“Yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan.” katanyaAku menemukan hal janggal dari kutipan yang belakangan ini sering diposting rekan-rekanku di akun media sosialnya. Penjelasannya bahwa politik sebagai alat mencapai tujuan kekuasaan janganlah dengan radikal, diskriminatif sampai melanggar HAM. Pun politik sebagai kekuasaan pengambilan kebijakan dalam tatanan kenegaraan janganlah sampai sewenang-wenang. Kita harus mampu mengambil langkah-langkah serta menentukan kebijakan-kebijakan berdasarkan kepentingan sebagai sesama manusia; menjunjung-tinggi HAM. Demikianlah nilai-nilai kemanusiaan. Berdasarkan sosiologis, realitas, dan rasionalitas. Betapa rapuhnya penjelasan tersebut.

Mementingkan kemanusiaan melebihi segalanya, justru berpotensi besar melahirkan banyaknya perselisihan. Sebab egoisme yang mutlak adanya pada setiap diri itu akan cenderung diperjuangkanya. Lebih rapuh lagi sebab orientasinya bersandar pada humanisme yang notabene manusia itu hanyalah makhluk, duniawiyah; fana. Maka nilai-nilai kemanusiaan yang ditinggikan daripada politik akan jauh lebih lemah dibandingkan dengan politik yang lebih mementingkan ketuhanan, ilahiyah; abadi.

HOS. Tjokroaminoto menyatakan bahwa kita harus mencintai bangsa, negara, dan agama. Sebagai pemeluk agama Islam, Beliau beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa dan meyakini kewajibannya untuk menjunjung-tinggi ketuhanan melebihi segalanya. Menurutnya pula, pentingnya penerapan politik Islam dalam arti politk ilahiyah; yang lebih mementingkan Ketuhanan, sebab orientasi berpolitik itu bukan sekadar untuk tercapainya kesejahteraan duniawi semata, melainkan juga demi tercapainya ridho ilahi.

Bangsa yang mengamini bahwa politik harus mementingkan kemanusiaan akan membentuk sebuah negara yang mengatas-namakan kedaulatan rakyat. Kemudian menjalankan hirarki: legislatif, eksekutif, yudikatif. Dengan asumsi supaya dapat menentukan kebijakan yang tepat berdasarkan aspirasi masyarakat sebagai manusia itu sendiri. Sampai kepada contohnya melahirkan pelegalan perkawinan sesama jenis. Apabila hal tersebut dilarang berarti terjadilah diskriminasi, intimidasi terhadap manusia yang mempunyai orientasi seksualnya sendiri. Sedangkan sejatinya perkawinan sesama jenis itu mematikan prinsip perkawinan itu sendiri yaitu salah-satunya untuk mendapatkan keturunan. Realita fitrah manusia sudah barang-tentu menolak hal demikian. Sebab fitrah manusia itu sejatinya selaras dengan apa yang diwahyukan Tuhan, tentang hal itu, kalam Tuhan menyeru makhluknya untuk menikahi lawan jenisnya sebab Tuhan menciptakannya itu dengan berpasang-pasangan; berbeda jenis. Secara filosofis sebagaimana penciptaan-Nya yaitu sepasang siang dan malam, bumi dan langit, kiri dan kanan. Kendati pun sampai ada yang mampu melahirkan keturunan dari perkawinan sesama jenis, betapalah hal itu melampaui batas. Jika pegangannya adalah Tuhan, tentu takkan sampai dilakukan karena Dia melarang manusia sebagai makhluk untuk berlebih-lebihan.

Politik yang lebih mementingkan kemanusiaan pun akan menjalankan pemilihan umum secara langsung untuk mendapatkan seorang pemimpinnya. Proses regulasinya dibuat sebaik mungkin, kriterianya dibuat se-ideal mungkin dengan menyatakan tetap menjaga norma-norma kenegaraan supaya diamini rakyatnya meskipun realitanya itu tak pernah mampu terwujud. Perjalanan menuju pemilihan umum itu kerap menjadi polemik dan pemimpin yang mendapatkan amanah pun tak pernah menjadi sosok revolusioner untuk dapat memajukan bangsa dan negara. Itu bukti kerapuhan. Berbeda dengan politik yang mementingkan Ketuhanan; yang berdasarkan kepada wahyu Tuhan; yang mengikuti langkah-langkah Rasul-Nya sebagai representasi kalam Tuhan. Untuk menentukan pemimpin itu tidak sekadar kemauan kepentingan manusia semata, itu dicontohkan sebagaimana terpilihnya khalifaturasul: Abu bakar shidiq, amirul-muminin: Umar bin Khotob, dan khalifah Utsman bin Afan dan seterusnya.

Karena pada hakikatnya pemimpin itu hanyalah sebagai representasi kalam Tuhan tanpa kepentingan apapun untuk membawa bangsanya berkehidupan sejahtera sampai kepada tercapainya ridho ilahi. Dalam sudut pandang yang vulgar, siapa pun dapat menjadi pemimpin dengan mampu merepresentasikan kalam Tuhan sebagai tanggung-jawabnya. Atau cukup dengan musyawarah, dengan membentuk dewan imamah untuk sampai terpilihnya pemimpin seperti riwayat khalifah Utsman bin Afan.  Sebagaimana pula bani israel yang memilih Musa alaihi salam menjadi pemimpinnya dengan mengingkari rajanya sekalipun: Firaun, sebab menyadari bahwa hakikat pemimpin itu bukan sekadar yang sanggup menjamin kesejahteraan atau keamanan duniawi semata tetapi yang mampu memanifestasikan Tuhan supaya melahirkan keimanan kepada-Nya: berdakwah, serta mampu merepresentasikan kalam Tuhan, sampai membawa bangsa kepada kehidupan sejahtera yang di-ridhoi Tuhan. Sebab orientasinya tidak lagi materialisme, mengamini bahwa duniawi yang hanya kefanaan, ada kehidupan akhirat yang kekal, yang harus dipertanggungjawabkan sebagaimana yang diwahyukan Tuhan.

Begitu pun pelajaran yang dapat kita ambil di balik perang kemerdekaan Republik Indonesia. Pahlawan kemerdekaan Jendral. Soedirman, berangkat dengan keimanannya; ketuhanan, Beliau rela mati-matian bergerilya, menjaga kemerdekaan RI. Sedikit berbeda dengan pahlawan kemerdekaan Ir. Soekarno yang berangkat bersama marhaenisme-nya, lebih memilih taktis diplomatik yang sampai kepada akhirnya berhasil terbujuk oleh kolonialis untuk melahirkan Republik Indonesia Serikat (RIS) yang pada saat itu dianggap sangat merugikan bangsa dan negara secara kekuatan politis. Kompromistis itu sama sekali tidak mencontoh kepada Rasulullah, sebagaimana riwayat bahwa Muhammad shalallahu alaihi wasalam menolak kompromi apabila  memaksanya harus masuk kepada sistem selain sistem Tuhan; diinul haq; diinul Islam. Dengan tegas pernah menyatakan kepada Abi Thalib yang diminta oleh pembesar Quraish supaya menanggalkan dakwahnya. “Wahai pamanku, demi Allah! andai mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan perkara ini, sudah pasti tidak akan aku lakukan. Biarlah Allah yang memutuskan kesudahannya, aku yang menang atau aku binasa karenanya.

Dengan keimanan yang kuat, patriotisme seseorang menjadi lebih kuat. Sebagaimana perang badar yang yang dimenangkan oleh umat Islam atas pertolongan Tuhan meski secara rasional tentaranya jauh lebih sedikit dibandingkan musuh. Keteguhan Musa alaihi salam bersama bani Israel yang menolak kalah terhadap fir aun. Sampai Resolusi Jihad yang terkenang pada peristiwa hari pahlawan; 10 November itu. Sebelum perjanjian roem-royen (7-5-49), menuju konferensi meja bundar (23-8-49), induk dari terbentuknya RIS, militer negara dengan diawali serangan umum Letkol. Soeharto, 1 Maret 1949 yang berhasil menduduki Yogyakarta, Ibukota Republik Indonesia pada saat itu, menyatakan bahwa tentara sudah siap mengadakan perang gerilya besar-besaran. Namun pemerintahan dengan sistem politik yang tidak mementingkan ketuhanan pada saat itu, memilih kompromi dengan mau memasuki sistem kolonial barat, yang menjadi ironi tersendiri bangsa dan negara di bumi nusantara ini.

Pada akhirnya politik itu didekap ratu jelita. Kita hanya perlu menjadi lelaki untuk kemudian memeluknya.

Profil Penulis

Budi Hikmah
Pegiat Literasi Kopel Purwakarta dan aktivis PERMATA cabang Purwakarta