

Di halaman sunyi di bawah bayang salib, dua jiwa berselimut hitam menertawakan kesunyian.
Satu memetik gitar seolah mengoyak langit dengan nada-nada nakal, sementara yang lain meneguk botol seperti menelan dosa yang lupa diampuni.
Di antara rumput yang diam dan tembok yang bisu, mereka merayakan hidup dengan cara yang ganjil
seolah berkata pada dunia:
bahkan di dekat kesucian, manusia tetaplah makhluk yang ingin bernyanyi, tertawa, dan sesekali tersesat.
Sebab barangkali Tuhan pun tahu,
bahwa iman tidak selalu berjalan lurus
kadang ia menari, mabuk, lalu pulang dengan wajah penuh rahasia.
Di bawah langit yang robek oleh peluru,
kami membentang perjamuan kecil
di atas tanah yang masih hangat oleh darah.
Di kejauhan, meriam menggeram
seperti binatang tua yang lapar akan manusia.
Angin membawa bau mesiu,
dan malam menelan jerit tanpa sisa.
Namun di lingkar sunyi ini
kami makan dengan kepala tertunduk,
seolah setiap gigitan adalah pengakuan dosa
yang tak sempat diucapkan.
Sebab perang selalu menyisakan hal yang ganjil:
di antara maut yang berjalan tanpa wajah,
manusia masih sempat mengadakan perjamuan kecil dengan rasa bersalah
sebagai lauknya.
Anggur Fermentasi dan Sebuah Korek Api yang Hilang
Di lantai malam, anggur berfermentasi mengendapkan sunyi di dasar botol retak, rasanya pahit, seperti doa yang lupa alamat pulang.
Plastik hitam membungkus niat kita sembunyikan mabuk dari bulan, padahal gelap tetap tahu bagaimana luka belajar meneguk dirinya sendiri.
Sebatang korek api yang pernah dinyalakan, mengajarkan api tentang sifat harapan yang berumur pendek; setelah dinyalakan, ia padam tanpa sempat menghangatkan kepercayaan.
Kini korek itu hilang, barangkali jatuh di sela waktu atau dibawa angin yang muak pada janji-janji yang mudah padam.
Anggur terus bekerja dalam diam, mematangkan sesal menjadi keberanian palsu, sementara kita duduk menunggu terang yang tak lagi punya sumber.