara, babu dengan tuannya
Tak jarang bercakar-cakaran sampai ajalnya
Pelik memang
Seakan cinta dan ajal
Adalah mata rantai yang tiada habisnya
Manusia memang serapuh itu:
Sesulit ini bertahan hidup
Semudah itu terenggut maut
Andai Muhammad masih hidup
Pasti sudah kutanya perkara ikhlas
Ikhlas tak terbatas
Dalam sejarah mabuk Islam
Aku datang dengan segantang penyesalan
Telah kubiasakan hidup telanjang
Namun,
Malu aku disebut muslim
Tak peduli baik atau licik
Akan kupinjam hidayah itu
Agar dapat kuramu jalan iman
Andai Muhammad masih hidup
Akan kuadukan semua padamu, wahai Juru Selamat
Mahasiswa Sastra Indonesia, Universitas Madura. Suka menulis esai sastra. Instagram @choirulanam_x
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!