

“Politik dinasti harus diruntuhkan!”
Narasi tersebut telah digaungkan sedari lama. antidinasti, antinepotisme, antikolusi dan anti-anti lain beriringan memenuhi dinding tongkrongan. Semua orang setuju kalau ide tentang monarki tak kasat mata sangat merugikan negara.
Sayangnya, ketika Pemilu atau Pilkada tiba, penyakit pikun menyerang rakyat seluruh negeri. Kemarin masih membicarakan pejabat disertai dendam kesumat, hari ini foto bareng sambil menadahkan tangan minta voucher sembako hemat. Cakep! Sungguh pelupa persis seperti lagu Kuburan, Lupa-Lupa Ingat.
Saya sedang berpikir keras, mungkin pada masa kampanye, para politikus menyalakan rangkaian Mugen Tsukuyomi. Tidak ribet, cukup siapkan uang Rp50.000,- per rumah, rakyat pun tidur nyenyak dan akan mengingat namamu sampai Nabi Isa turun ke bumi. Mereka jadi lupa penderitaan sendiri. Apabila Pemilu selesai, barulah penyesalan datang, kadang-kadang itu juga.
Awalnya, saya penasaran,
Dari mana kekuatan Mugen Tsukuyomi itu berasal? Padahal hanya mempersembahkan sesajen Rp50.000,- mengapa bisa menjangkiti jutaan orang?
Kemudian saya teringat pengalaman bertahun-tahun lalu.
Waktu masih sekolah menengah, saya senang melihat berita presiden memberi sepeda kepada warga. Hanya dengan menyebutkan nama-nama ikan, sepeda bisa langsung dibawa pulang. Betapa murah hatinya Pak Presiden, begitu pikir saya dulu. Sejak saat itu saya dirasuki semacam energi positif yang membuat saya percaya bahwa semua pejabat itu baik hati.
Jadi, saya iseng menyurati bupati daerah ini (di barat Jawa, tapi bukan Jawa Barat) agar membiayai operasi mata teman saya. Selama ini teman saya kesulitan mengikuti pelajaran tersebab adanya gangguan cukup parah pada matanya. Saya murni melakukannya dengan niat yang tulus dari teman kepada teman, dan saya percaya betul untuk menyampaikan harapan yang manis (sebagai rakyat) kepada pejabat setempat. Namun, saya lupa, jalan umum yang sangat penting untuk kemaslahatan masyarakat luas saja dibiarkan berlubang. Apalagi surat anak ingusan.
Sebelum sadar tentang fakta tersebut, saya menghubungi guru PKN. Selain karena beliau guru yang menyenangkan, Pak Guru PKN juga tetangga saya. Harap-harap beliau mau membantu mengirimkan surat itu melalui kantor pos. Saat saya mengatakan rencananya, Pak Guru senyum-senyum. Dulu saya tidak tahu makna senyum itu. Sekarang saya mengerti, itulah senyum penuh keraguan, rasa kasihan, dan sedikit harapan pada generasi muda yang siap dikecewakan.
Tak puas dengan surat fisik, saya mengirim pesan berisi aspirasi untuk daerah ini melalui akun Instagram bupati. Saya tahu betul itu akun pribadi yang memuat kegiatan rumah sang bupati. Tapi, anak 14 tahun yang berapi-api mana peduli?
Sampai 7 tahun berlalu, surat itu tidak pernah berbalas. Entah sudah melebur dengan tanah atau tersimpan di antara tumpukan dokumen lama. Pesan Instagram juga tidak tahu arahnya. Kini saya kapok. Dipikir-pikir mana ada orang asing yang peduli kepada orang asing lainnya tanpa mengharap timbal-balik?
Saya berkesimpulan bahwa:
Kesimpulannya?
Saya masih tidak tahu awal mula kemunculan Mugen Tsukuyomi yang marak dilakukan saat Pilkada dan Pilpres, atau saya tahu tapi cenderung malas karena kita semua juga tahu. Namun, pada kenyataannya, mungkin di usia lanjut, masih banyak orang-orang yang berpikir seperti saya di usia 14 tahun itu. Berpikir semua pejabat itu baik, bahkan yang paling parah, berpikir Prabowo baik, hanya bawahannya aja yang jahat. Betapa memalukan 🙁
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!