

pagi sampai siang ini.
kita saksikan langit
meminjam-memakai wajah
matahari yang terik-mentereng
tuk memajangkannya
di hadapan seluruh
manusia di muka bumi.
seolah ia ingin mengatakan
sesuatu kepada kita semua:
bahwa sinar dan cerahnya
adalah bahagia dan senyum.
lihatlah,
aku, sinar!
lihatlah!
ini cerahku.
meski kutahu, pasti langit
tak kuasa membendung
terangnya hingga petang.
aku tak berbohong,
kutingkap jendela rumahku
petang ini: langit melengos
di hadapan seluruh manusia
di muka bumi. kusaksikan
langit melepas wajah matahari
yang dipinjamnya.
kulihat wajah aslinya:
kelabu dan rintik tersedu-sedu.
Jakarta, 2026
ada hari-hari di mana
aku benci mencintai
yaitu kau dan jumat:
untuk membenci kau
dan jumat, kemudian rabu
dan diriku sendiri.
ada hari-hari di mana
aku cinta membenci
yaitu setiap hari-hari:
untuk mencintai kau
dan jumat, kemudian rabu
dan diriku sendiri.
ada benci-benci di mana
hari-hari menjadi cinta-
cinta yaitu kau dan jumat.
untuk rabu dan diriku sendiri;
jumat dan dirimu sendiri.
Jakarta, 2026
kadang-kadang aku bingung
mengapa dan kapan waktu
membenci kau, lalu bagaimana
mencintai kau.
walau jelas kau tolak
bagaimana mencintai aku.
meski aku selalu mengapa
dan kapan mencintai kau.
harapku selalu, kau tidak berpikir
mengapa juga dan lalu katakan saja:
kapan-kapan, bagaimana?
tapi aku akan selalu membenci
kapan-kapan waktu itu.
mungkinkah sampai aku lupa
bagaimana aku mencintai kau.
sampai kau lupa
kapan dan mengapa
aku membenci kau.
kutegaskan sekali lagi:
aku
benci.
kapan,
mengapa,
bagaimana:
kau dan aku
Jakarta, 2026
waktu itu. ketika ia
menyatakan cinta
kepada kau,
sebenarnya kau
membunuhnya.
meninggalkan mayatnya
yang dikerumuni lalat-lalat,
dan beraroma bangkai,
sendirian.
dan waktu itu. kala ia
sedang kritis-sekarat,
sebelum menghembuskan
napas terakhirnya; sebelum
maut menjemputnya secara
tidak terhormat.
ia berjanji.
mengutukmu.
setiap saat.
mengentayangimu.
hingga kau ketakutan.
sampai kau mati.
sampai kau mati
atas nama
ketakutanmu.
Jakarta, 2026
tolong, aku butuh bantuanmu!
tidak ada lagi tempat atau ruang.
untukku sembunyi lagi.
sebab telah kucari-cari
hasilnya tetap begitu-begini:
di dalam bising
aku sunyi;
di dalam sunyi
aku bising.
jadi.
tidak ada tempat atau ruang
di antara keduanya.
aku menepi atau pulang.
tidak aku kenal di tempat-tempat selain itu,
aku berlari entah ke arah yang mana saja.
terpenting menepi atau pulang.
Jakarta, 2026
maaf jika puisiku seperti anak sekolah dasar yang mabuk kendaraan
sedang study tour, lalu muntah di rest area, kemudian merasa lega dan entengan.
sebab karena itulah seseorang mencipta puisi. ia balon telah atau lekas meledak:
gila, putus asa, patah hati, atau sesuatu yang membahayakan hidupnya.
tapi,
siapa peduli?
tapi,
siapa yang peduli?
tapi,
siapa peduli?
Jakarta, 2026
Seorang pemuda acak biasa asal Jakarta yang menasbihkan waktunya untuk studi di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah dan membaca karya sastra.
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!