Pelajaran Menggambar

Hari ini adalah hari terakhir pemberian nilai hasil karya anak-anak sekolah. Sebenarnya ini bukan mata pelajaran favorit Azka. Ia tidak akan mengeluarkan senyum puas kala pensil warnanya ia letakkan lalu diberikan kepada gurunya. Bukan hanya Azka yang berpikir seperti itu. Gurunya juga demikian kalau harus menilai gambar milik Azka. Kertasnya hanyalah wadah bagi dua gunung dengan sawah-sawah terbentang di bawah mega-mega. Azka hanya mengubah warna langit dan bentuknya, tergantung alam gunung di belakang rumahnya.

Selama ini Azka memotret gunung di belakang rumahnya dengan gambar.

Hari ini pelajaran yang sama akan dimulai. Azka mulai mencabik-cabik isi otaknya untuk memulai sekilas bentuk gunung hari ini. Namun, karena tirai embun di belakang rumah masih saja enggan untuk terbuka, gunung terlihat kabur dan perlahan lenyap. Seharusnya Azka mengambil ingatan wajah gunung kemarin. Namun, Azka tidak ingin mengingat waktu yang sudah mati.

Pintu rumah yang menempel dengan lantai itu berdecit. Decitnya menembus pintu belakang rumah tempat Azka berada di baliknya. Azka berbalik arah dan melesat ke ruang tengah. Ia melihat seorang wanita yang sedang meneguk obat yang sama. Ia melempar tas gambar centang ke sofa dan matanya tiba-tiba menutup sepenuhnya. Azka sudah biasa melihat wanita itu pulang dan melempar tas. Namun, hari ini terasa berbeda. Wanita itu tidak memakai dalaman dan pakaiannya sedikit terbuka.

Itulah kenapa menu gambar Azka hari ini adalah sawah yang kabur dengan gunung terbalik. Gunung ungu itu seperti memiliki ujung lancip yang sedikit menonjol.

“Bu, Ayah kapan pulang sih?”

“Ya gak tahu. Gak usah dipedulikan. Dia kerja di luar kota sana.”

“Aku kalau nyusul bagaimana? Mau minta uang jajan.”

“Kalau minta uang jajan kan bisa ke Ibuk dong! Mau kamu dibunuh tentara? Kepalamu dibelah pakai martil mau?”

“Kira-kira Ayah pulang gak ya?”

“Gak! Gak mungkin pulang! Kalau pulang udah Ibuk usir dia. Kamu nggak usah hidup dengan ayah. Kamu masuk kamar sana!” wanita itu menenggak lagi pil yang sama.

Walau gunung berdiri di samping jendela kamar, sawah-sawahnya masih saja membentang sejauh angin mau berjalan. Terkadang beberapa lele meloncat dan menggelepar di atas tanah menunggu kematian. Biasanya ada anak yang akan berebut hingga saling memaki memperebutkan lele.

Jalanan itu mati. Mitos hantu penculik anak telah menjadi racun di pintu-pintu rumah.

Azka kembali bersama halaman belakang, tempat ia melihat ratusan truk tentara menaiki gunung. Truk itu loreng-loreng, namun hijaunya bercampur dengan merah. Tiba-tiba, dari satu truk ada satu manusia tanpa tangan melompat dan ia jatuh ke sungai. Perlahan arus sungai membawa merah darah yang dengan cepat mewarnai sawah itu.

Di depan Azka juga perlahan menggelinding sepasang bola mata.

“Baiklah anak-anak, pelajaran menggambar hari ini masih seperti sedia kala. Terserah mau gambar apa. Azka, gambarnya harus beda. Boleh gambar gunung, tapi harus beda gunungnya. Terserah mau gunung di bulan atau planet lain, terserah, yang penting beda. Terus juga anak-anak, kalian nanti menggambar lagi, tapi di rumah. Minggu depan dikasih ke Ibu.”

Guru itu berkeliling sebentar memandang setiap tari tangan muridnya yang perlahan membentuk garis, titik, dan garis lagi. Perlahan murid-murid itu mengubah cara gambar mereka. Warna yang biasanya berasal dari serutan pensil warna, kini menjadi warna cair yang menempel pada untaian bulu yang menggaris di sebuah alas beralaskan kayu.

Azka seperti manusia purba yang menggunakan pensil warna hingga pensil itu seukuran dengan jari telunjuknya.

Guru itu keluar sebentar hanya untuk melihat embun masih berkeliaran, mengusap jendela yang hampir pecah. Beberapa tembok juga seperti dimakan tikus, namun setelah diintip, ada proyektil yang pecah. Guru itu masuk kantor dan menekan tombol radio. Beberapa berita memberitakan pembantaian yang sedang marak terjadi. Beberapa petani ditemukan dengan tubuh yang tidak lengkap, tanpa tangan juga tanpa kepala. Bahkan, berita terbaru ditemukan petani dengan kulit kelamin sobek. Guru itu sedikit menangis mengingat ayahnya yang tak kunjung pulang dari balai desa.

Puluhan nama orang hilang diumbar dan angka ribuan petani yang tak lagi lengkap badannya juga disiarkan. Tiba-tiba, ada anak di mulut kantor yang menunjuk ruang kelasnya. Guru itu segera bangun dan menyiapkan pulpen, siap untuk memberi angka.

Kelas hanya dipenuhi tawa di setiap sudutnya. Hanya satu sudut yang terus saja memandang hutan-hutan yang sejak tadi dipenuhi galian lubang dan pohon pisang.

Satu per satu para murid bergilir meletakkan gambar di meja dan langsung diberi label angka. Ada yang menggambar wajah orang tuanya, burung beo, Bung Karno, Pancasila, dan gunung yang seperti meledak. Azka mengulurkan gambar gunung itu dengan tersenyum.

Guru itu memberikan mata lebih ke gunungnya. Pada gunung itu tak terlihat hamparan hijau, semuanya merah. Mungkin gunung itu memabukkan laharnya. Namun, di ujung gunung itu tidak ada retakan atau apa pun. Anehnya, ada beberapa mobil tentara yang turun dari gunung. 

Guru itu akhirnya sadar akan sesuatu.

“Ini kok sawahnya banyak bola mata? Ini tangan juga apa nih? Ada kepala bayi juga.”

Azka seperti berdua dengan gunung itu. Kala itu, bulan lahir di sela-sela gunung yang masih saja memerah. Sinar bulan menetralkan warna gunung yang semakin menyebar ke segala arah, memperjelas beberapa bola mata yang semakin menggelinding di sela-sela padi. Terkadang kawanan camar berebut mata, adil juga membelahnya.

“Heh Azka!” Azka berbalik membelah embun yang tergambar wajah ibunya.

“Sini ikut Ibu ke tempat kerja.”

“Lah, tapi Azka ngantuk. Azka juga takut.”

“Makanya biar kamu nggak takut mending ikut Ibuk. Kamu mau diculik tentara? Tangan kamu kayak di sawah itu mau?”

Azka tiba-tiba sudah berada di belakang ibunya yang mengayuh sepeda. Ibunya meluncur di antara sawah dan tentara yang bersenjata lengkap. Awalnya ibunya akan ditangkap. Namun, karena tentara itu tahu Ibu Azka, mereka bebas lewat.

Merah gunung itu semakin jelas dari mana pun mereka memandang. Beberapa rumput sepenuhnya merah, terutama ketika mereka melewati kebun-kebun pisang. Di sana merahnya semakin tidak terkendali. Beberapa pohon juga terjulur tangan, jari-jari, tangan tanpa jari-jari, juga kepala bayi.

Ibunya berhenti di sebuah perkemahan. Itu, setidaknya, yang Azka pikirkan. Beberapa teman ibunya menunggu di depan kemah, juga beberapa sudah selesai bekerja dan meluncur dari puncak.

“Ka, kamu bebas mau ke mana, pokoknya jangan ke hutan. Kalau mau tidur masuk aja ke tenda Ibu di pojok sana.”

Azka seperti satu-satunya anak di perkemahan itu. Ia melirik segala arah seperti hanya merah, termasuk loreng-loreng di baju para tentara yang bersiaga.

Seorang tentara menghampiri Azka dan memberikannya permen.

“Buat kau Dek. Makanlah ya. Ibu kau biarlah bekerja. Itu ada batang kayu, kau mau duduk di sana ya, masuk ke tenda juga boleh. Terserah kau.”

Azka menganggap bahwa bising hutan dan gunung adalah auman serigala atau pekik burung hantu. Ternyata, bising terkecil adalah pohon-pohon pinus yang menghindari angin dari timur. Bising terbesarnya adalah dentuman bom dan tembakan di sela-sela hutan.

Bising terbaik adalah dari tenda-tenda ini.

Azka masuk ke setiap tenda yang masing-masing berbau sama: pandan busuk. Bayangan ibunya di tenda pojok juga seperti penunggang kuda.

Guru itu sedang lihai memberi angka di masing-masing gambar muridnya. Rumah guru itu hanya tersisa bising radio yang mengulang pidato Bung Karno di sebuah sidang, Desember 1965.

Guru itu mengambil gambar Azka yang kertasnya basah dan lengket. Kertas itu masih saja bergambar gunung, hanya saja gunung itu putih sepenuhnya. Ada tenda-tenda, juga cat di gunungnya yang berbau pandan busuk.

Penghuni bumi Kediri. Calon mahasiswa Universitas Islam. Umurnya 17 tahun tapi pasrah saja dibilang Gen-Z. Tidak berstatus, tidak tahu golongan darah, bermimpi menjadi Seno Gumira Ajidarma. Instagram @naskahsenja64_

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!