

Tulisan ini merupakan arsip kegiatan Musim Mekar Selasih yang diadakan kawan-kawan Membaca Selasih.
Apakah setiap manusia harus memiliki tempat pulang?
Pertanyaan ini timbul setelah mendengar bisikan Rasmani yang tetap setia dengan Masrul, dua tokoh dalam “Kalau Tak Untung”. Pertanyaan yang menjadi sorotan saat Yusnani tetap ingat pada keluarganya yang telah kejam menganiaya. Begitu pula pertanyaan ini kembali muncul saat perjalanan menuju rumah kelahiran Sariamin―dengan judul “Musim Mekar Selasih: Pulang ke rumah Selasih (2)”.
Selasih adalah salah satu nama dari Sariamin. Nama lahirnya Basariah, tetapi karena sering sakit jadi diganti Sari Amin, dan disatukan olehnya jadi Sariamin. Lalu, Sariamin gadis mulai menyukai aktivitas menulis. Ada lebih dari sepuluh jari nama samaran yang dipakai Sariamin saat mengirimkan tulisannya ke media: Sri Gunung, Seleguri, Dahlia, Ibu Sedjati, Mande Rubiah, dan lainnya. Saat berusia 32 tahun, ia menikah dan bertambah namanya menjadi Sariamin Ismail. Dari nama-nama yang pernah melekat jadi dirinya, barangkali itulah salah satu makna dari pulang. Nama dari buah karya-karya Sariamin.
Dalam novel “Kalau Tak Untung”, Selasih menulis kehidupan seorang tokoh bernama Rasmani. Perjalanan hidupnya tidak mudah. Rasmani lahir dari keluarga melarat. Meski demikian, pendidikan tetap menjadi nomor satu dalam orientasi masa depan keluarga. Dengan rajin belajar dan iktikad baik Masrul, Rasmani dapat menjadi guru. Akan tetapi, dari sinilah pertanyaan tempat pulang itu menebal di puncak kesadaranku. Terutama sejak Rasmani menetap jadi guru di Bukittinggi, di negeri pertemuan, di negeri yang jauh lebih besar dari kampungnya, Bonjol.
Bukankah Rasmani telah belajar melupakan Masrul?
Lalu, apa makna tempat pulang yang disampaikan Selasih dalam novel ini?
Aku ingin sekali menceritakannya, tetapi alangkah berbeda nantinya bila handai taulan membaca seutuhnya.
Bila dalam novel “Kalau Tak Untung” pulang yang tak pernah sampai, lain dengan novel “Pengaruh Keadaan”. Selasih mengisahkan keadaan seorang tokoh bernama Yusnani. Makna pulang dalam novel ini rumit sekali. Yusnani berjuang menghadapi keluarga tirinya. Meski sang ayah masih ada tempat sandaran, tetapi ibu sudah berganti.
Mulanya tak ada persoalan bagi Yusnani untuk hidup sebagai anak, sebab ia tidak tahu bahwa ia sedang hidup sebagai anak tiri yang dieksploitasi. Akan tetapi, semenjak abang kandungnya, Syafril, menyusul ke Kotaraja Aceh, Yusnani memaknai tempat pulang dengan lukisan yang baru.
Syafril dan Yusnani nekat lari dari kegelapan rumah di Kotaraja itu, dan pulang ke Sumatra Barat. Akhirnya, mereka membangun kehidupan baru bersama orang-orang yang Yusnani cintai di Bukittinggi.
Tinggal di Bukittinggi jadi idaman pada saya, saya amat tertarik oleh negeri itu, begitu ucap Yusnani dalam “Pengaruh Keadaan”.
Barangkali Selasih ingin suatu tempat pulang yang baru, yang lain dari kekejaman masa lalu.
Dari karya-karya Selasih dan semangat hidup Sariamin Ismail, aku mencari makna pulang. Makna yang sayangnya harus dibentuk oleh perjalanan, perjuangan, dan proses yang berliku. Pencarian belum selesai hanya dengan membaca karyanya, ada misteri yang lebih menantang dari hidup Selasih/Sariamin, yakni: mengapa ia tidak lagi pulang dan tinggal di kampung halaman?
Aku belum pernah ke Pasaman, apalagi Pasaman Barat. Pengakuan yang penting kutulis di sini, karena Selasih lahir dari negeri Ophir ini, Sinuruik, pada 31 Juli 1909. Sementara 117 tahun + 1 hari kemudian, kawan-kawan Membaca Selasih dan aku pulang ke rumah Selasih.
Jikalau Selasih (dari panyampaian Ibu Tini Hadad, anak Selasih) berjalan kaki dengan ayahnya ke Padang Panjang tahun 1921 untuk bersekolah di Meisjes Normaalschool (Sekolah Guru Perempuan), kami pulang dari Bukittinggi menuju Sinuruik dengan jarak 151 km selama 9 jam menggunakan mobil Tyo. Tak bisa kubayangkan, betapa jauh perjalanan Selasih kala itu. Terlebih lagi, seberapa jauh pengembaraan Selasih kala itu―hingga tak lagi memilih pulang?
Namun, yang selalu jadi penasaran adalah selalu tentang masa kini. Di suatu pertemuan daring edisi “Gen Z Membaca Selasih”, ada yang bertanya kepadaku:
“Bagaimana jikalau Selasih hidup hari ini? Apa yang dilakukan Selasih di masa kini?”
Buatku, pertanyaan tersebut adalah cerminan dari si penanya akan dirinya sendiri. Bagaimana hidupnya hari ini? Apa yang dilakukannya di masa kini? Buatku teringat akan larik syair Selasih: Tidak disangka dari bermula, Dunia penuh dengan “kecewa”. (1933)
Yups, masa kini. Perjalanan masa kini dari Bukittinggi menuju Sinuruik. Pukul 6.08 langit biru dan bulan purnama, kami berangkat dari Pasar Bawah Bukittinggi pada Sabtu, 1 Agustus 2026. Kemudian singgah di Thariqat Naqsyabandiyah Kumpulan, Nagari Bonjol. Tak lupa, kami mampir sebentar ke rumah Prof. Dr. Achmad Mochtar dan Prasasti Ganggo Hilia yang tak jauh dari rumahnya. Lalu, kami mampir ke Candi Tanjung Medan di Nagari Petok, Kecamatan Panti, Kabupaten Pasaman. Di perjalanan, kami mencicipi Salak Mangguang yang dibeli di tepian tanah Pasaman bertulisan “Tanah Ini Milik Tentara AD”. Di Petok, kami juga singgah untuk makan menu randang paku khas buatan Mama Hayati, kawan kami.
Pernahkah mendengar kalimat “Menempuh perjalanan sama artinya dengan berangkat: meninggalkan sesuatu.”?
Ya, kutipan dari Frederic Gros, kawan berjalanku di Bukittinggi. Hehe. Maksudku, perjalanan kali ini justru meninggalkan sesuatu di hidupku. Aku bertemu kawan-kawan membaca Selasih. Ruang yang mencari, mengumpulkan, mencatat, merekam, menafsirkan pengetahuan dan nilai-nilai Selasih. Semuanya (termasuk yang membaca tulisan ini) adalah kawan-kawan Selasih, mungkin kita belum dipertemukan saja. Semoga lain waktu kita bertemu ya.
Sebelum sampai di rumah Selasih, kami melewati Rimbo Panti. Sepanjang pohon beringin di kiri kanan, cuaca akan berganti-ganti, hujan-panas-hujan-panas. Pernyataan Bang Arbi membuatku merenung, “Tahun 1990 Rimbo Panti saking rimbunnya, matahari pun tak bisa masuk”
Namun yang kulihat saat ini adalah pembangunan berbuat lain: kedal-kedal membentuk longsoran keruh air. Sawit-sawit pun ada pula. Oleh sebab itu, tak dapatlah kubayangkan perjalanan Selasih yang sebenar-benarnya pada 117 tahun yang lalu.
Pukul 15.10, kami tiba di rumah Selasih. Ada pohon cokelat, kelapa, jeruk, durian, cempedak, dan tanaman-tanaman hijau lainnya. Tentu ada bunga warna-warni di teras rumah. Rumah Selasih berwarna krem, enam jendela kaca, dua jendela kayu, dan sebuah pintu. Gorden rumahnya berwarna putih. Ada tiga kamar di sini. Semuanya berlantai dan berdinding kayu. Aih, pemandangan dari jendela ke Bukit Panjang, seperti meminjam kacamata penglihatan Selasih abad yang lalu (meski tak akan pernah sama).
Barangkali demikianlah, pulang dari perjalanan ini. Pulang ke rumah Selasih, membaca karya-karya Selasih, dan bercengkerama dengan kawan-kawan Selasih―kawan dari masa lalu, masa kini, dan masa depan.
Rasmani menyebut Bukittinggi adalah negeri pertemuan, lantas, apakah Pasaman adalah negeri perpisahan?
Yusnani menyebut Bukittinggi sebagai negeri idaman, bagaimana dengan Pasaman?
Oh ya, ada satu lagi kutipan dari kawanku Frederic Gros,
“Dengan berjalan kaki, kita tidak akan berjumpa dengan diri sendiri. Kita justru terlepas dari gagasan tentang identitas, dari godaan untuk menjadi seseorang, memiliki nama dan cerita.” Selasih melalui Rimbo Panti – Lubuk Sikaping – Palupuah – Bukittinggi – Padang Panjang, dengan berjalan kaki. Namun demikian, tempat pulang selalu menjadi pencariannya. Selasih menuliskan pencarian, keraguan, dan silang-sengketa dalam karya-karyanya. Mari terus membaca Selasih!
Menamatkan sarjana di Sastra Indonesia, Universitas Andalas. Berdomisili di Bukittinggi, Sumatra Barat. Mari bersapa-sapa di Instagram @fdlhyti
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!