Pedihnya Jadi Barista di Indonesia: Sudahlah Dibayar Murah, Diremehkan Pula!

Masalah industri kopi Indonesia bukan cuma soal rasa, origin, atau estetika kedai. Masalahnya bukan cuma sekedar membuat orang tua  menangis, saat kita kuliah tinggi-tinggi di jurusan sastra nuklir, tahunya malah kerja jadi barista di kafe Kakanda; melainkan lebih pedih dari itu.

Di saat pasar makanan-minuman terus membesar, posisi barista justru sering ditempatkan sebagai pekerja murah yang harus serba bisa, tetapi tidak dibayar setara dengan tuntutan kerjanya. BPS mencatat industri f & b di Indonesia mencapai 4,85 juta usaha pada 2023. Naik sekitar 21,13 persen dibanding 2016.

Di saat yang sama, laporan USDA menempatkan proyeksi produksi kopi Indonesia 2025/26 di kisaran 11,3 sampai 12,5 juta bag, dengan konsumsi domestik sekitar 4,8 juta bag.

Artinya, pasar kopi membesar, suplai besar, konsumsi ada, dan ekosistemnya hidup. Artinya secara industri perkopian ini sudah terangkat.

Tetapi pertanyaan dasarnya tetap sama sejak lama: apakah pekerja di balik secangkir kopi ikut terangkat?

Mengurai masalah utama dunia perkopian

Angka gaji publik yang paling mudah dilacak saat ini datang dari platform pasar kerja. Jobstreet menulis gaji perbulan barista nasional ada di kisaran Rp2,75 juta–Rp3,55 juta per bulan, sementara Indeed  Rp3.806.544 per 8 Maret 2026.

Memang lebih besar dari gaji guru honorer. Tapi kami juga kerja sampai keringat ke pantat-pantat, dari pagi buta sampai malam gulita, dan sering double job. Bahkan kami juga kadang mesti ikut menggoreng kentang di kitchen sekaligus memarkir motor pelanggan. Atau kalau kebetulan dapat bos yang agak keterluan, kami juga disuruh ngurus medsos. Ajegile!

Ini juga berlaku di seipa daerah. Misalnya untuk kota yang dianggap “pusat coffee culture” seperti Bandung dan Jakarta, rupanya juga tidak impresif. Jobstreet sebut Rp3,04 juta–Rp4 juta untuk Jakarta Selatan, dan Rp2,75 juta–Rp3 juta untuk Bandung. Indeed sendiri menyebut rata-rata Bali di Rp4.123.134 per bulan.

Meski angka-angka ini adalah kiraan pasar dari agregator lowongan kerja, alih-alih sensus resmi nasional, namun tetap saja ini bisa memberi gambaran kasar tentang bagaimana pasar menilai kerja barista hari ini. Jelas tidak semenggembirakan industrinya.

Belum lagi jika angka-angka itu tadi dibandingkan dengan upah minimum resmi, maka problemnya akan makin terlihat.

Misalnya UMP DKI Jakarta tahun 2026 ditetapkan Rp5.729.876, sementara UMK Kota Bandung 2026 ditetapkan Rp4.737.678. Jadi, kisaran gaji barista publik di Jakarta Selatan dan Bandung rupanya masih berada jauh di bawah nominal upah resmi wilayah tersebut. Meski di Bali rata-ratanya memang berada di atas UMP Bali 2026 yang sebesar Rp3.207.459.

Jadi situasinya tidak seragam di semua daerah.

Justru di situlah persoalannya: tidak ada standardisasi remunerasi yang sehat. Di satu tempat, barista tampak dibayar di bawah beban hidup kota; di tempat lain, ia sedikit di atas minimum, tetapi tetap jauh dari citra industri kopi yang gemar menjual kualitas, craft, dan pengalaman premium.

Standarisasinya serius, gajinya ha-ha-ha

Pekerjaan barista sebenarnya bukan kerja tanpa standar. Kementerian Ketenagakerjaan memiliki SKKNI Barista UMKM berbasis kompetensi, yang memuat standar pengelolaan area kerja, bahan baku, peralatan, penyeduhan, hingga kalibrasi; bahkan suhu air seduh direkomendasikan di rentang 90,5–96 derajat Celsius dalam batasan variabelnya.

Tukang masak MBG bahkan tidak punya standardisasi serigid itu.

Jadi secara kasat mata negara sendiri mengakui bahwa barista adalah pekerjaan dengan basis keterampilan, prosedur, dan standar teknis yang khusus.

Masalahnya profesi ini bukan karena absennya standar. Masalahnya adalah banyak pelaku usaha menikmati hasil dari kerja yang distandarkan, tetapi tidak mau membayar layak, sebagaimana pekerjaan itu benar-benar butuh kompetensi.

Cara ter-indie menangisi nasib

Pada akhirnya, begitulah Industri kopi Indonesia, yang terlalu sering menjual romantisme senja, komunitas, lifestyle, hospitality, “belajar dari nol” dan entah apa lagi.

Tetapi di balik itu semua, struktur ekonominya berkali-kali menunjukkan logika yang membuat barista meneteskan air mata di sela-sela nyala grindernya.

Mereka yang diuntungkan oleh kopi hanya memandang Barista sebagai satu cell liabilitas di neraca keuangannya. Asal tekan biaya tenaga kerja, cari pekerja yang fleksibel, dan gantikan standar kesejahteraan dengan narasi kecintaan pada kopi.

Memang tidak semua kedai kopi beroperasi seperti ini, namun selama data gaji publik masih serendah itu, sementara pasar kopi terus berkembang dan pekerjaan barista sendiri sudah memiliki kerangka kompetensi formal, maka sulit untuk menyangkal satu hal: banyak barista Indonesia bukan kurang penting, melainkan sengaja dibuat murah.

Sayang sekali, dibalik semua rutinitas kita minum kopi, tersimpan laku industri yang semakin pintar menjual citra, tetapi tak serius menghargai pekerjanya.

Sebab selama pertumbuhan pasar kopi ini tidak diikuti perbaikan upah, pelatihan, dan pengakuan kompetensi, “coffee culture” akan terus terdengar indah di depan, seperti semburat jingga saat kita menikmati kopi di senja hari, tapi menyisakan isak tangis orang-orang di belakang meja bar.

Ya Allah, kenapa aku jadi anak Indie? Sambil meratap dan terisak-isak saat kafe terpaksa buka lebih lama karena makin malam pengunjung makin ramai dan tak kunjung pulang.

 

 

Sumber Bacaan:

Badan Pusat Statistik Indonesia

Jobstreet Indonesia

JDIH – Jakarta

Badan Pusat Statistik Indonesia

jdih.kemnaker.go.id

apps.fas.usda.gov

Author

  • Zaky Satria

    Mahasiswa Ilmu Komunikasi UNAND, mengawali kuliah dengan fokus di dunia kopi sebelum beralih menjadi aktif di berbagai forum internasional dan organisasi lintas negara. Kini ia bergerak di bidang komunikasi, lingkungan, dan gerakan mahasiswa, dengan tulisan yang lahir dari pengalaman dan keresahan atas isu-isu kompleks. Merdeka, jaya, menang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
casibom | parmabet | roketbet | jojobet | jojobet giriş | bets10 | bets10 |