

Dara mengusap lehernya yang terasa kaku, mungkin akibat posisi tidur yang salah selama operasi. Di samping ranjang, suaminya tersentak bangun dengan wajah kuyu, sementara ibunya segera berdiri, menghalangi pandangan Dara ke arah pintu keluar.
“Mas … Bu …” suara Dara parau, “Mana bayiku?”
Suaminya terdiam, jemarinya saling bertaut dengan gelisah. Ia tidak berani mendekat ke arah ranjang, hanya berdiri di dekat jendela seperti sedang jaga jarak. Sementara ibunya dengan sigap merapikan kancing kerah baju rumah sakit Dara hingga tertutup rapat, menyembunyikan garis merah halus yang mulai melingkar di sana.
“Bayimu … sedang diobservasi di ruang isolasi, Nak. Katanya ada sedikit gangguan pernapasan,” jawab ibunya pelan, suaranya bergetar meski ia berusaha tersenyum.
“Tapi aku ingin melihatnya, Bu. Aku ingin menyusuinya,” desak Dara.
Saat ia mencoba bangkit, rasa haus yang amat sangat membakar kerongkongannya, rasa haus yang anehnya membuat ia merasa sangat bertenaga sekaligus buas.
Ia tidak menyadari bahwa di balik pintu kamar, seorang perawat sedang membawa pergi boks bayinya jauh ke bangsal lain, atas perintah rahasia ibunya.
Dara menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong. Dalam pikirannya hanya ada satu gambaran, wajah mungil anaknya yang bahkan belum sempat ia sentuh. Ia membayangkan kehangatan kulit bayi itu dan aroma khas bayi baru lahir yang seharusnya kini ada dalam dekapannya. Baginya, segala peringatan dokter hanyalah penghalang yang sengaja diciptakan untuk memisahkan seorang ibu dari belahan jiwanya!
“Aku tidak butuh penjelasan lagi!” seru Dara saat seorang perawat masuk untuk mengganti infusnya.
Perawat itu hanya menunduk, menghindari kontak mata.
“Mohon maaf, Ibu Dara. Bayi Anda lahir prematur dan fungsi paru-parunya belum sempurna. Prosedur rumah sakit mewajibkan ia berada di dalam inkubator dengan pengawasan intensif 24 jam. Anda belum diizinkan masuk ke ruang isolasi.”
Dara mengepalkan tangannya. Penjelasan itu seperti hafalan yang dipaksakan.
“Sabar, Nak,” bisik ibunya sambil mengusap rambut Dara, namun tangannya gemetar.
Suaminya, yang masih berdiri di dekat jendela, menyahut dengan suara rendah, “Ini demi keselamatan bayimu Dara, dan demi keselamatanmu juga. Tubuhmu masih lemah setelah operasi. Kalau kamu nekat ke sana, semuanya bisa berantakan.”
Malam kian larut, menyisakan sunyi yang menekan di sudut bangsal. Suami dan ibunya telah lama terlelap, namun indra Dara justru terjaga oleh sesuatu yang ganjil. Aroma anyir darah segar tiba-tiba menyengat penciumannya, mengalir pekat dari celah pintu ruang bayi. Tanpa ragu, ia mencabut jarum infus dari tangannya.
Dengan langkah seringan kapas, ia melintasi kegelapan, mengabaikan pantulan wajahnya di cermin yang tampak asing dengan mata yang berpijar tajam serta pola ganjil yang mulai muncul di bawah rahangnya. Baginya, hanya ada satu tujuan: menyelamatkan sang buah hati.
Di ujung lorong yang remang, langkahnya tertahan oleh pemandangan yang memuakkan. Di balik dispenser, ia melihat suaminya yang ia kira masih tidur, kini berdiri bersama ibunya dan sang dokter. Mereka berbicara dengan nada yang sangat rendah.
“Kita harus hilangkan jejaknya malam ini juga, Dok,” bisik suaminya dengan nada dingin yang belum pernah Dara dengar sebelumnya. “Jangan sampai ada satu orang pun yang tahu bayi itu pernah ada di sini. Hapus semua datanya dari sistem rumah sakit.”
Dokter itu mengangguk sambil memegang sebuah tas hitam kedap udara. “Sudah saya siapkan. Begitu kita pindahkan ke mobil jenazah di belakang, semua catatan kelahirannya akan saya musnahkan. Di mata hukum dan publik, bayi ini tidak pernah lahir.”
Ibunya menggenggam tangan suami Dara dengan erat, wajahnya tampak keras tanpa belas kasihan. “Benar. Ini cara terbaik agar aib ini tidak tercium siapa pun. Kita buat seolah-olah Dara mengalami keguguran di rumah sebelum sampai ke sini. Hilangkan dia tanpa sisa.”
Kalian bajingan! Amarah Dara mendidih hingga ke tulang sumsumnya. Kalian ingin menghapus jejak anakku? Kalian ingin berpura-pura seolah dia tidak pernah ada hanya demi menutupi rasa malu?!
Dara menunggu sampai mereka masuk ke ruang ganti staf. Dengan gerakan secepat bayangan, ia menyelinap masuk melalui pintu samping NICU yang tidak terkunci sempurna. Pikirannya hanya satu: ia harus mengambil bayinya sekarang juga dan membawanya lari sebelum mereka kembali untuk “menghilangkan jejak” darah dagingnya.
Dara menghampiri inkubator nomor empat, di mana anaknya sedang tertidur lelap di sana. Jemarinya tiba-tiba kaku dan dingin, dengan kuku-kuku yang mulai memanjang, menghitam, dan setajam silet saat ia mencongkel paksa pengunci kaca itu. Tepat saat ia hendak merengkuh bayinya, sebuah sensasi mengerikan menghantam tubuhnya. Gravitasi seolah lenyap, dan suara robekan daging yang halus terdengar bersama bunyi plop yang memuakkan.
Dara terpaku saat melihat ke bawah; tubuhnya yang berbalut daster masih berdiri tegak di depan inkubator, namun tanpa kepala. Kini, kepalanya melayang di udara, menyeret untaian jantung, paru-paru, dan usus yang berdenyut merah dan mengeluarkan uap panas. Segala memori tentang kasih sayang seketika sirna, digantikan oleh rasa lapar yang buas dan haus darah yang tak tertahankan. Di bawah pendar lampu rumah sakit, Dara telah sepenuhnya menjadi Kuyang.
Lampu NICU mendadak menyala, membedah kegelapan dengan cahaya yang menyakitkan mata. Suami, ibu, dan dokter itu menghambur masuk, namun bukan tas hitam yang mereka bawa, melainkan gulungan kain rajah dan duri pohon jeruk.
“Dara! Hentikan!” teriak suaminya, wajahnya hancur oleh kengerian. “Kami ingin ‘menghilangkan jejak’ kelahirannya agar para pemburu kuyang tidak menemukanmu! Kami ingin menghapus datanya agar kalian berdua bisa hidup tenang di tempat jauh tanpa dikejar warga yang tahu kutukanmu!”
Namun, segalanya sudah terlambat, dalam kegelapan yang kembali mencekam, insting lapar Dara mengambil alih sepenuhnya. Sebelum suaminya sempat membentangkan kain rajah itu, kepala terbang itu menyambar ke dalam inkubator yang hancur berantakan. Suara kaca pecah beradu dengan isakan terakhir bayi itu yang langsung hilang ditelan kesunyian yang mengerikan.
Suami Dara tersungkur, meraung dengan suara yang pecah melihat istrinya sendiri sedang mengoyak darah daging mereka. Ibunya jatuh pingsan di ambang pintu, sementara sang dokter mematung dengan tatapan kosong, menyaksikan tragedi paling biadab yang pernah ada.
Tak lama kemudian, kepala itu terbang kembali, menghunjam ke atas leher yang menganga dengan bunyi klik yang menjijikkan. Saat lehernya tersambung kembali, Dara jatuh terduduk dalam wujud manusia utuh. Namun, daster putih yang ia kenakan kini banjir oleh warna merah pekat yang masih hangat dan beruap.
Kesadaran Dara kembali tepat saat ia merasakan dinginnya daging yang ia pangku. Ia menunduk, menatap potongan kecil tubuh tak bernyawa yang kini hancur di pelukannya. Air mata darah mengalir deras, membasahi sisa-sisa buah hatinya yang tewas di tangannya sendiri. Upaya keluarganya untuk menjaga rahasia gelap itu berakhir dengan tragedi yang paling mengerikan: sang bayi binasa oleh sosok yang paling ingin dilindungi, oleh ibunya sendiri yang kini telah berubah.
Dari Kabupaten Tangerang. Suka mempublikasikan karya di platform menulis online untuk mengasah kemampuan bercerita.
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!