Perbincangan di Lembah Dingin

Perbincangan di Lembah Dingin

 

dua gelas berdebat dalam dingin  

tentang pertumbuhan, tentang anggaran  

dentingnya pecah  

menjadi nol

 

seekor ikan naik ke meja  

membawa perutnya yang kempis  

lalu menatap lurus

 

“berisik sekali,” tegasnya 

 

“padahal di luar  

ibu-ibu sedang merebus batu  

supaya anaknya bisa tidur.”

 

Bogenga, Flores

5 September 2026

 

 

 

Wajah Bendera Indonesia

 

jari-jari berlumur darah  

mencungkil kepiting dari lumpur yang sedang mengeja angka 1945

darah itu bukan tinta

tapi sejarah menuliskannya begitu

 

dari balik semak, terdengar gonggongan  

bingkai-bingkai tulang belulang yang belum sempat pulang

mereka berbisik tentang

 

 “merdeka”  

 

yang dulu digantung di ujung bambu,  

tapi tak pernah sempat menghangatkan dada  

oleh merah dan putih yang masih basah

 

burung cenderawasih menari di atas duri pohon hitam

paruhnya terkunci 

tak sempat berkicau ke telinga pemimpin:  

 

“rawatlah wajah bendera ini

jangan digadaikan dan diobral.”

 

karena kini, bendera dijual  

di pasar yang sama tempat kita menjual harga diri 

 

dilelang ke orang-orang berbulu babi hutan  

yang datang membawa rupiah berwajah asing 

sekejap

satu dentuman tembakan 

bukan peluru

tapi transaksi

 

dahulu sekali

untuk menegakkan dua warna  

para pendahulu membayar dengan nyawa 

kaki mereka patah agar kita bisa berdiri 

mereka bisu agar kita bisa bersuara

 

sekarang?  

dua warna itu ditimbang oleh perut besar

dilipat rapi untuk diekspor 

dijadikan taplak meja di negeri orang

 

dilelang demi proyek, demi tanda tangan, demi angka

 

inti dari semua ini sederhana:  

 

darah yang mengering di 1945  

kalah oleh tinta transfer di setiap tahun hingga kini

 

jadi, siapa yang sebenarnya merdeka?  

bendera yang masih berkibar,  

atau kita yang sudah menjual wajahnya?

 

Bogenga, Flores

13 September 2026

 

 

 

Jalan Harapan

 

jalan itu jauh dan berkabut  

tapi mataku menembusnya  

sampai ke ujung tempat mentari dijemur

 

langkahku berat  

seperti gajah yang menerobos malam  

merobek gelap  

memetik fajar dengan belalai

 

lalu kita berjalan  

bukan sendiri  

tapi berdua  

menanam cinta di setiap batu  

sampai kabut pun malu  

dan berubah jadi pelangi

 

Bogenga, Flores

7 September 2026

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!