Pengalaman Saya Dipanggil Oppa-oppa Korea

Kamu sedang jalan-jalan di tempat umum. Mungkin mall, taman, pantai, atau tempat rekreasi lainnya. Sekonyong-konyong, ada segerombolan cewek antah-berantah berteriak: “Oppa! Oppa!”

Awalnya, kamu tidak merasa sedang dipanggil. Wajah teman yang kamu ajak jalan sepertinya lebih pantas menyandang gelar sejuta fanbase tersebut. Tahu-tahu, sorakan semakin memuncak. Kamu pun bertambah cemas. Akhirnya, kamu berbalik. Spontan cewek-cewek tadi bersorak, lebih lantang lagi. “Oppa! Oppa! Saranghaeyo! Dengan wajah tersipu, kamu membalas dengan senyuman. All of that glory really is for you!

Pernah mengalami hal serupa? Kalau sudah pernah, Congratulations! Perhaps you can wow lots of girls with you looks. Kalau belum pernah, it’s okay. Attractiveness is a lot more than just appearance. Nah, kalau saya sendiri, jujur saja, sudah pernah sekali. Ada beberapa bocah SD yang bersorak Oppa sekeras TOA Masjid saat saya tengah bersepeda di taman. Dan ternyata, setelah saya pastikan, mereka benar-benar mengarahkan pujian itu kepada saya.

Mungkin mereka belum sempat operasi katarak sampai tidak bisa membedakan orang Cina dari orang Korea, tapi dalam hati, timbul sedikit rasa bangga karena saya akhirnya mempunyai fans—meskipun cukup yakin di antara anak-anak itu, adalah seorang bocah laki-laki yang berteriak paling keras.

Pengalaman tersebut membuat saya penasaran akan seperti apa sebenarnya sosok Oppa yang dibandingkan dengan saya? (saya sendiri tidak familiar dengan K-Entertaintment). Jadi, saya mulai googling dan mendapati rangkaian gambar wajah mulus nan rupawan—membuat saya semakin yakin kalau bocah-bocah yang tadi bersorak berasal dari Lembaga Sosial untuk Anak-anak Penyandang Rabun Usia Dini. Saya malah semakin minder dengan penampilan. Satu-satunya yang mirip dari Oppa yang muncul di layar laptop dengan saya hanyalah bibirnya yang diolesi lipstick dan bibir saya yang sedang menderita panas dalam.

Lebih dari itu, setelah menelusuri gambar artis cowok Korea lebih lagi, saya mulai merasa sedikit lega karena jarang dibanding-bandingkan dengan Oppa-Oppa Korea. Bukannya saya meragukan ketampanan artis Korea—yang bisa membuat pemudi sebanyak Stadium Gelora Bung Karno dapat menampung, lengkap dengan lahan parkirnya, kegirangan, hanya saja beberapa foto yang saya temukan adalah cowok-cowok Korea yang mengenakan lipstick cerah dengan pose kedua tangan menopang dagu. Sebuah pose yang tergolong feminin menurut saya.

Baca juga  Empat Kuliner Karawang yang Membuatmu Bilang "Mok Meninggal"

Foto yang lain adalah cowok berambut merah muda, bibir tebalnya dimoncongkan—bak hendak mengecup—sambil menunjuk pipi yang digembungkan, dan mata merem. Dan yang paling membuat saya miris adalah yang satu ini … telanjang dada—and he definitely had a lot of make up on her his face­— sedang memagut bibir bawah, dan berbaring dalam bathtub sambil mengedipkan sebelah mata. Just … Wow!

Apakah ini yang diminati cewek-cewek sekarang? Cowok yang kecantikannya malah bersaing dengan cewek itu sendiri? Saya mulai bertanya-tanya, dan penelitian saya (yang awalnya cuma iseng) berlanjut ke ranah penasaran. Dalam sebuah laman di internet, saya menemukan sebuah fakta bahwa artis-artis Korea memang menggunakan make up dengan tujuan yang pula untuk meningkatkan “kecantikan”.

Artikel lain mengatakan bahwa pemuda-pemuda Korea pun secara kasual mengenakan BB Cream, brow pencil, dan bahkan lipstick di depan umum tanpa perlu takut dikejar-kejar Satpol PP atau pihak keamanan setempat. Tak dapat dipungkiri, Beautiful boys sudah menjadi budaya di Negeri Ginseng, and well … who can argue with culture? It is the way Korean people live there.

Yang menjadi kekhawatiran saya adalah, Hallyu (juga dikenal dengan istilah Korean Wave atau meledaknya budaya Korea) merupakan fenomena berskala internasional. Sepanjang sejarah manusia, kita sudah menyaksikan bagaimana budaya bisa merajai banyak bidang kehidupan: Ekonomi, politik, norma, busana, bahkan selera serta rasa. Salah satu contohnya adalah Hellenisme atau fenomena dominasi budaya Yunani di Kekaisaran Roma.

Pemerintahan Romawi adalah penguasa dunia kuno. Mereka menaklukkan dan menjajah banyak negara, mulai dari Inggris, Spanyol, Perancis, Timur Tengah, Afrika Utara, dan Yunani adalah salah satunya. Namun, secara budaya, Yunani mendominasi Roma. Alhasil, arsitektur bangunan Roma terpengaruh hebat oleh cita rasa seni Yunani, agama yang diadopsi oleh Roma adalah kepercayaan mitologi kuno Yunani, dan para pemikir Yunani mendapat tempat tersohor di mata pemerintahan Roma. Coba bayangkan hal yang sama terjadi pada Indonesia sekarang. Cowok-cowok di Indonesia bersaing dalam kompetisi kecantikan, alih-alih kejantanan. Hmm ….

Baca juga  Kalau Saya K-Poper Memangnya Kenapa?

“Alah! itu mah, tidak mungkin terjadi di Indonesia.” Eits, jangan salah! Berbicara statistik, berdasarkan laporan Korea Times tahun 2019, ada sekitar 99,32 juta penggemar Hallyu di dunia dan diperkirakan angka it terus meningkat hingga akhir tahun 2020. Coba tebak, berapa dari para penggemar Korean Wave itu yang menyimpan foto Oppa cantik dalam galeri mereka? “Ah! Itu hasil laporan dari negara Korea sendiri. Cuma mengaku-ngaku saja!”

Let’s do a simple practical research, then! Coba kamu buka aplikasi Instagram. Pindah ke laman pencarian dan pilih opsi tagar (hashtag atau tanda pagar), lalu ketik “Kpop” dan lihat berapa hasil yang kamu peroleh. 98,9 juta post. Bandingkan dengan tagar “muscle” (59,9 juta post) atau “masculine” (806 ribu post) atau nama Anda sekalipun! (no results found for reinardcaesarlayadi).

Let’s face it. Pretty boys may be the next big thing. So, if you want to wow that Korean loving girl you have a crush on, forget weightlifting! Put on fake eyelashes, draw your eyebrows, apply some BB Cream, wear pink lipstick, and perhaps … wear a skirt?

Saranghaeyo! Reinard Caesar Layadi. Duh!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *