Para orang tua murid, biasanya pada ribet menjelang kenaikan kelas. Bukan ribet karena prestasi anaknya di hari pembagian rapor saja.  Memilih hadiah untuk wali kelas juga ikut ribet. Terutama kalau para wali murid ini berdiskusi dengan sesama mereka, untuk  menentukan jenis hadiah agar tak samaan. Kan gak lucu kalau dari 30 wali siswa dalam satu kelas secara tidak sengaja, semuanya ngasih hadiah kaos dalam.

Kebiasaan memberi memanglah baik. Barangkali karena itulah tradisi ini dianggap sudah biasa, bahkan cenderung dianggap sebuah keharusan.

Reaksi guru memang beragam, ada yang secara  jelas menerima pemberian hadiah sebagai wujud aparesiasi orang tua. Ada juga yang malah sengaja ngode-ngode orang tua agar memberikan hadiah.. Namun,  ada pula yang menolak secara jelas tidak menerima hadiah apapun dari orang tua murid, mengingat mendidik semua anak adalah kewajiban seorang guru. Jadi tidak usah ada pemberian apapun  dari orang tua siswa dan dengan dari apapun.

Seorang guru yang menolak hadiah dari orang tua aku pikir tindakannya sudah tepat. Sebaliknya, yang masih menerima hadiah dari orang tua murid harus  mulai berpikir tidak menerima hadiah lagi. Sadar atau tidak menerima hadiah dari orang tua murid akan mempengaruhi penilaian objektif kepada siswa.

Tapi kan hadiah diberikan setalah rapor dibagikan, jadi jangan khawatir penilaiannya tidak objektif. Yakin di kemudian hari siswa tersebut tidak akan diajar lagi oleh guru tersebut?

Lagian coba pikirkan lagi, jika siswa tersebut bukan murid salah satu guru yang menjadi wali kelasnya, apakah akan diberi hadiah juga? Kalau katanya ikhlas seharusnya semua guru mendapat hadiah dong bukan hanya wali kelas.

Kalaupun memang mau memberi hadiah kepada semua guru, akankah  sama nilainya dengan wali kelas?

Hati-hati loh, tindakan orang tua memberi hadiah kepada guru kelas, wali kelas, atau guru mapel ini dapat menjerumuskan guru pada gratifikasi dan suap, yang artinya guru sebagai pelaku korupsi. Seperti yang harus kita ketahui & kenali undang-undangnya.

“Tindak pidana korupsi diatur dalam 13 pasal pada UU no 31 tahun 1999 jo UU No 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Ketiga belas pasal ini mengatur setidaknya 30 bentuk tindakan korupsi, salah satunya adalah gratifikasi. Dalam UU tersebut disebutkan bahwa gratifikasi adalah adalah pemberian dalam arti luas, meliputi pemberian uang, rabat (diskon), komisi, pinjaman tanpa bunga, tiket perjalanan, fasilitas penginapan, perjalanan wisata, pengobatan cuma-cuma, hadiah dan fasilitas lainnya”.

Demikian kabar buruknya fenomena menjelang pembagian rapor, tapi jangan khawatir  jika memang benar-benar menghargai jasa guru boleh ko memberi hadiah. Hanya saja  rencanakan waktunya dan caranya. Tidak boleh langsung diberikan secara cuma-cuma seperti halnya saat/sebelum/sesudah pembagian rapor, tapi hadiah harus diberikan dengan cara menyediakan waktu khusus apresiasi guru melalui kerja sama dengan komite sekolah,  dinas pendidikan, dan birokrat-birokrat pendidikan lainnya, serta jangan lupa mengajak aku sebagai  penerima hadiahnya,  hehheh~

Hayo, yakin masih mau memberi hadiah dan menerima hadiah?