Pitutur dan Iman

Di sebuah kelurahan hiduplah salah satu pasangan suami istri yang baru menikah. Mereka menikah kira-kira beberapa bulan yang lalu di sebuah tempat terbuka dibawah langit-langit tenda dan hiasan warna bunga yang berpaduan. Momen sakral ini telah mereka lewati sehingga mereka berdua telah dinyatakan resmi atau sah baik secara negara maupun agama sebagai pasangan suami istri. Mereka adalah Mas Karni dan Mbak Arni. Mas Karni dan Mbak Arni telah mengemban amanah baru sebagai suami istri dan, tanggung jawab sebagai perannya masing-masing. Mas Karni adalah orang asli kelurahan tersebut sedangkan Mbak Arni berasal dari Desa lain. Sebagai pasangan suami istri yang baru hangat, mereka kini telah memiliki kehidupan baru sebagai rumah tangga, yaitu menjaga apa yang telah menjadi janji harus ditepati. Itulah pernikahan.

Mas Karni adalah seorang karyawan honorer di salah satu kantor. Sedangkan Mbak Arni juga seorang karyawan di salah satu toko pembuatan roti. Mereka adalah pasangan yang sama-sama memulai hidup dengan perjuangan untuk menjaga kebutuhan hidup terpenuhi. Di zaman pekerjaan yang begitu sulit dicari, harga kebutuhan dapur kian menaik maka tidak ada alasan bagi mereka untuk tetap mempertahankan pekerjaan mereka walaupun hanya seorang karyawan honorer. Sampai saat ini Mas Karni dan Mbak Arni masih menunggu dan mempertanyakan terkait Sembilan belas juta lapangan kerja. Namun tak pelak lagi mereka berdua hanyalah orang-orang kecil yang barus belajar hidup. Jadi menerima yang ada di depan mata dulu.

Menjalani kehidupan rumah tangga sangat jauh berbeda menjalani kehidupan ketika kami masing-masing masih perjaka dan perawan. Akan terasa apabila kompor tidak menyalah selama beberapa hari karena langkahnya gas elpiji dan mahalnya penjualan gas tersebut. Berbeda jika kami belum menjalani rumah tangga, maka urusan dapur adalah urusan kedua orang tua saya.

“Begini ya Dek hidup di kelilingin harga serba mahal” ucap Mas Karni sambil semyum tipis kepada istrinya, Mbak Arni.

“Jangankan soal harga, mencari gas aja sulitnya minta mapun” tambah Mas Karni.

Mendengar itu, Mbak Arni istrinya Mas Karni tersenyum dan mengelus pundak Mas Karni. Mempertahankan hidup bagi mereka adalah jihat yang harus dijaga, karena keutuhan rumah tangga mereka ada di tangan mereka sendiri.

Embun pagi telah menyelimuti bukit dan pepohonan. Suara angin mendesir lembut hingga masuk ke sela-sela daun jendela. Hari demi hari, minggu demi minggu, dan bulan demi bulan. Tidak terasa Mas Karni dan Mbak Arni telah menjalani kehidupan rumah tangganya sudah di titik awal bulan ke tiga.

Di awal bulan ke tiga ini, Mas Karni masih menanti harapan-harapan kepada istrinya, Mbak Arni. “Bagaimana Dek? Sudah ada tanda-tanda kah”. Tanya Mas Karni. “Apanya Mas?”. Jawab Istrinya dengan raut wajah kebingungan.

“Itu lho hasil usaha kita” jawab Mas Karni sambil cekikikan.

Oooh … belum tahu mas soalnya belum aku cek dan akhir-akhir ini aku juga belum datang bulan” jawab istrinya.

Mendengar itu, Mas Karni langsung sumringah karena istrinya akhir-akhir ini belum datang bulan.

“Ayo Dek, kita cek ke bidan kelurahan” ajak Mas Karni.

“Nanti siang sajalah Mas soalnya pagi ini aku mau membeli bahan-bahan adonan roti”

“Oh iya sudah nanti sore saja, Dek” jawab Mas Karni.

Pagi-pagi itu mereka berdua telah membicarakan tentang harapan mereka, yaitu sebuah momongan yang di nanti-nantikan selama ini. Alhasil, masih proses menunggu siang nanti setelah istrinya pulang dari kerja. Yang pasti Mas Karni tidak sabar lagi untuk segera mengecek istrinya ke bidan kelurahan tersebut.

Terik matahari telah terasa di permukaan kulit. Merubah suhu ruangan menjadi panas. Wajar waktu telah menunjukkan pukul sebelas lewat empat puluh sembilan menit.  Mas Karni yang mencoba meminta izin kepada atasanyan untuk pulah lebih awal karena mau segera mengajak istrinya ke bidan kelurahan. Akhirnya, Mas Karni mendapatkan izin dari atasanya.

Setelah mendapatkan izin dari atasannnya, Mas Karni langsung bergegas menhidupkan sepeda motornya menjemput istrinya yang tercinta di tempat toko roti. Begitu tiba di tempat kerja istrinya, kebetulan istrinya barus selesai mengangkat roti yang di panggang dalam oven.

Mereka berdua pergi ke bidan kelurahan. Sesampainya di bidan kelurahan, Mbak Arni di cek dengan alat yang cukup canggi sehingga organ dalam tubuh kelihatan dan Mas Karni melihat hasil di sebuah layar kecil yang menunjukkan bahwa selama ini Mbak Arni telah hamil mudah dengan umur kandungan dua bulan.

“Wah selamat ya, Mbak … Mbak ternyata selama ini hamil” ucap bidan kelurahan.

Mendengar itu, Mas Karni langsung memeluk istrinya dan menangis bahagia. “MasyaAllah! Alhamdulillah … selamat ya, Sayang.” ucap Mas Karni kepada istrinya sambil memeluknya.

Sepulang dari bidang kelurahan, kini Mas Karni dan Mbak Arni harus hati-hati untuk menjaga kandungannya karena Mbak Arni sendiri masih keadaan hamil mudah dan umur kandungannya masih rentan. Maka perlu sekali untuk menjaga semaksimal mungkin. Secara bersamaan, Mas Karni sangat bahagia sekali karena yang diharap-harapkan menuai hasil. Selain itu juga, Mas Karni harus menjaga istrinya dan kehamilannya.

Hari ini kehamilan Mbak Arni sudah di awal 7 Bulan. Biasa mengikuti tradisi pada umumnya, maka Mas Karni dan Mbak Arni mengajak tentangga dekat rumah untuk membantu membuat sedekahan sederhana sebagai bentuk pengucapan rasa syukur kepada Allah SWT yang nantinya akan di bagi-bagikan ke keluarga dan tentangga-tetangga. Tradisi ini tidak wajib, namun ini hanya mengikuti tradisi pada umumnya khususnya pada orang Jawa. Orang Jawa menyebutnya piton-piton (tujuh bulanan) yang memiliki makna rasa syukur kepada Allah SWT.

Setelah itu, Mbak Arni tetap menjaga kehamilannya. Lagi pula jarak antara kehamilan dan melahirkan tidak lama lagi, maka Mbak Arni harus menjaga nya. Selama hamil, Mbak Arni tidak bekerja alias istirahat total di rumah. Mulai dari memasak, mencuci pakaian dan piring, serta membersihkan rumah digantikan oleh suaminya. Semua ini demi menjaga kehamilannya Mbak Arni. Namun karena Mbak Arni adalah orang yang gampang percaya, sehingga siapapun orang yang berbicara maka tanpa mengunyah terlebih dahulu Mbak Arni langsung menelan.

Mbak Arni percaya kata tentangganya kalau semasa hamil, Mas Karni tidak boleh membunuh hewan (apa pun itu), karena nanti akan berdampak pada si buah hatinya. Mbak Arni juga percaya bahwa kalau mau bepergian harus bawah senjata tajam entah pisau, gunting, atau cemiti supaya dapat melindungi kandungannya. Dengan sikap Mbak Arni yang seperti itu, percaya dengan kata orang bahkan kata orang dulu membuat Mas Karni sedikit tidak suka karena Mas Karni adalah tipe orang yang tidak percaya dengan keyakinan-keyakinan seperti itu.

Menurut hemat Mas Karni keyakinan seperti di atas kalau tidak ada dasarnya akan menodai akidah. Apalagi kami berdua adalah orang yang sama-sama muslim. Maka keyakinan itu semua akan meruntuhkan keimanan orang muslim. Menurut Mas Karni boleh percaya dengan kayakinan asal di dasari dengan dua sumber, yaitu alquran dan hadis. Di luar itu maka perlu sekali kita harus hati-hati karena taruhannya adalah iman.

Jadi Mbak Arni dan Mas Karni memiliki pandangan yang berbeda. Namun melihat ketidaksukaan Mas Karni dan mendengar penjelasan Mas Karni, Mbak Arni pelan-pelan menurutinya.

“Dek … ilmu itu tidak menciptakan iman. Tapi Iman yang menciptakan ilmu” ucap Mas Karni kepada istrinya.

“Maksudnya, Mas?” timpal istrinya dengan raut wajah kebingungan.

“Karena banyak orang yang berilmu tapi tidak percaya kepada Allah. Mereka memang mengaku percaya kepada Allah bahkan yakin namun secara bersamaan mereka yakin dengan keyakinan-keyakinan yang tidak didasari dengan Alqur’an dan Hadist seperti keyakinan-keyakinan di atas. Padahal semua yang terjadi di muka bumi itu semua atas kehendak Allah. Jadi tidak ada hubungannya dengan keyakinan-keyakinan yang Adek percayai itu” jawab Mas Karni.

“Ya Allah begitu ya Mas … ”

“Jadi mulai sekarang buang keyakinan itu dan cukup hargain saja kalau ada orang yang bilang seperti itu lagi. Cukup yakin sama Allah. Kalau kita mengimani keyakinan-keyakinan dari orang tersebut makan iman Adek akan runtuh dengan tanda disadari”

 

“Kadang kita sebagai manusia paling yakin kepada Allah

Namun secara bersamaan kita juga yakin kepada selain Allah.

Tanpa di sadari, pelan-pelan itu akan meruntuhkan iman manusia”

Author

  • Desta Romansyah

    Lahir pada tanggal 17 Desember 1998, Sumber Harta, Kabupaten Musi Rawas, Provinsi Sumatera Selatan. Alumni Universitas PGRI Silampari (UNPARI), lalu melanjutkan pendidikan program pascasarjana di Universitas Bengkulu dan lulus 2024.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
grandpashabet | grandpashabet | grandpashabet giriş | grandpashabet | grandpashabet giriş | grandpashabet | grandpashabet | grandpashabet | betnano | ultrabet | ultrabet | roketbet | جلب الحبيب | فك السحر | جلب الحبيب | فك السحر | جلب الحبيب خلال 24ساعه | جلب الحبيب | فك السحر | جلب الحبيب | فك السحر | جلب الحبيب خلال 24ساعه | جلب الحبيب | jojobet | jojobet giriş | جلب الحبيب | roketbet | roketbet giriş | romabet | romabet giriş |