

satu hari saja, sayangku,
sangkar ini semakin sesak untukku;
nyanyikanlah satu mawar,
sebagai penawar hatiku,
saat aku mati,
dipenjara oleh sunyi, kau;
datang dengan wajah penuh puisi,
jika kau sudi, datanglah lebih cepat,
rasakan air hujan, lagu-lagu gerilya,
dan puisi yang menjelma tindakan,
teruslah bernyanyi, untukku,
sampai ababil datang, berbondong-bondong,
membawa bara api,
dari sarang neraka,
satu hal yang tak ku lupakan,
saat warna senja berkabung,
dari tetesan darah para dayang,
yang takkan pernah terbit atau terbenam,
saat jalan terlanjur basah,
ketika embun mulai melihat,
setiap sudi untuk melawan,
Maukah kau?
di kota bahasa
di depan tiang penyangga
dipan surga dan gerbang neraka
setiap prosa tewas, bayang-bayang
digantung oleh aksara
dilempari jamuan-jamuan
dengan rekayasa dan prasangka
dan aku,
memakan sampah diriku
yang digantung ditengah peradaban;
yang menyiasati dirinya
yang menistakan dirinya
yang melumuri dirinya
dengan oli,
belatung,
vonis dan hukum.
malangnya diriku,
maukah kau berbaring
dan saling menenggak racun?
konfrontasi tak perlu izin,
dan tak perlu mawar
untuk menderita didalam cinta,
kerusuhan yang menghujam diatasku
seperti genderang para teroris;
tindakan ilegal bermekaran,
meninggalkan serbuk
dan sari api bunga.
di atas tumpukan para syuhada,
mayat berbaris tanpa nama;
tanah yang diselimuti
dengan rumput kering
dan pemberontakan,
kenakalan yang menyesatkan
bagi puisi,
untuk mengokang senjata;
tepat di bait
nama pengarang.
jika kau sudi,
pada suatu waktu
perang berhenti,
lupakanlah para pengarang
yang menghujani puisinya;
dengan cemara dan metafora,
temani aku;
dikenakalan
dan anarki lainnya.
Generasi keempat dari silsilah Mohammad Ramdan bin Husein yang tewas dalam tragedi peledakkan gudang messiu milik sekutu di Dayeuhkolot pada peristiwa Bandung Lautan Api 1946.
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!