Lahir di Tegal, 16 Oktober 1974. Ia bergiat di Komunitas Paguyuban Sastra Rabu Malam (PaSaR Malam) sejak 2007. Ia juga redaktur puisi di Majalah Litera. Karya-karyanya sering dimuat di surat kabar nasional dan daerah. Buku puisi tunggalnya antara lain  Gelembung (2009), Liburan Penyair (2014), Pengungsian Suara (2016), dan Berlatih Solmisasi (2017).

Ia meraih penghargaan sebagai penulis puisi terbaik tahun 2017 atas puisinya tahun 2016 yang dimuat di situs Litera.co.id. dan menjadi Penyair Muda Berbakat Terbaik tingkat versi situs Basabasi.co tahun 2018.

Ade Gunawan :
Gimana nih bang cara bikin puisi yang bagus, konkret dan khas?
Saya paling suka puisi abang yang berjudul Menunggu dan Berjalan di Atas Tali

Dedy Tri Riyadi :
Untuk bisa berproses ke arah sana, ada dua jalan yang bisa ditempuh sendiri-sendiri atau sekaligus yaitu membandingkan puisi-puisi yang sudah ada serta mencari “celah” bagi kita masuk ke panggung yang sama, dan jalan ke dua adalah mencari posisi kita dalam memandang segala persoalan di lingkungan kita.

Ade Gunawan :
Jadi kalau misal mau mengangkat tema cinta baca Tagore atau Neruda terus bandingkan karya kita dengan mereka, tentu dengan tidak menjiplak karya mereka tapi punya gaya sendiri, nah kalau jalan yang kedua gimana tuh Bang? Apa kita jadi semacam pengamat lingkungan dan mengubahnya ke puisi atau bagaimana?

Dedy Tri Riyadi :
Saya mengilustrasikannya dengan cerita Jokpin, ia pelajari betul bagaimana Chairil menulis dan Sapardi menulis, sampai ia berpikir bagaimana kalau saya bersikap anti thesis pada sajak dan puisi-puisi mereka, itu ilustrasi jalan pertama.
Jalan yang kedua, masih dari sisi Jokpin, ia memposisikan bahwa puisi-puisinya adalah ejawantah dari filosofi “hidup adalah perayaan dan kegembiraan” akhirnya puisi-puisi Jokpin selalu menimbulkan kesan ceria, gembira, menertawakan kejadian, menyindir untuk hepi-hepi.
Soal bahan dan tema akan bisa sangat beragam tapi dasar dari puisimu sudah mantap jika dua jalan itu sudah kau tempuh

Ade Gunawan :
Apa artinya saya mesti berani bersikap antitesis dengan puisi-puisi mereka?

Dedy Tri Riyadi :
Jika tidak ada “pemberontakan” terhadap kemapanan dan hegemoni, bagaimana kita kemudian dianggap ada?
Chairil dianggap pelopor karena ia dobrak tradisi lama soal rima (sanjak) dan jumlah larik, batas suku kata. Sapardi mengambil imajisme, GM memamerkan wawasan, Afrizal melakukan dekonstruksi grammatikal, SCB memasukkan unsur mantra atau racauan, Rendra menggunakan balada dan romantisme, dll.

Dedy Tri Riyadi
Selalu ada yang bisa disandangkan dengan upaya mereka dalam puisi.
Penyair-penyair Jawa Timur sempat memproklamirkan puisi-puisi gelap

Ade Gunawan :
Lalu saya bisa memulainya dari mana?

Dedy Tri Riyadi :
Seperti saya kemukakan, silakan kalau mau tempuh jalan 1 dahulu baru jalan ke 2, atau sebaliknya, atau bisa juga bersamaan.
Tapi paling mudah sih jalan pertama dulu saja

Ade Gunawan :
Baik bang.
Tak ada teknik khusus kah dalam menulis puisi?

Dedy Tri Riyadi :
Ada banyak metode pelatihan untuk buat puisi, ada acak kata, kennings, atau melihat foto atau lukisan atau pemandangan.

Ade Gunawan :
Oke, Bang. Apakah ada poin tambahan yang ingin disampaikan. Seperti pesan pamungkas buat yang baru belajar menulis puisi?

Dedy Tri Riyadi :
berpuisi itu bukan bergelap-gelap, bukan pula berterang-terang mendefinisikan satu hal pada hal lainnya, tapi puisi itu hadir karena kita berada dalam keremangan yang pelan-pelan menghadirkan bayangan kita sendiri di sebalik cahaya.

Ade Gunawan :

oke, Bang. Terima kasih atas waktu dan ilmunya.