Perempuan yang Mencintai Lelaki Pembatu

Perempuan yang Mencintai Lelaki Pembatu

Respons terhadap puisi Asef Saeful Anwar “Lelaki yang Menunggumu hingga Membatu”

 

Kau keliru perihal menunggu adalah sebuah kesetiaan

Dirimu sendiri telah membatu

di tengah jalan yang kau sendiri tak pernah mau meniti bersamaku

 

Saat kau sibuk mengukur jarak antara kehampaan dan keheningan

Aku sudah lebih dulu lelah memeluk ketidakpastian

Entah berapa lama lagi aku harus membeku dalam sebuah penantian

 

Katamu mengejar adalah mengumbar hasrat

Lantas kau sembunyikan semua hasratmu di balik rumus-rumus

yang tak kutahu apa fungsinya

Seakan-akan cinta adalah soal matematika

dan aku hanyalah satu dari seribu persoalan yang harus kau pecahkan

 

yang kutahu cinta bukan soal tepat atau salah

Cinta adalah soal keberanian dan pelarian

dan kau lebih memilih lari

Bukan sebagai siasat, tapi sebagai tabiat

 

 

 

Rumah Kedua, Yogyakarta

Respons terhadap puisi W.S. Rendra “Moranbong, Pyongyang”

 

Aku akan tidur

di lapangan

di auditorium

Sementara kabel, minyak

dan bebatuan

beradu.

Lihatlah, aku terluka

 

Aku akan tidur

di dekat tembok

di bawah atap rumah Tuhan

yang sejuk

 

Dalam waktu yang singkat

tapi bermakna,

kita berjalan beriringan

mengintip kekacauan di rumah kedua

di dalam kampus hijau

 

mendengarkan desas-desus

nyanyian orang

yang tunduk tanpa tanya

kantongku pun penuh pertanyaan

 

Lalu kupilihlah tempat ini.

tempat tidurku di kursi rotan

dekat tembok gedung yang tua

memandang orang lalu-lalang

dan angin berhembus

untuk pergi ke lembah yang jauh

meninggalkan cinta pertama

 

Aku akan tidur

di dekat tembok

di bawah atap rumah Tuhan

yang tenang.

Kita kuat karena doa

 

 

 

Satu

 

Kau dan aku adalah sepasang

Utuh di dalam kotak

Beraroma puisi, berkulit majas, dan lahir dari tinta yang sama

Langkahmu adalah langkahku

Satu.

Berubah.

Bukan karena usang, tapi karena arah.

Telapakmu mulai terbiasa dengan jalan yang tak pernah sekalipun kusinggahi

Asing.

Sekuat tenaga aku mengejar

Kubawa rodaku menerabas genangan

Kutinggalkan jejak pada rumput yang mengakar

Agar kau tahu, aku masih di sini, di sampingmu

Jalanmu mulai miring

Seperti enggan berbagi poros denganku

Kulitmu mengeras, setajam beling

Talimu tak pernah lagi kau ikatkan untukku

Kakiku mulai terluka

Bukan. Bukan karena jauh kuberjalan

Aku terlalu lama memaksakan diri,

berada di sisi yang kau tinggalkan

Maka aku berhenti

Kubiarkan rodaku aus

Tak kuhiraukan debu merayapi epidermis

Aku tak lagi mengejar yang terus berlari

Kita satu.

Dalam rak yang telah usang

Badanku membelakangi dirimu

Mulutku menganga,

kehilangan gigi untuk meniti jalan bersamamu

 

 

 

Darurat Parkir

 

Kami membangun menara kefasikan

dari dana yang entah digali dari halaman siapa

lantai demi lantai disusun,

beton-beton menjulang mengejar akreditasi

 

di bawah, seharusnya dibangun kandang

tapi rupanya aroma gorengan lebih menjanjikan

aku memarkir rinduku bersama diksi yang kacau

meninggalkan kuda besi di lahan kosong yang berliku

 

seharusnya di bawah sana kuda besiku berlabuh

tapi rupanya semangkuk mi ayam lebih menggoda dari ekor kuda

 

ah,

gedungmu begitu indah

hingga lupa kuda besi pun perlukan tempat bernaung,

bukan hanya memikirkan isi lambung.

Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Gadjah Mada. Nama penanya Nadir dan aktif menulis di Medium. Karya terbarunya berjudul Olin Kehilangan Pelanggan (Kumpulan Fabel, Forsenbooks, 2026). Beberapa puisinya dimuat oleh akun KMSI UGM. Dapat disapa melalui Instagram @hanafjkz

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!