

Bau busuk di belakang Hotel Grand Metropolis bukanlah bau busuk biasa. Bagi hidung awam, itu adalah aroma kematian yang menguar dari tumpukan sampah. Namun, bagi hidung Pak Karno, bau itu adalah simfoni kemakmuran yang terbuang. Di sana, di balik tembok beton yang menjulang angkuh, sisa-sisa peradaban manusia kelas atas bermuara pada tong-tong plastik besar berwarna hijau tua.
Pak Karno adalah seorang maestro di pelataran limbah itu. Ia bukan sekadar pemulung; ia adalah kurator rasa. Dengan tangan yang sudah kebal terhadap rasa gatal dan lendir, ia memilah mana tulang yang masih menyisakan urat kenyal, mana roti gandum yang hanya digigit pinggirannya, hingga potongan brokoli yang masih segar karena hanya dijadikan hiasan piring. Di kalangan penghuni kolong jembatan, Pak Karno dijuluki sebagai “Manajer Restoran Langit Ketujuh”. Ia adalah jembatan yang menghubungkan lidah-lidah jelata dengan kemewahan yang tak pernah sanggup mereka eja namanya.
Malam itu, bulan tampak pucat, seolah malu melihat kemewahan yang dibuang begitu saja. Pak Karno mendekati area loading dock dengan langkah yang diringankan oleh harapan. Biasanya, ia harus berebut dengan kucing-kucing kurus atau tikus got sebesar anak marmot. Namun, malam ini sunyi. Satpam yang biasanya galak pun tak terlihat berjaga di pintu belakang.
Ketika ia membuka tutup bak sampah besar yang paling ujung, jantungnya hampir copot. Di sana, terbungkus plastik kedap udara yang sebagian besar sudah terkoyak, bertumpuk-tumpuk potongan daging merah marmer yang indah. Pak Karno terperangah. Ia tahu betul jenis daging ini dari majalah-majalah bekas yang sering ia baca. Ini adalah Wagyu A5. Daging yang harganya per gram bisa membiayai makan seluruh warga kolong jembatan selama dua minggu.
“Gusti Allah … harta karun!” bisiknya dengan suara serak.
Ia meraba tekstur daging itu. Masih dingin, seolah baru saja dikeluarkan dari ruang pendingin. Tidak ada aroma busuk. Hanya aroma khas daging segar yang berkelas. Ia menemukan potongan-potongan besar yang sepertinya sengaja dibuang dalam jumlah masif. Pikirannya langsung melayang pada warga kolong jembatan—pada Si Inem yang kurus kering, pada Mbah Lamiran yang giginya tinggal dua namun selalu merindukan rasa daging, dan pada anak-anak kecil yang setiap hari hanya menghirup aroma sate dari kejauhan.
Dengan semangat yang meledak, Pak Karno mengangkut karung-karung berisi “harta karun” itu. Ia merasa seperti seorang pahlawan yang baru saja menjarah gudang makanan penjajah untuk dibagikan kepada rakyatnya yang kelaparan. Kebanggaan membuncah di dadanya. Inilah saatnya ia benar-benar memuliakan kaumnya. Bukan dengan nasi basi yang dicuci ulang atau tulang-tulang sisa sup, melainkan dengan kasta tertinggi dari segala hidangan.
Kolong jembatan yang biasanya muram mendadak berubah menjadi hiruk-pikuk. Api unggun dinyalakan di tiga titik. Warga berkumpul dengan mata yang berbinar-binar, memandangi tumpukan daging yang sedang diiris-iris oleh Pak Karno dengan pisau dapur yang ia asah di pinggiran semen.
“Malam ini, kalian semua adalah raja!” seru Pak Karno sambil mengangkat sepotong daging tinggi-tinggi. “Jangan tanya dari mana, syukuri saja apa yang ada di depan mata. Ini makanan orang-orang yang mobilnya lebih panjang dari rumah kita!”
Tawa pecah. Anak-anak kecil bersorak, berkejaran di antara tiang-tiang beton yang lembap. Aroma daging panggang mulai merayap, mengalahkan bau pesing sungai yang mengalir di bawah mereka. Pak Karno merasa dirinya berada di puncak kejayaan. Ia melihat Mbah Lamiran mengunyah daging itu dengan penuh khidmat, seolah setiap kunyahan adalah doa syukur yang panjang. Ia melihat Si Inem tersenyum lebar, sesuatu yang jarang terjadi sejak suaminya tertangkap razia Satpol PP.
Pak Karno sendiri belum makan. Ia lebih memilih untuk berkeliling, memastikan semua orang mendapatkan bagian. Ia menikmati peran sebagai tuan rumah yang dermawan. Ada kepuasan batin yang tak ternilai saat melihat orang-orang yang biasanya dihina oleh dunia, malam itu bisa mengecap kemewahan yang sama dengan para pejabat di atas sana.
“Pak Karno, ini dagingnya lembut sekali. Seperti es krim!” celoteh seorang anak sambil menjilat lemak yang menempel di jarinya. Pak Karno tertawa lepas.
“Makan yang banyak, Le. Biar otakmu pintar seperti anak orang kaya!”
Di tengah keriuhan itu, Pak Karno teringat sesuatu. Ia meninggalkan satu karung kecil berisi bumbu-bumbu sisa yang ia ambil dari tempat sampah yang sama. Ia kembali ke tumpukan barang bawaannya yang ia letakkan di pojok remang-remang. Saat ia merogoh karung itu, jemarinya menyentuh lembaran kertas yang agak basah.
Rupanya itu adalah gumpalan koran bekas dan beberapa lembar memo internal hotel yang terbuang bersama daging tersebut. Dengan bantuan lampu senter kecil yang diikatkan di kepalanya, Pak Karno iseng membacanya. Ia ingin tahu, barangkali ada berita tentang kenaikan harga rongsokan.
Namun, matanya mendadak terpaku pada sebuah headline di potongan koran lokal edisi sore itu: “SKANDAL KERACUNAN MASSAL DI HOTEL MEWAH, SATU TEWAS, PULUHAN KRITIS.”
Jantung Pak Karno berdegup kencang. Ia membaca baris demi baris dengan tangan yang mulai gemetar. Di bawah berita itu, terdapat selembar memo internal berwarna merah yang ia temukan terselip di antara plastik daging. Memo itu tertanggal hari ini, dengan cap “SANGAT RAHASIA & BERBAHAYA”.
Instruksi Pemusnahan: Seluruh stok daging Wagyu Batch #902 harus segera dimusnahkan. Hasil laboratorium menunjukkan kontaminasi bakteri botulinum dan residu pestisida ilegal dari pemasok luar. Daging ini tidak boleh dikonsumsi dalam keadaan apa pun. Bahaya kematian mendadak akibat kelumpuhan otot pernapasan.
Lidah Pak Karno mendadak terasa pahit. Keringat dingin mengucur deras di keningnya. Bakteri? Botulinum? Ia tidak paham istilah medis itu, tapi kata “Vonis Mati” dan “Dilarang Konsumsi” terpampang jelas di otaknya. Ia menatap ke arah kerumunan warga yang masih asyik berpesta.
“Berhenti! Semuanya berhenti makan!” teriak Pak Karno, suaranya parau dan pecah.
Namun, suaranya tenggelam di antara gelak tawa dan bunyi gemeretak api. Ia berlari ke arah Mbah Lamiran, merampas piring seng yang dipegang pria tua itu.
“Kenapa, No? Kamu mau lagi?” tanya Mbah Lamiran bingung.
“Ini bukan makanan tapi racun, Mbah!” teriak Pak Karno kalap.
Orang-orang mulai menoleh. Suasana yang tadinya ceria berubah menjadi sunyi yang mencekam. Pak Karno berdiri di tengah lingkaran api, memegang potongan koran dan memo itu dengan tangan gemetar. Ia mencoba menjelaskan, tapi kata-katanya tersangkut di tenggorokan.
Tiba-tiba, seorang anak kecil yang tadi memuji kelembutan daging itu tersedak. Wajahnya membiru dalam hitungan detik. Ia memegangi lehernya, matanya melotot, mencoba menghirup udara yang seolah menghilang dari sekitarnya. Tak lama kemudian, Si Inem jatuh tersungkur. Tubuhnya kejang-kejang ringan, lalu diam mematung dengan mulut berbusa putih.
Satu per satu, warga kolong jembatan mulai menunjukkan gejala yang sama. Pesta itu berubah menjadi sebuah fragmen neraka yang nyata. Suara tawa berganti dengan erangan tertahan dan bunyi tubuh yang berjatuhan di atas tanah keras.
Pak Karno jatuh terduduk. Ia melihat ke tangannya sendiri yang masih berlumuran lemak daging yang tadi ia iris-iris. Kebanggaan yang beberapa menit lalu melambung tinggi, kini jatuh menghunjam bumi, hancur berkeping-keping. Ia bukan lagi seorang pahlawan. Ia adalah algojo bagi kaumnya sendiri.
Pak Karno memandangi langit. Bintang-bintang di atas sana seolah mengejeknya. Hotel Grand Metropolis tetap berdiri megah di kejauhan, cahayanya yang gemerlap tampak seperti taring-taring yang menyeringai. Mereka tidak membuang sisa makanan; mereka membuang tanggung jawab dan dosa-dosa mereka ke tempat sampah, membiarkan orang-orang seperti Pak Karno memungutnya dan menjadikannya jerat leher bagi diri mereka sendiri.
Di bawah kolong jembatan yang gelap, hening kembali merayap. Api unggun perlahan mengecil, meninggalkan bara merah yang meredup. Pak Karno meraung tanpa suara, memeluk tubuh mungil seorang anak yang sudah tak bernapas. Ia telah memberikan kemewahan pada kaumnya—sebuah kemewahan yang akhirnya mengantarkan mereka pada tidur yang paling panjang.
Besok pagi, truk sampah akan datang. Mereka akan menemukan tumpukan manusia yang mati dengan perut kenyang akan daging paling mahal di dunia. Dan bagi kota yang sibuk, itu hanyalah sekadar berita singkat di halaman kriminal, tentang kaum marjinal yang mati karena kecerobohan mereka sendiri dalam mengais limbah.
Pak Karno mengambil sepotong daging mentah yang masih tersisa di tanah. Dengan tangan gemetar dan air mata yang mengalir deras, ia memasukkan daging itu ke dalam mulutnya sendiri. Ia ingin ikut merasakan kemewahan terakhir itu. Ia ingin menyusul mereka, mengakhiri peran konyolnya sebagai manajer di restoran sampah.
Daging itu memang sangat lembut. Begitu lembut hingga ia merasa seolah-olah sedang mengunyah dosanya sendiri.