

Cuaca hari ini cukup bagus bagi seseorang yang ingin menikmati liburan. Angin sepoi-sepoi yang berhembus dibarengi panas terik yang membakar kulit. Tunggu dulu, bukankah itu kurang bagus?
Itu cuma bagus bagi orang-orang yang mau membakar kulitnya sendiri. Ah, tapi sudahlah, itu tidak penting karena bagaimana pun, aku tetap tak dapat libur dari pekerjaanku. Aku berhenti sebentar di warung bakso untuk beristirahat, sekaligus mengisi perutku.
Pekerjaanku saat ini adalah sebagai wartawan di Online.com. Media tersebut merupakan satu diantara media terbesar di Indonesia dan juga salah satu media paling populer di internet. Memiliki pengikut hingga ratusan ribu, kualitas media ini tidak bisa lagi diragukan. Fokus utama media ini adalah publikasi berita online yang bersifat hukum dan kriminalitas.
Berfokus pada bidang-bidang sensitif seperti inilah, media kami sudah beberapa kali didatangi oleh paket-paket dari daerah yang entah dari mana asalnya, nama pengirim juga tidak jelas. Isinya? kadang bangkai tikus, kadang kepala kerbau yang sudah lama, bahkan kami pernah dikirimi kepala babi yang sudah busuk. Mengerikan, bukan?
Banyaknya hal-hal mengerikan seperti ini membuat banyak wartawan mengundurkan diri. Ada yang diancam oleh nomor tidak dikenal, tidak sanggup secara mental, bahkan diberi teror hingga mereka resign.
Namun aku tetap ada di sini untuk mendirikan kebenaran. Itu bohong, alasan sebenarnya adalah lapangan pekerjaan yang kian menyusut. Kalau aku resign, maka ke mana lagi aku harus mencari pekerjaan?
Jika tidak ada pekerjaan, maka aku tidak bisa makan, karena itulah aku bertahan.
Dalam kehidupan sehari-hariku sebagai wartawan, biasanya aku menulis menggunakan ponsel. Bukan karena tidak punya laptop, tapi karena ponsel itu menurutku lebih praktis dan bisa dibawa ke mana saja.
“Eh ada Miko di sini, kebetulan. Sedang apa kau di sini?” orang yang tiba-tiba muncul ini adalah Bang Ridwan, 22 tahun dan juga bekerja sebagai wartawan, dia adalah seniorku di Online.com. sepertinya, dia sedang melakukan peliputan di sekitar sini.
“Oh, siang juga Bang Ridwan. Lagi istirahat makan siang. Abang sendiri bagaimana, hari ini liputan apa?” tanyaku kepada wartawan senior ini.
“Agak sulit. Hari ini aku bahkan belum dapat satu pun berita. Sepertinya besok aku harus kerja ekstra dua kali lipat nih buat memenuhi tuntutan,” ucapnya pelan.
Ya, begitulah jika profesimu adalah wartawan. Setiap harinya kau harus bisa meliput minimal 2 berita perhari, atau kau akan kerja dengan standar dua kali lipat.
“Aku tidak bisa santai-santai terus, kalau begini aku akan benar-benar bekerja dua kali lipat besok. Sampai jumpa ya Miko, aku tunggu kau di kantor, jika berita yang kudapat sudah dua,” katanya.
Kemudian dengan motor matic-nya yang sederhana, dia pergi menyusuri jalan aspal ini untuk mencari kasus-kasus di sekitar.
Beritaku juga saat ini masih kurang satu. Jadi setelah makan bakso, aku langsung mengendarai motorku lagi, dan pergi mencari satu berita menarik untuk ditulis lagi.
Aku menyusuri jalan perlahan-lahan, menikmati setiap angin yang ada, dan kebetulan aku sedang lewat di tepi sungai, jadi kelembutan angin sepoi-sepoi bisa kurasakan di sini.
“Tolong! Ada mayat di dekat sini!”
Aku mendengar ada seseorang yang berteriak, lalu segera berkendara menuju sumber suara.
“Tolong! Tolong!” Suara itu muncul berkali-kali. Dengan kecepatan berkendaraku yang biasa-biasa saja, aku akhirnya sampai ke lokasi munculnya suara tersebut. Lokasinya berada di kontrakan khusus laki-laki. Dan yang berteriak tadi, sepertinya pemilik kontrakan ini.
Dari parkiran aku melihat, sudah banyak kerumunan di dekat kamar kontrakan tersebut. Bahkan beberapa petugas keamanan sudah datang bersama dengan satu orang detektif yang terlihat sedang melakukan investigasi di luar kontrakan.
Aku turun dari motor, melepas helm dan menaiki tangga menghampiri detektif yang sedang melakukan investigasi.
“Selamat siang Pak, saya dari Online.com ingin bertanya beberapa hal, ini ada kejadian apa ya hingga jadi ramai seperti ini?” aku memperlihatkan kartu identitas online.com padanya.
Setelah melihat kartu identitasku, dia pun mulai menceritakan kejadian yang sedang diselidiki hari ini.
“Kami mendapat kabar bahwa di sekitar ini ada kasus pembunuhan. Setelah mendengar kabar, kami langsung bergegas menuju ke sini, dan ternyata memang ada, namun pembunuhan ini terlihat janggal, karena di leher korban ada bekas lebam merah. Kami menduga itu bekas ikatan,” ucap detektif tersebut sambil menatap kamera yang kugunakan untuk merekam.
“Lalu sekarang mayatnya ada di mana Pak?” tanyaku tergesa-gesa sambil masih berusaha sopan.
“Untuk saat ini mayatnya sudah kami bawa ke bagian forensik untuk diautopsi. Semoga saja setelah diautopsi bisa ditemukan petunjuk. Kemudian untuk identitas korban sepertinya masih mahasiwa yang berumur 20 tahun,” balasnya.
Ketika aku sedang sibuk mewawancarai detektif ini, detektif tersebut dipanggil oleh petugas yang lain agar segera kembali ke kantor untuk melihat hasil autopsi.
“Maaf ya, saya sedang banyak urusan. Mungkin saat ini cuma itu yang bisa saya katakan, kalau kamu mau mengikuti perkembangan kasus ini, besok datang saja, karena penyelidikan ini mungkin akan memakan waktu beberapa hari, mengingat ini sepertinya adalah kasus pembunuhan, terima kasih.”
Detektif itu berjalan dan menaiki mobil.
Sekitar 10 menit setelah tim kepolisian pergi, beberapa wartawan terlihat baru datang yang sepertinya juga bertujuan menyelidiki kasus pembunuhan ini, kemudian satu diantaranya menghampiriku.
“Mana petugasnya?”
“Kalian terlambat. 10 menit yang lalu, petugasnya baru saja kembali ke kantor untuk memeriksa korban yang sedang diautopsi,” jelasku kepada mereka yang menghampiri.
Lalu kerumunan yang ada di lantai 2 tadi juga perlahan-lahan mengurang. Aku coba naik ke atas untuk melihat situasinya. Area ini sudah dibatasi oleh tim kepolisian dengan pembatas warna kuning yang tertulis “dilarang lewat.” Namun dari luar, aku melihat jika dinding luar kamar tersebut ada bekas telapak tangan yang sepertinya ini milik pelaku.
Aku memutuskan untuk menyelidiki kasus ini lebih dalam, jadi aku masuk ke sekolah tersebut untuk mencari informasi.
“Aku ingin menyelidiki lebih lan … ”
Saat aku melihat ke belakang, sepertinya semua wartawan tadi sudah pergi. Yah wajar saja, jika tidak ada petugas untuk apa mereka datang ke sini, berbeda jika mereka sudah mendapatkan wawancara sepertiku.
Aku terus berjalan menyusuri lorong kontrakan ini yang terlihat sangat gelap, lalu bertanya kepada salah satu penghuni kontrakan.
“Permisi, pemilik kontrakan ini berada di mana ya? Saya mau bertanya beberapa hal penting,” tanyaku kepada salah satu penghuni yang sedang berada di luar.
Ia menatapku seolah tak senang, bahkan memberikan senyum sinis sambil melihat kartu identitas yang tergantung di leherku.
“Online.com? Cari saja dia sendiri, di ruangan pemilik kos yang ada di depan sana, kau pasti menemukannya,” ucap orang itu sambil menunjuk ke ujung lorong yang terlihat jauh, lalu dia pergi begitu saja.
Kemudian diriku mulai menyusuri lorong dan perlahan-lahan, jarak antara diriku dengan ruang tersebut semakin mendekat. Namun, di lorong ini sekilas, aku merasakan ada sesuatu yang aneh. Seperti ada yang merekamku dari sisi manapun, namun saat kulihat ke sekeliling, tidak ada siapa pun.
“Sudahlah, mungkin hanya perasaanku saja,” pikir batinku.
Lalu aku akhirnya sampai. Papan nama di atas pintu ini tertulis “ruangan pemilik kos,” lalu di sebelah pintu ada sebuah kertas kecil seukuran A4 yang tertulis “Jika sedang butuh bantuan harap hubungi saya.”
Namun ruangan itu terlihat mengerikan.
Tangan kananku berada pada gagang pintu, kubuka perlahan-lahan pintu tersebut. Entah, aku kurang suka dengan atmosfer yang ada di ruangan ini. Ruangannya gelap, saat kucoba menekan sakelar lampu, ternyata tak berfungsi.
“Apa benar pemilik kontrakan itu tinggal di sini? Jika iya, kenapa kondisinya seperti terbengkalai beberapa tahun. Jika tidak, kenapa orang tadi mengarahkanku ke ruangan ini.”
Rasa kebingungan mulai menghantuiku, berkali-kali.
Cekrek!
Sekilas aku mendengar suara jepretan foto di sudut yang gelap itu, namun saat aku menghidupkan senter pada ponselku, tidak terlihat apapun di sana.
Aku melihat sekeliling, lalu coba membuka jendela agar lebih terang. Namun jendela ini rusak, dan karena bahannya papan semua dan tidak menggunakan kaca sama sekali, jadi tidak bisa memantulkan cahaya dari luar.
“Sungguh ruangan yang aneh. Sepertinya orang tadi tidak menyukaiku, jadi dia mengarahkanku ke ruangan kosong menyeramkan begini, agar aku ketakutan dan pergi dari kontrakan ini.” aku bergumam pelan.
Aku akhirnya memutuskan keluar dari ruangan aneh itu. Baru saja melangkah keluar sebanyak lima kali, aku sudah bertemu dengan orang lain.
“Permisi, saya mau bertanya. Apakah benar ini ruang khusus pemilik kontrakan?” tanyaku kepada orang itu.
“Memang benar ini ruangannya, tapi ini ruangan pemilik kontrakan 15 tahun yang lalu. Ruang pemilik kontrakan yang baru, sekarang ada di dekat musala, Pak. Belok kiri dari sini, Bapak turun ke bawah, nanti ketemu kok,” jawab siswa tersebut.
”Begitu ya, terima kasih informasinya ya,” aku segera menyusuri lagi jalan selanjutnya.
Namun sesampainya di sana, ruangan itu malah terkunci. Aku mulai tidak mengerti dengan situasi ini, apakah mereka berniat menghindari para media, sepertinya untuk mencari informasi tambahan di kontrakan ini benar-benar sulit.
Aku coba alternatif lain, yaitu memanggil beberapa penunggu kontrakan yang sedang ada di lokasi, namun tidak ada yang menanggapi panggilan dan ketukan pintuku.
“Sudahlah, kalau begitu aku memakai informasi dari detektif tadi saja. Ingin mewawancarai penghuni kontrakan malah tidak direspons. Pemilik kontrakannya juga gak ada di tempat,”
Akhirnya aku memutuskan keluar dari kontrakan tersebut. Di gerbang masuknya, kulihat tidak ada lagi satpam di sini, padahal tadi ada.
Apalagi kontrakan ini terlihat cukup besar, jadi tentu butuh seorang satpam, tapi ke mana dia sekarang?
“Mungkin dia sakit, jadi izin pulang,” gumamku pelan.
*
Malam harinya, berita tentang kasus pembunuhan liputanku itu terbit. Harusnya aku senang. Tapi, kenapa sekarang aku malah gelisah?
Rasanya di luar kontrakan ada yang bersiap untuk mengambil kepalaku kapan saja.
“Ah sudahlah, mungkin itu hanya ketakutan tak berdasar, sebaiknya kulupakan dan tidur. Firasat kadang bisa salah,” pikirku, lalu menarik selimutku yang bergambar klub MU dan memejamkan kedua mataku.
Pagi hari pun tiba, cuaca tidak secerah kemarin. Awan terlihat mendung, gerimis sudah mulai berjatuhan, bahkan matahari yang biasanya membawa semangat pagi, kali ini sedikit pun keberadaannya tidak bisa dilihat.
Aku segera mandi untuk bersiap-siap melakukan peliputan, dan sepertinya pagi ini aku akan ke kontrakan itu lagi. Setelah semuanya selesai, dengan motor matic yang kumiliki, aku menembus angin menuju sekolah tersebut.
Sesampainya di sana, aku langsung minta izin satpam dan masuk.
“Sepertinya hari ini lebih ramai dari kemarin,” gumamku sendiri.
Lalu aku bergabung dengan para wartawan yang ada, kami melihat proses penyelidikan dari jauh. Kami melihat detektif yang menginterogasi terduga satu per satu di tempat kejadian, lalu beberapa penghuni serta pemilik kontrakan ini. Dari sini, kami tak bisa mendengar jelas apa yang mereka bicarakan, karena ada batas media yang ditentukan oleh pihak kepolisian.
Tunggu dulu. Penghuni kontrakan? Pemilik? Kemarin saat kucari tak ada satu pun yang terlihat. Namun kenapa sekarang malah bermunculan? Ini adalah keanehan!
Beberapa orang yang ada di sana, sepertinya sudah selesai diperiksa. Selanjutnya, detektif itu terlihat menelusuri kontrakan ini lebih dalam.
Petugas kepolisian pun mengarahkan kami untuk mengikuti detektif tersebut, namun tidak boleh melewati batas yang ditentukan oleh petugas itu, mungkin kau akan di-dor saat itu juga kalau menerobos.
Kemudian kami melihat, sang detektif masuk pada satu kamar, kami tak diizinkan untuk masuk ke dalam sana, jadi diminta untuk menunggu di luar. Sudah sekitar sepuluh menit, tapi tanda-tanda detektif itu akan ke luar masih belum terlihat jelas.
Ketika otak dan pikiranku mengeluh tentang betapa membosankannya menunggu, akhirnya detektif itu keluar dengan membawa satu mahasiswa yang telah diborgol, serta mukanya ditutupi oleh jubah panjang nan tebal, sehingga rupa dan wajahnya tidak bisa dikenali.
“Pelakunya telah ditemukan?”
Saat itu juga, pelajar tersebut dibawa masuk ke dalam mobil petugas, lalu mobil itu melaju lebih dulu. Sedangkan petugas detektif mulai berjalan mendekat untuk memberikan keterangan pada kami.
“Mohon maaf, pelaku masih di bawah umur, jadi kami menutup wajah dan juga identitasnya untuk sementara waktu. Para media, telah ditemukan sebuah pisau di dalam tas pelaku, pisau ini memperjelas bekas tusukan di tubuh korban. Lalu sidik jari yang kami dapatkan di kerah seragam milik korban juga sesuai dengan sidik jari terduga pelaku, jadi saat ini kami amankan dia untuk pemeriksaan lebih lanjut. Kemudian tali tambang 10 meter juga kami temukan di kamar pelaku yang makin memperjelas semuanya. Inisial adalah A, 15 tahun. Motifnya untuk sementara diduga karena korban tak mengizinkan terduga pelaku untuk meminjam kendaraan karena khawatir pelaku akan merusaknya, jadi ia melakukan aksinya pada saat korban sedang tidur siang di kamar kontrakannya. Dan korban tersebut setelah kami identifikasi, ternyata dia adalah saudara korban,” ungkap detektif tersebut.
“Kalau tak ada lagi yang ditanyakan, saya pamit,”
Malamnya, berita tersebut diterbitkan oleh tim redaksi. Lalu satu jam setelah berita itu diterbitkan, kabarnya meledak, viral, bahkan dibahas oleh berbagai macam konten kreator terkenal di media sosial.
“Gila, efeknya memang segila itu ya kasus ini?” gumaku
Aku bersandar di atas tempat tidurku, ditemani secangkir kopi panas dan laptopku yang sama panasnya.
Kring, kring, kring.
Tiba-tiba ponselku berbunyi, di dalam sana terlihat nomor acak dengan keterangan yang tertulis “nomor tak dikenal.” Siapa yang meneleponku malam-malam seperti ini?
Kucoba untuk mengangkat telepon itu.
“Halo, siapa ini?”
Namun sepuluh detik berlalu, tak ada balasan lagi setelah itu.
“Terima kasih karena telah menyalahkan kambing hitamku atas kasus ini.”
“Hah? Apa maks—”
Dor, dor, dor.
Aku mendengar 3 suara tembakan yang memecahkan kaca jendelaku berkeping-keping, dan salah satu peluru itu melaju dan bersarang di dalam jantungku.
“Sni—per?”
Sebelum kesadaranku menghilang, aku sempat melihat ada seorang laki-laki berbadan kekar dan berseragam cokelat mendobrak pintu kontrakanku, lalu menginjak punggungku yang tak lagi memiliki kekuatan untuk melawan
“Aku … ma … ti?”
“Berita hari ini. Seorang wartawan yang berasal dari Online.com pagi tadi ditemukan tewas. Wartawan itu ditemukan dengan kondisi pintu kontrakan yang sudah lepas, serta kaca jendela yang pecah berkeping-keping. Penyebab kematian belum diketahui pasti, namun dugaan awal dari tim kepolisian yaitu korban ditembak dan oleh teroris yang sedang berada di pusat kota. Dugaan ini muncul karena di jantung korban ditemukan sebuah peluru sniper yang sepertinya sudah bersarang semalaman penuh.”
Begitulah tayangan berita televisi yang muncul pada siang hari itu. Bersamaan dengan kabar duka tersebut, berita mengenai kasus pembunuhan sebelumnya pun dilupakan oleh masyarakat, dan mereka beralih pada berita pembunuhan wartawan ini.
Di sebuah ruang tamu, terlihat seseorang berseragam cokelat sedang duduk di atas sofa sambil menonton televisi dan makan buah-buahan, seolah merayakan kemenangan yang memang sudah seharusnya ia dapatkan.
“Selanjutnya, kalian akan mengorbankan siapa lagi, Online.com?
Lahir di Desa Lopak Aur, Provinsi Jambi pada tahun 2004. Mahasiswa semester 6 prodi Sastra Indonesia. Menyukai dunia kepenulisan sejak 2 SMA. Waktu Covid, memilih untuk mengembangkan hobi menulis di tengah banyak waktu luang.
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!