Lanjutan dari Yang Belum Dibahas dari “Bunuh Diri”

“We are human animals and thus fear death as animals do. The so-called ‘will to live’ is nothing more than a different name for animal instinct.”

—Akutagawa Ryunosuke—

Beberapa tahun lalu seorang teman mengirim pesan WhatsApp (WA) yang cukup mengganggu: “Kak, aku ingin mati.” Teman saya ini memang seseorang yang sering depresi dan kadang memikirkan untuk bunuh diri, dan ia tahu saya pun seseorang seperti itu. Awalnya saya kira ia sekadar ingin mengobrol saja sehingga saya merespons pesannya itu dengan nada santai, bahkan separuh guyon. Tetapi kemudian pesan-pesannya yang datang setelah itu mulai membuat saya khawatir. Ia bilang ia benar-benar ingin mati, dan ia bahkan sudah mencoba mengiris tangannya dengan pisau. Dan ia pun bilang: itu menyakitkan.

Jujur saja, saya bukan seorang lightbringer dan bahkan cenderung sebaliknya: saya lebih suka mengajak seseorang untuk membayangkan realitas dan kehidupan yang dijalaninya sebagai sesuatu yang gelap dan tak menyenangkan, sebuah tragedi. Namun ketika itu, mungkin secara instingtif, saya memosisikan diri saya sebagai seorang lightbringer; saya meminta teman saya itu untuk bertahan dan memikirkan ulang keinginannya untuk mati itu.

Tentu saja ia meresponsnya secara negatif; bagaimanapun ia sedang dalam keadaan tertekan dan sangat menderita. Saya lalu dengan konyolnya mencoba menguliahinya, membeberkan padanya perspektif orang-orang terkenal—penulis, filsuf, seniman—tentang bunuh diri, yang saya pikir mungkin bisa melemahkan keinginannya untuk mati. Bisa saya rasakan bahwa ia tidak senang dengan apa yang saya lakukan itu. Dan saya bahkan bertindak lebih konyol lagi dengan berusaha meneleponnya, satu atau dua kali. Tentu saja ia tidak sekali pun mengangkatnya.

Besok harinya saya mengiriminya pesan WA, mencoba memastikan apakah ia masih hidup seperti yang saya bayangkan. Dan memang benar: ia masih hidup. Tetapi ia mengatakan bahwa di detik ia terbangun pagi itu ia menyesal, benar-benar menyesal, mendapati ia masih hidup, masih bernapas seperti biasanya. Keinginannya untuk mati masih sangat besar, dan keadaannya pagi itu sepertinya tidak lebih baik dari sehari sebelumnya.

Pikiran Bunuh Diri dan Realitas yang Mengecewakan

Apa yang membuat teman saya itu ingin mengakhiri hidupnya adalah sesuatu yang sifatnya eksistensial. Ia saat itu sedang bekerja di sebuah LSM, sebelumnya di sebuah stasiun televisi, dan ia mengaku kerap merasa muak sebab orang-orang yang dihadapinya setiap harinya di tempat ia bekerja adalah orang-orang yang tak autentik. Saya tidak bisa memastikan apakah ia benar-benar paham apa itu autentik dan apa kaitannya dengan eksistensialisme, tetapi saya bisa memastikan bahwa persoalan yang menggerogotinya adalah persoalan eksistensial. Ia, dalam berbagai kesempatan, berulang-kali bertanya apakah manusia bisa hidup tanpa menyakiti manusia lain. Ia juga beberapa kali mengemukakan, secara terang-terangan, keinginannya untuk menghilang—lenyap dari kehidupan ini.

Saya berani mengatakan bahwa saya memahami apa yang ia rasakan sebab persoalan yang saya hadapi pun kurang-lebih seperti itu. Kita, manusia, untuk bisa bertahan hidup, senantiasa bergantung pada dikorbankannya organisme-organisme lain, bahkan juga sesama manusia. Sulit membayangkan seseorang bisa hidup tanpa menyakiti orang lain, tanpa mengecewakan orang lain. Ia sendiri pun sewaktu-waktu akan merasa disakiti dan dikecewakan, entah itu oleh orang lain atau justru dirinya sendiri.

Dan sementara ada orang-orang yang bisa berdamai dengan hal ini dan menerimanya sebagai semacam anugerah, ada juga orang-orang yang tak bisa melakukannya, yang justru terus terusik oleh kenyataan pahit tersebut dan akhirnya malah membuatnya menderita. Saya dan teman saya itu, kiranya, tergolong ke dalam orang-orang yang disebut belakangan.

Oku Hiroya pernah membahas hal ini dalam Gantz,serial manga yang terbit dari Juli 2000 hingga Agustus 2013, persisnya di episode-episode terakhirnya.

Di manga ini dikisahkan bagaimana Planet Bumi diinvasi oleh alien-alien berukuran raksasa dan berteknologi supercanggih, di mana umat manusia yang tersisa dipaksa untuk patuh pada perintah alien-alien itu jika mereka ingin bertahan hidup. Mereka, umat manusia yang merasa mendominasi kehidupan di Bumi itu, dalam sekejap menjadi bangsa terjajah. Banyak di antara mereka bahkan diambil paksa untuk dijadikan bahan makanan atau pakan.

Sebagian manusia yang memiliki kemampuan bertarung dan dilengkapi alat khusus kemudian mencoba memberontak, mencoba menyerang balik alien-alien itu di “planet” asal mereka, bahkan mencoba memusnahkan mereka. Saat berada di ambang kemenangan, sejumlah manusia petarung itu memiliki kesempatan untuk memasuki sebuah ruang khusus di mana di sana mereka bisa bertemu dengan semacam Tuhan yang akan menjawab setiap pertanyaan mereka. Di ruang inilah beberapa dari mereka bertanya kenapa untuk bisa bertahan hidup mereka harus mengorbankan makhluk lain—termasuk alien-alien berukuran raksasa itu. Menjawab pertanyaan ini, sosok semacam Tuhan itu mengatakan bahwa itu memang sesuatu yang sudah dari sananya begitu. Manusia hanya bisa menerimanya dan tak bisa melakukan apa pun untuk mengubahnya.

Jawaban ini tentu sangat mengecewakan, dan sebagian di antara para manusia petarung itu menangis. Pasalnya mereka telah melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana sejumlah banyak manusia dikorbankan untuk kelangsungan hidup makhluk lain—alien-alien itu—sehingga mereka merasa tertampar, sebab selama ini itulah yang mereka lakukan terhadap makhluk-makhluk lain—sejumlah hewan, misalnya. Rasa bersalah, ketidakberdayaan, kebencian terhadap diri sendiri, kemuakan terhadap realitas yang tak menyenangkan itu, menyelimuti mereka. Pada akhirnya mereka terpaksa melupakan pertanyaan mereka tadi itu lalu kembali ke Bumi dan memulai hidup baru.

Manga garapan Oku Hiroya ini menggambarkan dengan baik persoalan eksistensial yang saya bahas tadi. Realitas seakan-akan punya moralitasnya sendiri, yang berbeda dari moralitas manusia. Realitas tak peduli kalaupun sebagian manusia merasa tersiksa dengan kenyataan bahwa mereka tak bisa bertahan hidup tanpa mengorbankan organisme lain, tanpa mengorbankan manusia lain. Apa yang dinilai kejam oleh manusia, di mata realitas bisa jadi hanya sesuatu yang perlu ada, semacam bagian dari sistem yang bekerja. Dan yang bisa dilakukan oleh manusia hanyalah menerimanya, berdamai dengan kenyataan pahit ini.

Tetapi justru di situlah masalahnya. Saya, teman saya tadi itu, dan sejumlah banyak manusia lainnya di dunia ini, adalah tipe yang tak bisa menerimanya begitu saja. Alih-alih berdamai dengan kenyataan pahit tersebut yang kami lakukan adalah mempertanyakannya; mempertanyakannya dan terus memertanyakannya. Dan sebab kami tak juga menemukan jawaban yang memuaskan, keinginan untuk mati atau lenyap itu pun muncul, dan menguat seiring waktu berlalu.

Pikiran Bunuh Diri dan Bagaimana Mengatasinya

Tentu tidak setiap orang dengan pikiran bunuh diri seperti itu. Dorongan untuk mati atau lenyap bisa berasal dari banyak hal lain seperti masalah finansial, keterkekangan yang menyiksa (rutinitas kerja, misalnya), atau kekecewaan yang terlampau kuat terhadap manusia lain. Dengan kata lain, tidak selalu pikiran bunuh diri berkorelasi dengan persoalan eksistensial dan kesadaran filosofis yang mengikutinya kemudian.

Dan perbedaan ini berdampak pada perbedaan lain: bagaimana mengatasi pikiran bunuh diri itu sendiri. Pada orang-orang yang dorongan untuk matinya bertolak dari masalah finansial, misalnya, masalah finansial inilah yang harus diatasi, tentu bukan oleh dirinya sendiri saja namun juga oleh orang-orang di sekitarnya, setidaknya mereka yang mau peduli padanya. Sementara itu pada orang-orang seperti saya dan teman saya itu, di mana dorongan untuk mati atau hilang itu terlahir dari kekecewaan yang terlampau kuat atas realitas, atas sistem yang bekerja di kehidupan ini, sistem atau realitas itulah yang sebisa mungkin harus diperbaiki.

Terkait hal ini saya pernah mengobrol dengan seorang light-bringer dari Into the Light Indonesia. Waktu itu komunitas di mana saya bergiat mengundangnya untuk tampil sebagai salah satu pembicara di acara kami yang kebetulan beririsan dengan masalah bunuh diri—tajuknya “Manusia dan Bias Bunuh Diri”. Saat membuka acara, saya mengatakan bahwa saya seseorang dengan pikiran bunuh diri. Setelah acara berakhir, ketika saya menghampiri seseorang itu untuk berterima kasih dan sekadar berbasa-basi, ia bertanya apakah saya pernah mencoba berbicara kepada seorang profesional—psikolog, psikiater, atau light-bringer—terkait pikiran bunuh diri saya itu. Saya katakan kepadanya bahwa saya belum pernah melakukannya.

Itu benar, dan saya jujur saja memang enggan melakukannya. Itu karena saya tahu bahwa seorang psikolog atau psikiater atau light-bringer akan bertolak pada psikologi, sedangkan fokus psikologi adalah pada bagaimana seseorang merespons hal-hal yang datang dari luar—tekanan-tekanan, masalah-masalah, dlsb. Itu artinya psikologi memosisikan respons tersebut sebagai sesuatu yang perlu diperbaiki, bukan hal-hal yang datang dari luar itu. Sedangkan saya justru berpikir sebaliknya. Di mata saya hal-hal yang dari dari luar itulah yang harus diperbaiki. Paling tidak keduanya diperbaiki secara bersamaan dengan porsi yang relatif sama.

Dan seperti apa respons seseorang itu? Menggelikan. Ia bilang ia tidak mau ikut campur dengan prinsip hidup saya, yang berarti secara tak langsung ia mengatakan bahwa ia tidak peduli pada apa yang saya pikirkan itu. Yang ia pedulikan hanya satu: saya, juga orang-orang lain yang memiliki pikiran bunuh diri, tidak mencoba untuk bunuh diri.

Padahal apa yang saya kemukakan itu masuk akal. Masyarakat, juga realitas itu sendiri, sejatinya tidak pernah sehat; bahkan jauh dari kata sehat. Dan ketika seseorang berada di sebuah masyarakat yang tidak sehat, dan ia menyadari bahwa masyarakat semestinya tidak seperti itu, tidak mungkin ia akan merasa baik-baik saja; masyarakat yang tidak sehat itu akan berdampak negatif pada kesehatan psikisnya. Seseorang itu tak ubahnya seekor ikan yang berada dalam akuarium yang airnya kotor. Yang perlu dilakukan kemudian tentu saja adalah mengganti airnya, bukan meminta si ikan untuk beradaptasi dengan air yang kotor itu—meskipun bukan tidak mungkin ia bisa melakukannya.

Seperti itulah kiranya kecenderungan kita dalam mengatasi pikiran bunuh diri: menitiberatkan perbaikan-perbaikan pada si individu, bukan sistem. Mengecewakan, tentu saja. Setidaknya begitulah saya melihatnya.

Bunuh Diri Bukan Hanya Ranah Psikologi

Kekecewaan ini pada akhirnya mendorong saya untuk juga mempertanyakan apakah sudah tepat “membebankan” masalah bunuh diri hanya kepada para psikolog atau psikiater atau light-bringer, apakah bunuh diri memang hanya ranah psikologi atau bagaimana. Dan jawabannya sangat jelas: bukan. Sejatinya bunuh diri adalah ranah berbagai disiplin ilmu mulai dari sosiologi hingga biologi, mulai dari seni hingga filsafat. Psikologi memang menyentuh satu wilayah penting dari masalah bunuh diri yang tak disentuh disiplin-disiplin ilmu yang lain itu, tetapi hal yang sebaliknya pun tentunya berlaku.

Sosiologi, misalnya, seperti ditunjukkan Emile Durkheim dalam Suicide: A Study in Sociology (1952), menitiberatkan masalah bunuh diri pada sistem yang bekerja di sebuah masyarakat, baik itu yang sifatnya materiil (sistem perekonomian) maupun transendental (sistem kepercayaan/agama); ini berarti sesuatu harus dilakukan terhadap sistem tersebut. Sedangkan biologi, seperti telah saya tunjukkan di esai saya yang berjudul “Yang Belum Dibahas dari ‘Bunuh Diri’”, membawa kita pada pemahaman bahwa bunuh diri atau pikiran bunuh diri pada dasarnya adalah konsekuensi dari evolusi yang dialami manusia, baik itu yang sifatnya altruistik ataupun non-altruistik.

Seni dan filsafat sementara itu menawarkan perspektif yang beragam. Marina Abramovic, misalnya, melihat kehidupan ini sebagai anugerah dan yang harus dilakukan seseorang adalah mencoba menjalani hidupnya itu seoptimal mungkin sebagai dirinya, bukannya “menyerah” dan mencoba bunuh diri. Perspektif serupa ditawarkan Albert Camus dalam Mite Sisifus (1999), di mana ia menjelaskan bahwa yang harus dilakukan manusia adalah melawan absurditas dengan cara bertahan hidup, dengan cara terus memberontak kepada segala ketidakmasukakalan yang ditawarkan hidup. Sedangkan filsuf kontemporer Slavoj Zizek punya pandangan lain, di mana ia bisa memafhumi bunuh diri apabila itu adalah sebuah bunuh diri metafisis dan dilakukan tanpa merugikan orang-orang lain. Pemafhuman atas bunuh diri juga dikemukakan oleh Akutagawa Ryunosuke dalam surat terakhirnya, “Note to An Old Friend” (1927), di mana bunuh diri bagi seseorang dilihatnya sebagai sesuatu yang bisa jadi tak terelakkan, bahkan bisa membawanya pada semacam kesadaran estetis—ia menyadari bahwa hidup itu indah justru karena ia tidak akan lebih lama lagi menikmatinya.

Tidak tunggalnya perspektif tentang bunuh diri ini sudah semestinya mendorong kita untuk mendekati masalah bunuh diri dari berbagai perspektif tersebut, dan kemudian mencoba mengatasinya dengan bertolak pada berbagai disiplin ilmu tadi. Memang kita bisa bersepakat bahwa bunuh diri bukanlah sesuatu yang baik dan karenanya kalau bisa seseorang jangan melakukannya, tetapi yang lebih penting dari itu adalah kita menelusuri pikiran bunuh diri yang dimiliki seseorang itu hingga sangat dalam, hingga kita benar-benar menemukan akar masalahnya apa saja dan kita pun menjadi tahu pendekatan-pendekatan mana yang kiranya lebih tepat untuk kita gunakan. Dan di sini, sebagaimana telah saya katakan tadi, fokus perbaikannya bukan hanya pada si individu, melainkan juga pada sistem di mana si individu itu berada.

Katakanlah pikiran bunuh diri yang dimiliki seseorang mendorong kesadaran filosofisnya untuk bangkit. Maka, adalah sebuah kekeliruan jika kita mendorongnya untuk mengabaikan kesadaran filosofisnya ini, dan bahkan mendesaknya untuk beradaptasi dengan sistem yang ada. Bagi seseorang lain, itu mungkin sebuah solusi, tetapi tidak bagi seseorang sepertinya. Yang mesti kita lakukan justru adalah memberinya ruang untuk menuangkan kegelisahan-kegelisahannya itu, yang kemudian perlu kita sambut secara positif; kita perlu meluangkan waktu untuk menyimaknya dengan memosisikannya sebagai semacam pengamat realitas yang jeli—untuk tidak menyebutnya kritikus. Sebab ia, karena pikiran bunuh dirinya itu, mungkin saja mampu melihat hal-hal krusial yang tak bisa dilihat oleh orang-orang kebanyakan. Dan bukankah menyadari sesuatu selalu lebih baik daripada tak menyadarinya sama sekali?(*)

—Bogor, 5 Januari 2019



Lanjutan dari topik “Bunuh Diri”:
Bag 1.Yang Belum Dibahas dari Bunuh Diri
Bag 2.Pikiran Bunuh Diri dan Kesadaran Filosofis
Bag 3. Simplifikasi Pikiran Bunuh Diri

====================================

Catatan Editor:

  • Tulisan ini dimaksudkan sebagai tulisan bersambung.
  • Jika Anda mengalami dorongan atau tendensi untuk melakukan “bunuh diri” kami sangat menyarankan Anda untuk datang berdiskusi pada ahlinya, seperti psikolog, psikiater, atau klinik kesehatan jiwa.