

Mungkin tidak ada yang lebih istimewa bagi anak sekolah dasar selain pesta ulang tahun. Pesta yang dihiasi balon bergelantungan di langit-langit, dihadiri teman-teman sebaya, serta kue ulang tahun lengkap dengan lilin berbentuk angka usianya.
Di kamar tidur kecil yang hangat, bias cahaya matahari jatuh dari genting kaca dan menyorot dinding di sebelah tempat tidur, Cindy sedang duduk di tepi ranjang menghadap tembok dengan kedua kaki tersilang. Di samping kirinya terdapat tumpukan baju kering menunggu giliran untuk ia lipat. Tepat di belakangnya, agak ke kiri, berdiri seorang anak bernama Çherrya Cantika.
“Bu, tadi pagi teman kelasku ada yang ulang tahun, lho,” kata bocah itu memulai pembicaraan.
“Oh, ya? Bagaimana ulang tahunnya?”
“Seru, Bu. Awalnya kami gak tahu, tapi saat istirahat Ibu Guru melarang kami keluar kelas. Padahal aku ingin sekali membeli jajan. Tak tahunya itu cuma rencana Ibu Guru dan ibunya temanku.”
“Rencana bagaimana?”
“Acara dadakan. Jadi ibunya temanku sengaja tidak memberi tahu bahwa hari ini temanku ulang tahun. Lalu ibunya masuk ke kelas sambil membawa kue ulang tahun.”
“Wah … itu mengesankan sekali,” tanggap Cindy tanpa menoleh, tangannya masih sibuk melipat baju “Lalu, apa lagi?”
“Ibunya kan membawa kue sambil jalan, tangan kanannya memegang kue dan tangan kirinya menjaga api supaya tidak padam.”
“Apinya tidak padam sama sekali?”
“Hampir, Bu, beberapa kali. Ibunya sempat berhenti tiga kali sebelum sampai di mejanya.”
“Repot sekali.”
“Iya, sih. Tapi senang. Kalau itu aku yang ulang tahun, aku tak peduli kalau apinya padam.”
“Kalau tak peduli, ya tak ada acara tiup lilin, dong. Itu sih bukan ulang tahun namanya, tapi acara makan biasa.”
“….”
“Terus, kamu ikut makan kuenya?” tanya Cindy penasaran.
“Ikut, dong, Bu. Andai Ibu tahu, daging kuenya itu warnanya hitam, di lidah terasa lembut, rasanya manis-pahit; bagian atas kuenya ada sesuatu yang kental, bila dijilat rasanya manis seperti susu. Pokoknya … ehhhmmm … enak.”
“Kamu kasih kado?”
Çherry menggeleng.
“Ikut makan kok tidak kasih kado? Berarti kamu punya utang, lho.”
“Ih, kok gitu? Temanku yang lain juga tidak kasih kado, Bu.”
“Temanmu kan pada mengadakan pesta saat ulang tahun. Impas, dong.”
“Makanya, bikin pesta ulang tahun dong, Bu,” pintanya sambil memiringkan kepala.
Cindy hanya diam. Ia tak menoleh, kedua tangannya masih terfokus pada baju-baju yang sedang ia lipat.
Ini bukan pertama kali Çherry meminta pesta ulang tahun diadakan. Permintaannya dari dulu selalu ditolak oleh Cindy. Berbagai alasan telah diucapkannya: tidak punya uang, ulang tahun bukan budayanya, memberikan janji palsu dengan dalih uangnya akan dipakai untuk membeli playstation dan berakhir terpakai buat biaya sekolah. Alasan-alasan itu hanya bisa diterima dengan terpaksa oleh kuping kecilnya, membuat mulut Çherry manyun karena tidak mendapatkan apa-apa.
Dan hari ini ia meminta kembali karena kejutan kue ulang tahun ibu dari teman kelasnya. Kejutannya sangatlah sederhana, tanpa pesta, dan tanpa kado. Namun bagi anak setinggi dada orang dewasa seperti Çherry, kejutan itu adalah bentuk perhatian seorang ibu kepada anaknya tentang hari lahirnya.
“Dari dulu di keluarga kita tidak pernah ada acara pesta ulang tahun. Kamu jangan meminta pesta seperti itu. Tidak ada gunanya. Uang itu untuk ditabung agar kelak jika ada musibah kita bisa menggunakannya. Bukan untuk foya-foya.” Salah satu alasan yang telah Cindy ucapkan. Namun yang namanya anak kecil, sering lupa apa yang dikatakan seorang ibu. Baginya, seorang ibu adalah tempat di mana ia meminta.
Cindy masih berkukuh melipat baju. Tumpukan baju yang sudah kering membuat Cindy risi bila tidak segera dilipat. Çherry naik ke tempat tidur, duduk menyilangkan kaki di sebelah Cindy.
“Ibu,” rengeknya kemudian.
Mulut Cindy masih bergeming. Tangannya tetap terampil menelungkupkan baju, melipatkan ke atas lengan bajunya dari kanan ke kiri dan sebaliknya, lalu menyatukan leher dengan pinggang baju, hingga menjadi bentuk kecil dan menumpuknya ke baju-baju yang sudah dilipat dengan ukuran yang sama, kemudian nantinya ditaruh di rak baju. Tangan kirinya meraih baju berikutnya, tetapi gerakannya terhenti. Sebuah tangan mungil menahan gerakannya. Cindy membuang napas, dilepaskan kembali baju yang ia raih.
“Memangnya kamu tahu makna ulang tahun itu apa?”
Kini giliran Çherry yang diam. Ujung telunjuk tangan kirinya menyentuh sela-sela bibir atas dan bawah, matanya memandang ke atas, memikirkan pertanyaan ibunya. Cindy dengan sabar menunggu jawabannya tanpa berusaha menarik lengannya yang terus dipegang tangan kanan anak itu.
“Ah, perayaan hari lahir, kan, Bu?”
“Hanya itu?” Cindy bertanya balik. Çherry hanya menjawab dengan anggukan kepala.
“Kalau hanya itu, sih, cukup bikin among-among saja.”
“Ah, sudah pernah, Bu. Tidak seru. Kan dulu Ibu sudah berjanji, mau mengadakan pesta ulang tahun.”
Sekali lagi Cindy membuang napasnya. Kali ini ia merasa kalah. Apalagi dulu ia pernah berjanji akan mengadakan pesta untuknya. Kemudian ia memutar badannya 90 derajat untuk menghadapnya. Raut muka bocah itu mengiba. Cindy selalu suka dengan rautnya. Menurutnya tampak lucu. Ia tersenyum.
“Begini, ulang tahun itu bukan sekadar hari lahir, melainkan bentuk syukur bertambahnya usiamu, dan perayaan ulang tahun itu sebagai bentuk syukuran karena kamu sehat sampai hari ulang tahun. Dan di hari itu juga kau harus punya prinsip akan bersikap lebih baik lagi untuk ke depannya. Makanya dalam lagu ulang tahun terdapat doa semoga panjang umur.”
“Oh, begitu.”
“Iya.”
“Tapi pestanya jadi kan, Bu?”
“Iya, jadi.”
“Sungguh?”
“Iya, Ibu lagi ada uang, besok ulang tahunmu harus dirayakan.”
Saat itulah Çherry langsung bersorak.
Hari itu akhirnya menjadi hari ketika Çherry merasa mendapat keberuntungan yang selama ini dimiliki teman-temannya. Keberuntungan yang jarang ia dapatkan selama hidup. Sudah beberapa kali teman-temannya bertanya kapan ulang tahunnya akan dirayakan. Alhasil, ia hanya cemberut ketika ditanya, ada rasa malu ketika ia hendak menjawab ketika jawabannya tidak ada perayaan.
Cindy kembali merampungkan melipat baju sambil telinganya mendengarkan acara yang nanti akan diadakan, mulai dari undangan kecil yang didesain sederhana di mana foto Çherry terpampang di halaman depan undangan. Kemudian ia ingin acaranya dilengkapi badut dan menyanyikan lagu ulang tahun saat proses pemotongan kue; dekorasinya memenuhi seluruh ruangan, mulai dari balon yang ditempel di langit-langit; serta spanduk sebagai layar untuk foto bersama.
Cindy menyanggupi dengan iringan senyum manisnya. Çherry bersorak kembali seraya memeluknya dan disambut pelukan balik oleh Cindy. Pelukan itu membuatnya tersadar akan lengannya yang panjang hingga menyentuh pundak kanannya, bergerak pelan ke atas dan ke bawah, berulang kali. Kepalanya yang berpeci bersandar di bahu kirinya.
Mata Cindy meneteskan air mata. Pemandangan yang tak pernah ingin ia lihat selama hidup: gundukan tanah sepanjang 1,5 meter dengan ukiran nama Çherrya Cantika binti Caraka Cakrawala. Buku surat yasin dengan potret anaknya terpajang di sampul depan masih tertutup. Ia memegang erat dengan kedua tangannya.
“Kau sudah membacakan surat Yasin?”
Cindy menggeleng.
“Kau pasti teringat padanya.” Caraka mengangkat kepalanya. “Maaf, ya, seharusnya kita ke sini bersama agar kau tidak sendirian.”
“Ia menanyakan pesta ulang tahunnya meskipun hampir hari ke 40-kematiannya.”
“Ia besok kita rayakan.”
“Andai infeksi makanan tidak menyerangnya.”
“Sudah, lebih baik kita bacakan surat yasin dan doakan agar dia tenang di sana.”
Cindy tertunduk, tangan kanannya membuka buku yasin. Satu lembar, dua lembar hingga berhenti di halaman tempat ayat pertama surat Yasin berada. Ia masih teringat hari di mana Çherry meminta perayaan ulang tahun. Hari di mana hanya ada di pikirannya.
Tinggal di Kebumen. Beberapa tulisannya telah dimuat di Saluransebelas.com dan Negerikertas.com. Suka menulis, memotret, dan kadang juga menggambar. Instagram @ms_subuh
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!